web analytics
  

Gen Z: Jadi Gamer untuk Mencari Uang

Senin, 6 November 2017 13:50 WIB Anggun Nindita Kenanga Putri
Bandung Raya - Bandung, Gen Z: Jadi Gamer untuk Mencari Uang, generasi z,gen z,generasi z gamer,gen z berbelanja,perilaku generasi z,game gen z,gamer,game online

Immortal E-Sport I Cafe salah satu tempat bagi gamer berkumpul.(AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Pernah mendengar soal teori generasi? Sampai sekarang di dunia ini sudah memiliki lima generasi.

Pertama Generasi Baby Boomers, yang lahir pada 1946-1964. Kedua, Generasi X, lahir 1965-1980. Kemudian Generasi Y, lahir 1981-1994. Belum selesai perbincangan soal Generasi Y atau dikenal Generasi milenial, kini mulai ramai membahas Generasi-Z atau Gen Z.

Gen Z lahir pada 1995-2012. Berbagai studi yang dilakukan di dunia menunjukkan karakteristik yang unik dari generasi ini. Boleh dibilang mereka merupakan generasi pertama yang sejak lahir sudah mengenal internet.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang disebut digital immigrant. Gen Z merupakan generasi pertama secara sah dan meyakinkan sebagai digital native, generasi yang sejak lahir sudah menjadi warga dunia.

Konsumsi internet Gen Z lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Hal ini pun mau tidak mau berpengaruh kepada segala aspek kehidupan Gen Z.

Adanya pola perubahan kehidupan pun tidak bisa dipungkiri terjadi pada Gen Z yang kini rata-rata berusia 4-22 tahun. Pada Gen Y, mereka menghabiskan masa kecil atau remaja dengan bermain sambil panas-panasan bersama teman di luar rumah.

Aneka macam permainan tradisional dan modern masih dilakukan Gen Y. Gen Y seakan menjadi "jembatan” masa konvensional dan modernitas.

Didukung kemajuan teknologi, Gen Z cenderung lebih suka menghabiskan waktunya dengan permainan online sebagai salah satu penyaluran hobinya.

Gen Z bisa jadi erat juga kaitannya dengan generasi gamer, di mereka bermain game bukan cuma sekadar hobi. Lebih dari itu, game sudah menjadi salah satu aspek yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.

Apalagi di sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya, banyak terdapat internet cafe (warnet) tempat gamer berkumpul.

Salah satu warnet di wilayah Pasteur Bandung misalnya, para gamer terlihat berkonsentrasi menatap layar PC. Satu dari gamer tersebut bernama Zulfikar Mufti.

Zul, sapaan akrabnya, mengaku mengenal game online semenjak SMP. Tapi mulai keranjingan permainan tersebut ketika SMA.

“Dulu ingat permainan pertama yang saya mainkan di warnet itu adalah Counter Strike (CS) sekitar 2002,” katanya kepada AyoBandung belum lama ini.

Kecintaannya pada game semakin bertambah saat ia berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Kebetulan, Zul mengambil jurusan sistem informasi, yang dekat dengan dunia coding sekaligus bermanfaat dengan hobinya bermain game.

Ketika kuliah, ia mulai menabung untuk membeli laptop yang memiliki spek canggih guna mengakomodir hobinya.

Ia pun tidak segan setelah duitnya terkumpul langsung membeli laptop hingga belasan juta rupiah.

Meski demikian, ia tetap mengandalkan PC di warnet untuk bermain game online.

Ia mengaku bisa seharian di warnet untuk bermain game, apalagi yang buka selama 24 jam. Rekor paling lama, sebut dia, hingga tiga hari. Ia hanya berhenti untuk makan dan tidur sejenak.

AYO BACA : Tantangan Manajer Hadapi Gen Z dalam Dunia Kerja

Apakah Zul merasa lelah lantaran tidak tidur selama beberapa hari? Jawabnya tidak ! Sebab, ia memang mendedikasikan hidupnya untuk bermain game. Melakukan sesuatu yang menjadi suatu kegemarannya, tidak membuatnya merasa lelah sama sekali.

“Main game itu kadang bisa bikin lupa waktu, lupa makan, dan lupa tidur. Tapi karena melakukan sesuatu yang disukai, itu semua enggak akan kerasa,” tuturnya.

Hal lain yang membuat Zul betah berada di warnet bisa bertemu dan berinteraksi dengan sesama gamer. Bukan hanya diskusi soal game, tapi menjadi lawan.

Game untuk Ajang Penghasilan

Berain game saat ini, bukan hanya hobi. Game menjadi salah satu cara untuk mendapatkan duit.

Seorang gamer asal Bandung Muhammad Iqbal Pratama mengaku sudah mendapatkan penghasilan lebih dari cukup dari hobi bermain game.

Berawal dari kegemarannya bermain Dota 2, kini Iqbal sudah malang melintang di beberapa kejuaraan game.

Bahkan, Iqbal pernah mengikuti kejuaraan The International Dota 2 padat 2015. Meski gagal menang, ia tetap mendapatkan penghasilan dari hobinya itu.

Ia mengaku, gaji per bulan dari bermain game mencapai Rp4 juta-Rp10 juta.

“Serius di bidang game itu enggak mudah. Kita harus punya komitmen. Sama saja seperti melakukan pekerjaan yang lain,” katanya.

Iqbal memang memiliki sebuah tim yang mengaturnya untuk bisa terus maju ke sejumlah kompetisi game. Sehari-hari Iqbal berlatih bermain game hingga level tertinggi.

Selain mendapatkan duit, gamer bisa mendapatkan penghasilan dari jasa joki. Seperti marak saat ini memainkan game Mobile Legend.

Game berbasis mobile ini menjadi favorit karena bisa diakses melalui ponsel pintar.

Joko, sebut saja namanya, admin sebuah akun Instagram jasa joki mengaku bisa mendapatkan penghasilan Rp500.000-Rp1 juta per hari.

“Ada beberapa paket. Paling murah adalah Warrior ke Elite III yang harganya sekitar Rp50.000. Paling mahal Legend V ke Mytic yang hargaya hampir Rp500.000,” ungkapnya.

Perkembangan Game Online Berkembang Pesat

Perkembangan game di Indonesia pun nyatanya berkembang dengan sangat cepat. Ditambah dengan munculnya komunitas-komunitas yang menaungi para gamer tersebut.

Salah satunya adalah United States Audition Revolution Team (US ART). Sebuah komunitas gamer yang memiliki basis sangat besar di Indonesia dengan anggota mencapai 4.000 anggota.

AYO BACA : Menilik Masa Depan Generasi Z yang Serba Digital

Pendiri US ART Dika Murdock mengatakan game online mulai berkembang di Indonesia sejak 2004. “Awalnya ramai game Ragnarok Online,” ujarnya.

Para gamer dari Bandung yang tadinya hanya bermain dengan pemain di warnet yang sama, saat ini bisa terkoneksi tanpa hambatan hingga ke luar negeri.

Ia menyebut beberapa game online yang menjadi favorit Gen Z antara lain Dota 2, Counter Strike 2, dan LOL.

Belakangan, sebut dia, muncul lagi satu game yang tidak kalah popularitasnya yakni Person Unknown Battle Ground (PUBG). Konon, game ini sudah diunduh 2 juta gamer sejak peluncurkan delapan bulan lalu.

Bahkan, PUBG mengalahkan jumlah unduhan game pendahulunya seperti CS 2 dan Dota 2. CS 2 yang sudah terkenal semenjak beberapa tahun lalu masih di angka 600.000.

Hal menarik lainnya, PUBG yang merupakan game berbayar tetap menarik hati para gamer.

“Seperti bermain Tetris, kita pasti akan bisa sampai pada level berikutnya. Tapi kalau sudah ada di level puncak lalu mau apa? Tidak ada lagi yang bisa dicari. Sedangkan seperti PUBG setelah naik level, pastinya akan memacu buat mencari tantangan selanjutnya ada apa lagi,” jelasnya.

Haus akan tantangan sepertinya memang menjadi karakteristik para gamer zaman now! Bukan sekadar ingin cari tantangan. Tapi, mempertajam kemampuan problem solving.

Pengembang Makin Kreatif Sediakan Game Edukatif

Industri game, khususnya di kota Bandung menjadi salah satu yang paling berkembang beberapa tahun terakhir.

Eksekutif Director Asosiasi Game Indonesia (AGI) Adam Ardi Sasmita mengatakan Bandung berpeluang menjadi pusat industri game terbesar di Indonesia.

“Ini didukung dengan kemajuan teknologi di Bandung, sekolah dan perguruan tinggi yang mendukung, sampai berkembangnya komunitas game juga aplikasi,” katanya.

Bandung sendiri memiliki sebuah studio game yang menjadi pionir pengembang game, yakni Agate Studio. Sejak 2009, Agate sudah menelurkan beberapa game yang banyak diunduh oleh masyarakat, seperti Football Saga dan Juragan Terminal.

CPO Agate Studio  Wiradeva Arif mengaku ingin menjadikan Agate Studio sebagai wadah Gen Z yang kreatif untuk bisa menghasilkan karya.

“Intinya kami ingin membuat game yang bisa bikin para pemainnya bahagia. Bukan sekadar game untuk membunuh waktu saja,” ujarnya.

Ia bersama rekannya di Agate Studio konsen untuk terus menyediakan konten permainan menarik. Bukan cuma game kreatif, tapi ingin memberikan game yang edukatif.

Terbukti, dengan peluncuran Sahabat Anak Sholeh. Kini menjadi favorit bagi kalangan orang tua untuk diberikan pada anak-anaknya.

“Sekarang trennya dikenalkan dulu di Youtube. Sambil melihat sambutan dari publik, kami berusaha untuk tetap membenahi game sampai siap diluncurkan,” katanya.

 

Redaksi akan mengulas lebih dalam soal Generasi Z. Simak terus laporannya dari berbagai lini untuk memudahkan pembaca atau stakeholder lainnya memahami segala sesuatu mengenai Generasi Z hingga transisi ke Generasi Alfa.

AYO BACA : Bagaimana Kebiasaan Generasi Z dalam Berbelanja?

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers