web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Sariban dari Gelandangan Hingga Nekat Nyagub

Selasa, 12 September 2017 14:41 WIB Andres Fatubun

Sariban.

Pria tua bertopi caping, berseragam kuning dengan sepeda tuanya ini berkeliling Kota Bandung selama 30 tahun terakhir membersihkan sampah. Ia pernah jadi gelandangan dan nekat menjadi calon Gubernur Jabar demi menyuarakan hidup bersih.   

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Usianya sudah menginjak 74 tahun, guratan kerut di bagian matanya tertangkap jelas. Tapi nada bicara Sariban masih terdengar lantang dan semangatnya terlihat masih muda.

"Monggo mas, silakan duduk, baru kemarin orang Qatar wawancara saya," katanya menyambutku di rumahnya di kawasan gang sempit Cikondang, Bandung. 

"Orang bule pak?" tanyaku setengah kaget. 

"Iya dari kantor apa gitu, wartawan juga, saya lupa namanya," jawabnya sambil berusaha mengingat. 

Setelah membantu mengingatnya dengan menyama-nyamakan bunyi akhir nama kantor yang Sariban maksud, baru ketahuan jika yang datang adalah jurnalis dari kantor berita Al Jazeera.

"Silakan mau tanya apa mas," katanya menantang setelah kami duduk saling berhadapan di ruang tamu. 

Sambil menyilangkan kakinya, Sariban memulai ceritanya. 

Ia mengaku tak pernah mengenal baik wajah kedua orangtuanya yang tewas akibat kerja paksa Romusha. Ayahnya Karyo Kidin meregang nyawa karena kelaparan dan kelelahan menggali gua di kawasan Sarangan. Sementara ibunya, Sainah, menyusul beberapa tahun kemudian setelah batinnya tersiksa ditinggal suaminya. 

"Jadi umur 5 tahun itu saya yatim piatu, saya tak ingat benar wajah dan kenangan saya sama orangtua. Kakak perempuan pertama yang mengurus saya selanjutnya," kenang Sariban yang merupakan bungsu dari lima barsaudara dan lelaki satu-satunya. 

Bersama kakaknya, mereka tinggal dalam rumah kayu dan diwarisi ratusan meter luas tegalan yang kering kerontang. Hidup dengan mengandalkan hasil ladang seperti jagung dan umbi-umbian, Sariban mampu melewati zaman paceklik yang melanda sebagai besar wilayahnya kala itu.

Setelah menamatkan Sekolah Rakyat tahun 1957, Sariban melanjutkan sekolahnya di Kursus Dagang Pertama atau setingkat SMP di Madiun.

Lepas dari SMP dan berbekal sedikit pengetahuan dagang, Sariban memutuskan untuk marantau dan mengadu nasib ke Kota Bandung. Bandung dipilihnya bukan tanpa alasan. 

"Saya tahu pertama kali Bandung itu disebut sebagai Kota Kembang dari pelajaran Ilmu Bumi, itu yang membuat saya penasaran dengan sebutan Kota Kembang," tambah Sariban.

Meski niatnya kuat dan bulat untuk merantau, namun Sariban tak punya uang sepeserpun. 

Sebelum nekat berangkat menggunakan kereta api, Sariban dinasihati sejumlah orang di Statsiun Barat Magetan. "Jika melihat orang memakai topi tinggi, bersembunyilah," tiru Sariban. Orang yang dia maksud adalah petugas peron yang bertugas menagih tiket penumpang kereta api.

Beruntung, nasib baik mengikuti selama perjalananannya ke Bandung. Berhimpitan dengan para pedagang dan bakul-bakul berisi hasil bumi, Sariban selamat dari orang bertopi tinggi itu.

Tiba sebatang kara di Statsiun Bandung pada 6 Juni 1963, kakek dengan enam cucu ini, luntang lantung menjadi gelandangan selama tiga bulan. Pakaiannya hanya yang melekat di badan. Pekerjaannya pun hanya serabutan dan mengandalkan belas kasih orang lain.

Suatu saat seorang pedagang daging dari Pasar Cicadas melihatnya dan menaruh iba. "Jadi Pak Iping yang pertama kasihan pada saya dan dia yang menawarkan saya untuk tinggal di rumahnnya," lanjut Sariban.

Berkat bantuan Iping pula, Sariban bisa mendapatkan pekerjaan pertamanya. "Saya dikenalkan dengan seorang mandor asal Cibaduyut namanya Pak Eli dan saya jadi kuli bangunan," katanya.

Selama tiga tahun antara 1963 sampai 1969, Sariban menjadi tukang aduk di Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur) atau cikal bakal PT Dirgantara Indonesia.

Sang mandor yang melihat Sariban rajin dan bisa membaca serta memiliki latar belakang pendidikan yang lebih baik dari pekerja lainnya, menawarkan agar Sariban sekolah lagi. Tanpa pikir panjang, Sariban akhirnya masuk kembali ke bangku sekolah di Kursus Karyawan Perusahaan Tingkat Atas (KKPA) pada tahun 1969.

Pendidikan yang menjadi jenjang tertingginya itu selesai dalam tiga tahun pada 1972. Tak berapa lama kemudian, Sariban diterima bekerja di RS Cicendo sebagai petugas kebersihan.

Kesungguhan dan dedikasinya dalam bekerja membuatnya didaulat sebagai penyuluh sukarelawan kebersihan Kota Bandung pada tahun 1983. "Pangkat" barunya ini secara resmi diberikan oleh Pemkot Bandung melalui selembar Surat Keputusan (SK). Hingga kini, SK tersebut selalu ia andalkan sebagai "senjata" atau surat sakti dalam menjalankan tugasnya. 

"Kan tidak semua orang mau ngerti soal kebersihan, malahan saya sudah biasa disebut sebagai orang gila lantaran teriak-teriak soal kebersihan. Nah, surat itu jadi senjata saya," katanya sambil memperlihatkan surat usang dengan tanda tangan Sekda Kota Bandung Rusmana Ardiwinata, tertanggal 14 Maret 1983.

Ia ingat tugas pertamanya sebagai penyuluh kebersihan adalah di Masjid Agung Bandung. Setiap salat Jumat ia selalu membawa kantung plastik sebagai wadah sampah untuk koran bekas salat jemaah yang sering dibuang sembarangan. Tak hanya di Masjid Agung, Sariban juga menjadi penyuluh di lingkungan Pemkot Bandung sejak tahun 1983-an ketika era Wali kota R Husein Wangsaatmadja dan penerusnya Ateng Wahyudi.

Setelah 27 tahun berkarya sebagai pegawai negeri sipil, Sariban pensiun di tahun 1999.

Lepas dari rutinitas sebagai pekerja kantoran, Sariban semakin giat mengkampanyekan kebersihan, mengumpulkan sampah, membersihkan selokan, menyapu jalan, hingga mencabuti paku-paku bekas spanduk di pepohonan.

Sariban lantas mengajak saya ke bagian belakang rumahnya dan menunjukkan tiga karung beras penuh berisi paku hasil mencabutnya dari pepohonan sejak tahun 2003. 

"Semuanya ada 16 karung dan beratnya hampir satu ton," katanya sambil menepuk-nepuk karung.  

"Terus mau diapain Pak," tanyaku. "Ya nggak tahu, ini hanya buat bukti aja," balasnya.

Nekat Nyagub
Tahun 2003, Sariban mengejutkan warga Jawa Barat ketika ia nekat mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Jabar lewat jalur independen. Sariban yang disebut-sebut mewakili wong cilik secara resmi memenuhi syarat dan terdaftar bersama 79 kandidat lainnya.

Tanpa modal kuat dan lobi yang mantap, Sariban bertarung dengan calon pemimpin yang lebih unggul dalam banyak hal. 

Ia bersaing dengan nama-nama yang sudah terkenal sebelumnya, dengan latar belakang kepakaran masing-masing seperti Danny Setiawan, Popong Otje Djundunan, atau RE Kosasih. Sariban yang hanya pensiunan PNS nekat berkompetisi dengan anggota dan mantan DPR, gelar profesor dan doktor, pangkat tinggi dalam kemiliteran dan purnawirawan, pakar teknologi, sampai pemodal kuat.

Sariban mengaku sadar pilihannya maju di pilgub tak akan berhasil.

"Saya hanya ingin menggelorakan semangat sebagai penyuluh kebersihan saja," katanya. Semangatnya itu tertanam dalam visinya sebagai cagub yang ia rumuskan dalam empat kata yaitu Tertib, Bersih, Hijau dan Aman.

Pencalonannya itu tak heran dianggap sebagai tindakan kurang waras. Maklum Sariban maju tanpa tim sukses atau lobi, tak punya jaringan di dewan, dan hanya bermodal uang Rp300 ribuan. "Waktu itu sih butuhnya ratusan juta," katanya terkekeh.

Sariban kemudian bangkit dari kursinya dan menunjukkan sebuah foto terbingkai ketika dia sedang diwawancara oleh sebuah statsiun Radio di Bandung terkait pencalonannya itu. Dia juga memperlihatkan sebuah berita tentang profilnya dalam artikel tanya jawab yang diterbitkan Majalah Fokus Edisi 2 Tahun 1, 25 Maret - 10 April 2003.

Saat ditanya apa yang menjadi rahasia pengabdiannya sebagai penyuluh kebersihan selama 32 tahun, Sariban hanya berujar satu kalimat.

"Saya ingin mewarisi lingkungan bersih buat anak cucu, kan kebersihan itu sebagian dari iman dan itu berlaku untuk semua agama," katanya.

Tak terasa hampir tiga jam Sariban berbicara. 

"Silakan diminum mas," tawarnya sambil menyeruput segelas besar teh manis membasahi kerongkongannya.  

Sebelum berpamitan pulang, ia menunjuk sebuah papan bercat putih dengan tulisan hitam di dekat pintu masuk rumahnya. "Mau nggak dengar puisi saya?" tanyanya. Belum sempat menjawab, Sariban sudah lantang melewatkan satu bait dengan nada sekenanya dan aku harus menunggu hingga selesai.  

"Aku berada dimana-mana, di desa dan di kota
Aku beragam warna, merah, putih, hitam, kuning, hijau dll
Aku terbawa oleh air yang mengalir dan angin.
Aku kau butuhkan, setelah itu aku kau sia-siakan
Oh, manusia yang berakal sehat
Tempatkanlah aku pada tempat yang semestinya
Aku adalah ..."

Editor: Andres Fatubun
dewanpers