web analytics
  

Bapak Ini Mengolah Air Hujan Jadi Air Layak Minum

Senin, 4 Desember 2017 11:19 WIB Ananda Muhammad Firdaus
Bandung Raya - Bandung, Bapak Ini Mengolah Air Hujan Jadi Air Layak Minum, pengolahan air hujan, air hujan jadi air minum, simon sanjaya, alat pengolahan air hujan

Pengolah air hujan menjadi air bersih, Simon Y Sunjaya. (AyoBandung/Ananda Firdaus)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Seorang warga asal Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir, Simon Y. Sanjaya berhasil menemukan alat pengolah air hujan menjadi air layak minum yang efisien juga ramah lingkungan. 

Alat yang belum diberi hak paten tersebut telah ia buat sekitar lima tahun yang lalu. Ia beralasan, pembuatan alat itu dilakukan karena air di daerah asalnya terindikasi kurang baik karena mengandung unsur zat besi. 

"Udah gitu kebutuhan di rumah saya banyak, anak istri karena air sumurnya jelek, jadi kaya sikat gigi dan kebutuhan lain pakai air isi ulang. Jadi saya berpikir coba aja air hujan, karena lebih efisien," ujar Simon ditemui dalam acara PDAM Tirtawening di Prime Park Hotel Bandung, Senin (4/12/2017). 

Simom berujar, pemanfaatan air hasil olahannya tidak banyak dikenal oleh masyarakat. Bahkan baru tahun ini dirinya kerap dikunjungi karena penemuannya tersebut, termasuk pihak PDAM Tirtawening. 

Terkait kandungan air hasil olahan alatnya, ia menuturkan, zat keasaman (pH) airnya telah teruji oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Adapun pH yang dianjurkan pada air layak minum berkisar pada angka 6,5 sampai 8,5, sementara air olahan alatnya sekitar pH 7.

Yang menarik, perangkat pengolahnya terbilang sederhana. Dengan biaya sekitar Rp 1,5 juta, alat pengolah hanya membutuhkan nano filter 0,1 mikron untuk membunuh bakteri awal, lalu disempurnakan oleh ultra violet. 

"Jadi dengan nano filter ini bakteri bisa tersaring, tapi spora bakteri dan virus masih lolos makanya ada ultra violet, sehingga hasilnya air sudah bisa langsung diminum, tanpa dimasak," kata dia. Sementara proses mengolah hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit.

Pemanfaatan untuk Musim Kemarau

Simon pun mengungkapkan, atas hasil temuannya, ketika masuk musim kemarau, rumahnya tidak kekurangan air bersih. Ia sengaja membuat penadah air hujan untuk ditampung guna kebutuhan tersebut. Sementara untuk menjaga kualitas air hujan, maka wadah penampung air mesti tertutup menghindari polusi udara.

"Memanen (menampung) air hujan juga ada caranya. Jadi awal hujan sekitar 10 menit pertama airnya harus dibuang karena banyak mengandung polutan debu, terus zat asam dari kendaraan yang mengandung SO3, nah itu bereaksi dengan air H2O menghasilkan H2SO4, itu memang tidak banyak jumlahnya tapi bisa menurunkan pH dari 7 ke 6," terangnya.

Kemudian, lanjut Simon, pemanfaatan air hujan untuk musim kemarau memang dirasa penting. Ia mengambil contoh, bila curah hujan di Kota Jedah, Arab, pertahunnya hanya menghasilkan 5 milimeter air, sementara Indonesia 2000-3000 milimeter air pertahunnya sehingga sayang bila tidak dimanfaatkan. 

"Dulu kalau waktu kemarau air gampang abis. Tapi semenjak memakai air hujan yang ditampung, jadi selama kemarau sumur saya ada terus airnya dan lebih bening. Ukuran air hujan Indonesia juga masih bagus, terbukti hasil uji laboratorium pH air hujannya 7,34," tambahnya. 

Saat ini ia diberdayakan kedalam Lembaga Masyarakat Ciroyom dan Pusyantek Kecamatan Andir menjadi anggota Seksi Lingkungan Hidup dan Seksi Pengembangan Teknologi.  

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers