web analytics
  

Film dari 6 Sutradara Ini Bisa Bikin Adrenalin Naik di Akhir Pekan

Jumat, 19 Januari 2018 11:50 WIB Asri Wuni Wulandari
Umum - Internasional, Film dari 6 Sutradara Ini Bisa Bikin Adrenalin Naik di Akhir Pekan, film berunsur kekerasan, film kekerasan, rekomendasi film akhir pekan, film memacu adrenalin, sutradara film kekerasan

Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

TURANGGA, AYOBANDUNG.COM – Barangkali saja ada di antara kamu yang bosan dengan rutinitas sehari-hari yang gitu-gitu aja dan ingin mencari sedikit adrenalin di akhir pekan, mungkin menonton film-film berunsur kekerasan bisa kamu coba.

Sedikit bikin akhir pekanmu berkeringat dan dilingkupi rasa ngeri, boleh juga dicoba. Toh, enggak semua film itu semata-mata berbicara soal kekerasan saja.

Ada beberapa sutradara yang dikenal kerap menggunakan adegan kekerasan dalam filmnya. Apakah itu tembakan, pemukulan, atau lain-lain. Para sutradara itu senang menampilkan karakter yang kejam, hingga beberapa orang begitu mencintainya dan membuat mereka terus menghasilkan karya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, tidak semua sutradara itu hanya mengeksploitasi kekerasan. Mereka menggunakan unsur kekerasan untuk memberikan efek yang kuat dan membangkitkan penonton. Bahkan, beberapa dari mereka membuat unsur kekerasan itu jadi estetis.

Diambil dari Taste of Cinema, berikut 6 sutradara yang terobsesi dengan adegan kekerasan tapi tidak pernah gagal untuk membuatnya mengesankan.

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/NUve430f63s" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Alfred Hitchcock

Nama ini tentu sudah sangat dikenal. Keberaniannya mendorong batas-batas film Hollywood pada masanya membuat nama Alfred Hitchcock masuk dalam daftar ini.

Alfred Hitchcock adalah seorang sutradara yang rumit, penuh dengan rasa tidak aman, dan masalah tanpa harapan. Karena itu, tak heran jika ia menyalurkan kepribadiannya melalui film-filmnya. Rajin memproduksi film bergenre thriller, menjadikan kekerasan, bagi Hitchcock, seperti komponen yang alami.

Tengok saja film Pshyco (1960). Bukan hanya kekerasan dalam bentuk visual, tapi ia juga menarik cerita untuk membuat penonton bersimpati dengan si tokoh jahat.

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/qo5jJpHtI1Y" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Martin Scorsese

Meski Martin Scorsese telah menghasilkan film berbagai genre, tapi ia juga masuk salah satu sutradara yang punya obsesi dengan unsur kekerasan. Godfellas (1990) dan Taxi Driver (1976) cukup menampilkan banyak kekerasan.

Dalam film-filmnya, ia memamerkan adegan kekerasan secara eksplisit tapi dengan pendekatan artistik dan menciptakan reaksi yang mengganggu.

Kekerasan menjadi sesuatu yang dipahami Scorsese, yang ia coba gambarkan dengan cara yang tidak dibesar-besarkan.

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/vayksn4Y93A" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Quentin Tarantino

Jika ada yang tidak menyesal karena mengisi filmnya dengan kekerasan, maka itu adalah Quentin Tarantino. Meski ia pernah berkomentar bahwa ia tak setuju dengan kekerasan di dunia nyata, Tarantino sangat menikmati untuk memasukkannya ke dalam cerita. Ia selalu memanfaatkan adegan kekerasan itu dengan sebaik-baiknya.

Dari adegan penyiksaan yang terkenal dalam film Reservoir Dogs (1992) hingga pertempuran di Kill Bill Vol.1 (2001), Tarantino terus memperbaiki visual-visual gore yang dihadirkannya.

Namun, kekerasan yang dihadirkan Tarantito selalu punya tujuan untuk karakter dan alur cerita.

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/2HkjrJ6IK5E" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Park Chan-Wook

Park Chan-Wook adalah salah satu tokoh visioner dari Korea Selatan. Ia menggunakan gaya briliannya untuk menggambarkan kekerasan.

Apa yang ditunjukkan oleh kekerasan ala Chan-Wook itu penuh makna untuk film dan karakternya. Kekerasan selalu muncul dalam bentuk emosi kuat yang terjalin antara karakter-karakternya, entah itu kemarahan atau kecemburuan. Tengok saja film Oldboy (2003) yang berujung pada rasa haru.

Chan-Wook tak pernah takut untuk menghadapi komentar penonton yang bikin tidak nyaman. Lagipula, katanya, bukankah film itu memang tentang respons emosional?

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/SPRzm8ibDQ8" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Stanley Kubrick

Dari karya klasik 2001 : A Space Odyssey (1968) hingga The Shining (1980), ada satu ciri umum yang ditemukan dalam film-film Stanley Kubrick : kekerasan. Namun, seperti sutradara lainnya, ia tak hanya menghadirkan visual-visual kekerasan yang menyeramkan, tapi lebih kepada cerita dengan efek yang mengejutkan.

Kubrick terkenal karena ia selalu berkomentar secara bijaksana terhadap masyarakat. Ia selalu memberikan alasan manusiawi (bahkan dalam kasus karakter HAL dalam Space Odyssey).

Film paling kejam yang pernah dihasilkan Kubrick adalah A Clockwork Orange (1971), yang menggambarkan kekerasan dengan ekstrem di era 1970an yang menurutnya, hal itu menunjukkan kondisi di Inggris saat itu.

 

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/5_ZtfuvxpEw" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>

# Michael Haneke

Michael Haneke senang memilih jenis kekerasan yang berbeda. Haneke memang bergairah soal kekerasan dalam film, terutama mengenai penggunaannya.

Haneke lebih menyukai pendekatan yang lebih filosofis. Menurutnya, mengeksplorasi kekerasan tidak hanya melalui pertumpahan darah, melainkan sebagai benang dominan yang menyatukan semua adegan dalam filmnya.

Alih-alih kekerasan fisik, Haneke lebih memilih berfokus pada kekerasan pikiran dan jiwa yang membuatmu sama takutnya dengan kekerasan fisik. Tengok saja film Cache (2005), sebuah drama psikologis yang mengikuti keluarga kelas menengah Paris yang diteror oleh satu set rekaman anonym yang menyinggung masa kecil sang suami.

 

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers