web analytics
  

Gen Z dan Paket Lengkap Turisme Fotografi

Kamis, 9 November 2017 17:47 WIB Asri Wuni Wulandari
Umum - Nasional, Gen Z dan Paket Lengkap Turisme Fotografi, generasi z, gen z, teori generasi, teori gap generasi, generasi teranyar, kidz zaman now, turisme fotografi, budaya vakansi kekinian, vakansi kekinian, anak muda, budaya traveling anak muda

Ilustrasi. (AyoBandung/Fathin Arif)

 

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kini, kegalauan yang disebabkan oleh tak tersedianya slot waktu untuk bervakansi mengalami peningkatan. Penyakit galau kronis jenis itu kian mewabah. Sebab vakansi bukan lagi masuk kategori kebutuhan sekunder, tapi tersier.

Memang, premis itu tak bisa dipukul rata begitu saja. Pasalnya, intensitas bervakansi bagi setiap orang tentu berbeda-beda. Namun nyatanya, bagi sebagian orang, membayangkan hidup tanpa satu kunjungan pun dalam satu bulan adalah nestapa.

Kebiasaan ini juga muncul beriringan dengan tren turisme foto yang secara umum merujuk pada aktivitas bervakansi untuk sekadar mengabadikan momen dan panorama objek-objek yang aduhai. Turisme foto ini, disadari atau tidak, telah menggeser dan mengeksplorasi paradigma wisata yang tidak saja bertujuan menikmati suasana.

Tren ini juga secara masif mewabah dan menjadikan kalangan anak-anak muda sebagai pelaku utamanya. Esa Dewi, yang baru dua bulan menjadi pekerja administrasi salah satu perusahaan di Bogor merupakan salah satu contohnya. Esa yang merupakan penghobi fotografi dan traveling ini, selalu mengalokasikan waktu di tengah kesibukannya untuk melakukan aktivitas turisme foto.

Esa terbilang cukup intens menggeluti aktivitas kesukaannya ini. Dia rutin menjelajah objek-objek wisata baru saban dua atau tiga kali dalam sebulan. Saat masa kuliah, Esa bahkan kerap melancong tiap pekan. Hingga saat ini, tak terhitung telah berapa puluh kali ia bervakansi dan berburu foto.

Ia bisa dikatakan sebagai pemain baru dalam tren yang memang tengah naik daun ini. Baru satu tahun belakangan ia rajin melakukan kunjungan untuk berburu foto. Sebelumnya, Esa cuma pelaku pasif.

Ada banyak faktor yang mendorong Esa menggemari hobinya ini. Banyaknya objek vakansi asyik dan instagramable di Bogor yang baru diketahui Esa saat masa kuliah semester akhir, menjadi salah satu faktor. Pendorong lainnya, lingkungan pergaulan dan media sosial yang tak kalah masif mempromosikan tren ini.

Dengan usia yang masih menginjak 22 tahun, Esa termasuk ke dalam kategori Generasi Z yang lahir dalam rentang 1995-2010. Walau merupakan Gen Z gelombang paling awal, bahkan transisi, kondisi ini tak mengubah kenyataan bahwa Esa memang bagian dari generasi muda yang begitu intens bersentuhan dan terpengaruh medsos.

Sebuah survei yang dilakukan Expedia sepanjang 30 Maret-7 April 2017 menyebut jika 46% Gen Z memilih objek vakansi lantaran terpengaruh unggahan foto kawan-kawan di medsos. Persentase ini merupakan yang terbanyak dibanding kelompok lain, berbanding 46% Gen Y, 43% Gen X, dan 29% Baby Boomers.

Survei yang dilakukan kepada 3.003 responden di Inggris, Prancis, dan Jerman ini juga mengajukan opsi 10 aktivitas paling tinggi saat bervakansi kepada seluruh responden. Hasilnya, responden Gen Z menempati urutan teratas di dua opsi yang berkaitan dengan kegiatan foto saat bervakansi.

Keranjingan mengabadikan momen ini di sisi lain membuat kebanyakan Gen Z malah tak peduli dan urung menikmati momen vakansi yang serba memanjakan. Soal pilihan menikmati suasana manja ini, Gen Z berada pada lipatan paling bawah. Nyatanya, cara menikmati vakansi tradisional ini lebih banyak dipilih oleh generasi-generasi sebelumnya.

Serupa dengan hasil survei, gejala yang ditunjukkan Esa juga amat tipikal. Ia mengaku jika kegiatan fotografi ini merupakan salah satu aktivitas yang paling digemarinya saat traveling. Selain mengambil foto, Esa mengaku sebagian waktu lainnya dihabiskan untuk menikmati suasana dengan kawan-kawannya.

Foto-foto hasil jepretan saat vakansi tersebut lantas diunggah ke kanal medsos Instagram pribadinya. Momen-momen liburan yang diabadikan ini menghiasi tampilan muka akun Instagram Esa. Sebagian besar foto Instagram Esa berisi foto-foto liburan di objek wisata yang instagramable.

Hasil jepretan Esa dan kawan-kawannya ini juga tak asal-asalan. Tampakan foto-foto tersebut rapi dan bisa dinikmati, mengesankan tangan-tangan profesional yang bekerja di baliknya. Tentu saja jepretan-jepretan ciamik ini tak dihasilkan secara kebetulan, ada proses dan rentang waktu panjang yang dilalui.

Di awal-awal, Esa mengaku sempat kesulitan mengatur teknik pengambilan gambar yang bagus. Ia sampai harus memotret setidaknya 10 kali sebelum mendapat gambar yang memuaskan. Lama-kelamaan, ia mulai terbiasa. Kini, ia cuma butuh tiga sampai lima jepretan saja untuk menghasilkan sebiji gambar yang berkualitas.

Tak cuma skill yang terlatih seiring bertambahnya jam terbang. Perlengkapan tempur juga menjadi bekal yang tak kalah penting. Untuk mengekspresikan hobinya itu, Esa menggunakan kamera mirrorless dan sebiji action camera. Esa bahkan tengah menabung untuk membeli lensa tambahan guna melengkapi alat tempurnya.

Hasil-hasil jepretan saat bervakansi ini menjadi kenangan manis yang ia tinggalkan di medsos. Lewat unggahan di medsos, Esa yang getol bersafari wisata keliling Bogor ini punya keinginan untuk membagikan momen dan pemandangan indah yang ia abadikan kepada kawan-kawannya.

AYO BACA : Gen Z: Jadi Gamer untuk Mencari Uang

"Memang tidak saya pungkiri pasti saya upload ke semua medsos yang saya punya," kata Esa.

Kegemaran Esa untuk selalu mengunggah apa-apa yang ditangkapnya saat bervakansi ini betul-betul mirip dengan premis Gen Z sebagai anak kandung digital. Senantiasa berbagi dan mencari informasi melalui pelbagai platform medsos.

Adiksi manusia-manusia Gen Z pada medsos ini pada akhirnya bikin mereka kelewat kompetitif, kreatif, dan punya rasa ingin tahu yang besar. “Dengan mudahnya akses ke media sosial, mereka jadi lebih aktif berkreasi dan melakukan banyak hal,” ujar Psikolog Universitas Indonesia, Ratih Zulhaqqi. Bahkan, salutnya, kreativitas Gen Z ini terkadang muncul tanpa batas.

Menyambung soal turisme fotografi ini misalnya. Tengok saja foto-foto yang diunggah Esa dalam akun Instagramnya. Dalam salah satu fotonya, Esa menampilkan foto dirinya tengah berdiri di ujung perahu kayu yang seolah-olah berlayar di tengah lautan pepohonan. Di sana, bahkan Esa tampil berselimutkan kain tenun Sumba, yang barangkali sengaja dibawanya demi sebuah sesi pemotretan untuk Instagram.

Kreativitas yang ujuk-ujuk bermunculan ini memang jadi sisi positifnya. Namun bukan berarti Gen Z hadir tanpa kelemahan. Ratih menilai salah satu kelemahannya adalah ketergantungan yang kuat pada teknologi, khususnya medsos. “Kebutuhan mereka itu biasanya didapat melalui teknologi. Apa-apa buka internet,” katanya.

Tak ada yang salah dari ketergantungan Gen Z terhadap teknologi serupa medsos. Sebab nyatanya pola pengaruh-memengaruhi di medsos ini tengah berkembang belakangan, terkhusus dalam urusan berlibur. Elaine Clara Mah, penulis dalam kelompok BookYogaRetreats dalam catatan blognya di Huffington Post membagikan hasil survei kelompoknya soal penggunaan medsos dalam bervakansi.

Survei terhadap 300 responden menyebut jika 80% traveler selalu menggunakan medsos saat bervakansi. Berbagai platform medsos macam Facebook, Instagram, Twitter, Vine, Snapchat, dan Periscope difungsikan dengan berbagai cara. Termasuk untuk mengunggah foto-foto traveling, yang ujung-ujungnya berperan dalam memengaruhi individu lain dalam berlibur.

Sah-sah saja, bukan? Toh, Esa punya alasan mulia atas kegemarannya mengunggah foto-foto ciamik di berbagai akun medsosnya. “Karena semua orang harus tahu di Bogor ada lokasi wisata yang spot-spot nya bagus, cantik, dan indah,” ujarnya.

Esa juga mengaku jika faktor medsos cukup memengaruhi hobi dan pilihan traveling yang ia jalani. Selain medsos, faktor yang berpengaruh besar lainnya adalah lingkungan pergaulannya. Berbagai pertimbangan lain yang menentukan pilihan vakansi Esa adalah jarak tempuh dan harga tiket masuk objek wisata.

Tantangan medan perjalanan yang tak jarang terjal juga masuk hitungan pertimbangan. Namun, jika tempatnya bagus dan terjangkau, Esa tak segan mendatanginya.

"Kalau Esa, sih, gak mempermasalahkan itu. Iya, sih, capek ada juga, kan, yang jalannya jelek. Tapi kalau udah sampe ke tempat tujuan, semua itu terasa ilang aja. Puas, lah, gitu."

Esa tak tahu sampai kapan ia akan terus menggeluti aktivitas ini. Namun yang pasti, ia tengah menikmati masa-masa indah dengan hobinya tersebut. Ia juga tak mempersoalkan jika ada pandangan-pandangan yang menganggap turisme foto yang digelutinya sebagai aktivitas kontraproduktif, artifisial, dan membebek tren.

Lagipula, seperti yang dikatakan Ratih jika anak-anak muda sekarang – salah satunya Gen Z – punya kecenderungan untuk menjadi social climber sejati. Di usianya yang masih gemilang, rasanya wajar jika Esa punya keinginan untuk unjuk gigi pada dunia soal hobi dan kreativitasnya itu.

Esa mengaku tak terganggu sama sekali dengan opini-opini negatif dan lebih memilih cuek sambil berlalu. "Karena itu hobi saya," katanya. "Pernah ada yang bilang juga buat apa sih kaya gitu, gak penting, buang-buang uang aja. Tapi saya tidak menanggapi itu, sih.”

Dan juga, siapa pula yang tak pernah membebek tren?

(Hengky Sulaksono/Eneng Reni)

*** Redaksi akan mengulas lebih dalam soal Generasi Z. Simak terus laporannya dari berbagai lini untuk memudahkan pembaca atau stakeholder lainnya memahami segala sesuatu mengenai Generasi Z hingga transisi ke Generasi Alfa. ***

 

AYO BACA : Gen Z: Enggan Bekerja, tapi Calon Penguasa Dunia

Editor: Asri Wuni Wulandari

artikel terkait

dewanpers