web analytics
  

Pasar Baru Alami Penurunan Pengunjung

Jumat, 10 November 2017 10:56 WIB Ananda Muhammad Firdaus
Bandung Raya - Bandung, Pasar Baru Alami Penurunan Pengunjung, pasar baru, pengunjung, omzet, menurun

Pasar Baru Bandung. (misterbandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Bisnis retail pada beberapa tahun terakhir mengalami penurunan di sejumlah daerah. Termasuk di Kota Bandung, seperti pada pusat perbelanjaan Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung. 

"Tahun ini memang kerasa sepi. Penurunan udah kerasa dari sebelumnya juga," ujar Robby Sutisna, salah seorang penjual busana muslim pasar baru, Kamis (9/11/2017).

Ia mengaku penurunan pengunjung tersebut berdampak pada omzet perharinya. Menurutnya, siklus barang-barang busana muslim ramai terjual hanya untuk waktu-waktu tertentu.

"Ramainya pas lebaran, tapi kalau hari biasa paling hari Sabtu dan Minggu. Kalau sepi seharinya omzet cuma dapet Rp.300.000-Rp.500.000," kata dia. 

Menurut Ronny, penurunan pengunjung tersebut adalah wajar. Pasalnya pasar baru selain mayoritas memasarkan produk kain tekstil meteran, penjual busana muslim pun banyak mudah ditemui setiap lantainya. "Banyak usahanya sama, jadi ngaruh juga," jelas dia.

Begitu juga yang dituturkan Abdul Rojak, penjual clothing. Dari waktu ke waktu penurunan sangat terasa olehnya. Ia yang telah berjualan selama enam tahun disana mengaku, bila penurunan bisa terjadi akibat daya beli masyarakat memang sedang kurang. 

Tambah dia, apalagi hari ini usaha pakaian clothing banyak beralih pada e-commerce yang meradang beberapa tahun ini sehingga lambat laun tingkat pengunjung dan omzetnya menurun. Perharinya ia pun hanya bisa mengantongi kurang dari Rp500.000, 

"Pertama kali saya disini banyak pengunjung, tapi tiap tahunnya ada aja penurunan. Sama kalau sekarang kan banyak online shop, itu juga ngaruh ke clothing, soalnya lebih praktis," katanya.

Senior Supervisor Pasar Baru, Adolf Wuwungan, mencermati tentang kabar perlambatan bisnis retail yang menjadi isu nasional. Menurutnya di Kota Bandung hal itu tidak terlalu terasa karena iklim bisnis yang berbeda, seperti pada Pasar Baru yang pihaknya kelola. 

Beredarnya kabar bahwa sejumlah unit kios yang tutup jadi indikasi perlambatan bisnis retail Pasar Baru, menurut dia, hal itu bukan sebab utama. Adapun, katanya, memang proses peralihan kontrak dari kios-kios terhitung cepat.

"Di setiap pusat perbelanjaan kios ada yang tutup pasti begitu, tapi di kita lebih banyak karena peralihan kontrak. Jadi kios-kios itu milik pedagang, jadi proses peralihan sewanya  cepet, atau kosong karena direnovasi pemiliknya"  kata Adolf ditemui di kantornya. 

Dari tahun 2003 silam, pihaknya hanya bertugas untuk mengelola sekitar 4000 unit kios yang seluruhnya telah dibeli. Pihaknya selama ini hanya melayani perihal manajemen pasar agar lebih terurus berikut membantu sisi promosi untuk masyarakat. 

"Dari pengelola gedung lebih mementingkan banyaknya pengunjung. Jadi istilahnya kita hanya meramaikan area, misal lewat media untuk mengenalkan pasar kita," kata dia.

Lanjutnya, bila dibandingkan dengan pusat perbelanjaan yang lain, Pasar Baru dianggap lebih stabil. Disamping karena upaya pihaknya yang terus menggencarkan pelayanan, pusat belanja ini telah digandrungi masyarakat sejak lama.

"Kalau dibandingkan dengan pusat belanja lain di Bandung, Pasar Baru lebih ramai karena kita menjaga keberlangsungan para pedagang ini dengan mengadirkan pengunjung. Dan ini juga sebagai trade market pasar tertua di Kota Bandung, ya mau gak mau orang-orang udah banyak jadi pelanggan disini," tambahnya. 
 

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers