web analytics
  

Gang Aljabri dan Sejarah Narkoba Bandung Tempo Dulu

Kamis, 4 Januari 2018 18:53 WIB Arie Widiarto

Gang Aljabri merupakan lokalisasi para pecandu yang ingin melampiaskan hasrat mabuk bukan kepayang. Pecandu di dominasi oleh para tetua dari masyarakat etnis Tionghoa yang bahkan tidak lahir di Indonesia. Kawasan tersebut populer pada dekade 1920. (ist)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sekitar tahun 1970, Rumah Sakit Immanuel Bandung kedatangan banyak pasien tua etnis Tionghoa. Bibirnya biru dengan tubuh kurus kering menonjolkan tulang. Mereka bukan korban kerja tanam paksa. Bukan juga korban kelaparan krisis pangan. Melainkan para pecandu madat atau opium.
 
Bergeser sejenak ke tahun yang lebih lampau ketika banyak saudagar Cina daratan melakukan perjalanan dagang ke tanah Jawa. Hingga kini tidak ada catatan eksplisit yang menjelaskan mengenai waktu ekspansi bisnis tersebut. Namun dipercaya bahwa kedatangan para pedagang Tiongkok dibarengi dengan perkenalan pada tradisi penggunaan opium. 
 
Popularitas opium semakin dikenal setelah Belanda menginjakan kakinya di bumi nusantara pada abad 17. Ketika itu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil mengalahkan Inggris dalam persaingan merebut pasar opium di Jawa.
 
Bahkan beberapa raja di Jawa dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang berisi pemberian hak monopoli kepada Belanda terkait perdagangan opium, salah satunya adalah Kerajaan Mataram dan Cirebon. Tujuannya tentu untuk meraup keuntungan material yang disalurkan ke kas negara.
 
"Peredaran atau perdagangan candu (opium) di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kegiatan politik kolonial," ujar pegiat sejarah aleut Irfan Teguh kepada ayobandung, Kamis (4/1/2018).
 
Sejak saat itu, penggunaan opium mulai menjangkit kehidupan masyarakat di Pulau Jawa, tidak terkecuali Kota Bandung. Opium mampu memberikan corak pada gaya hidup yang tengah berkembang ketika itu, tanpa memandang derajat maupun status sosial. 
 
Bahkan opium dipandang sebagai wujud keramahan yang santun. Menjadi hidangan penutup di pesta kalangan atas Bumiputra hingga jamuan makan malam para menir Belanda.
 
Kembali ke Rumah Sakit Immanuel. Para pasien candu tidak datang dari banyak tempat. Mereka hanya berasal dari satu kawasan pemukiman padat penduduk bernama Gang aljabri yang berlokasi di dekat Jalan Alkateri Bandung.
 
Gang aljabri merupakan lokalisasi para pecandu yang ingin melampiaskan hasrat mabuk bukan kepayang. Pecandu di dominasi oleh para tetua dari masyarakat etnis Tionghoa yang bahkan tidak lahir di Indonesia. Kawasan tersebut populer pada dekade 1920.
 
Wajar karena di negeri Tirai Bambu, penggunaan opium hadir layaknya tradisi turun menurun. Soal bentuk, opium yang dipakai mirip seperti dodol. Namun Belanda memperkenalkan opium dalam bentuk rokok. 
 
"Masyarakat Cina daratan sudah terbiasa candu sejak masih berada di negaranya. Itu budaya. Maka aktivitas di Gang aljabri jadi legal. Konsep lokalisasi akan memudahkan dalam pengelolaan sehingga tidak menyebar," ujar Irfan Teguh.
 
Menurut Irfan Teguh, sesuai penjelasan dalam buku berjudul Basa Bandung Halimunan karangan Us Tiarsa, disebutkan bahwa dulu para orang tua kerap melarang anak kecil untuk bermain dan mendekati Gang aljabri. Terlebih dulu, di sekitar Gang aljabri memang selalu berjaga sejumlah petugas kepolisian. 
 
"Sekitar tahun 1970 Gang aljabri ditutup. Kini peranakan etnis Tiongkok di Gang aljabri tidak lagi mengonsumsi opium. Alat yang dulu biasa digunakan untuk candu, kini jadi perhiasan barang antik, dipajang di rumah," ujar Irfan Teguh.
 
Kini masyarakat keturunan etnis Tionghoa nyaris tidak dapat lagi dijumpai di Gang aljabri. Populasinya berganti dan diisi oleh masyarakat pribumi. Namun kisah candu tempo dulu masih membekas dan dikisahkan turun menurun.
 
"Sekarang warga etnis Tionghoa sudah nyaris semuanya pindah. Kalau dulu, ada riwayat seorang Tionghoa mualaf yang masih suka candu. Kenapa? Lagi-lagi karena itu budaya," ujar Irawan, salah satu warga Gang aljabri.
Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers