web analytics
  

Dies Natalis Unpad ke-60, Ini Agenda dan Sejarah Berdirinya Unpad

Senin, 11 September 2017 10:16 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Raya - Bandung, Dies Natalis Unpad ke-60, Ini Agenda dan Sejarah Berdirinya Unpad, dies natalis unpad, dies natlis ke-60 unpad, berdirinya unpad, hari lahir unpad, dies natalis unpad, sejarah unpad

istimewa

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Universitas Padjadjaran merayakan ulang tahun yang ke-60 pada hari ini, 11 September 2017. Perayaan ulang tahun kampus atau perguruan tinggi biasa menggunakan istilah dies natalis, yang artinya suatu peringatan atas hari lahir yang di dalam sejumlah besar budaya yang dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan.

Berdasarkan hal itu juga, tidak hanya bagi manusia, pertambahan usia bagi organisasi atau perguruan tinggi selalu dikaitkan dengan tingkat kedewasaan.  Apalagi bagi sebuah perguruan tinggi yang punya fungsi utama melahirkan para ilmuwan akademisi yang berkualitas. 

Untuk tujuan itu, Unpad menggelar sejumlah kegiatan untuk merayakan Dies natalis yang ke-60 tahun 2017 ini. Dikutip dalam laman resmi unpad.ac.id, puncak perayaan dies natalis tahun ini adalah orasi ilmiah oleh Presiden Joko Widodo di Graha Sanusi Hardjadinata pada Senin 11 September 2017. Pada malam hari, Unpad juga menggelar malam apresiasi bersama civitas akademika di tempat yang sama.

Sebelumnya, sejumlah rangkaian agenda sudah digelar untuk memperingati Dies Natalis ke-60 itu. Diantaranya acara pagelaran Olimpiade Olahraga Tradisional (Ootrad) ke-10 di Stadion Jati Padjadjaran kampus Jatinangor, pada Sabtu (9/09) yang dibuka langsung Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad.

Agenda lainnya yang akan dilaksanakan adalah:

Pada Rabu, 13 September, Konverensi Pembangunan Provinsi Kepulauan di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor.

Pada 28 September akan digelar Konferensi Internasional Lingkungan Anugrah Otto Soemarwoto di Tahura Djuanda Bandung.

Pada 30 September, Konferensi Internasional Hukum Anugrah Mochtar Kusumaatmadja di Gedung Merdeka Bandung.

SEJARAH UNPAD

Dikutip Wikipedia, pemilihan nama "Padjadjaran" yang digunakan diambil dari nama kerajaan Sunda, yaitu Kerajaan Padjadjaran, yang dipimpin oleh Raja Prabu Siliwangi atau Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Pakuan Padjadjaran (1473-1513 M).

Nama ini adalah nama yang paling terkenal dan dikenang oleh rakyat Jawa Barat, karena kemasyhuran sosoknya di antara raja-raja yang ada di tatar Sunda pada masa itu. Universitas Padjadjaran didirikan atas prakarsa para pemuka masyarakat Jawa Barat yang menginginkan adanya perguruan tinggi tempat pemuda-pemudi Jawa Barat memperoleh pendidikan untuk mempersiapkan pemimpin pada masa depan.

Setelah melalui serangkaian proses, pada tanggal 11 September 1957 Universitas Padjadjaran secara resmi didirikan melalui Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1957 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 24 September 1957. Pada awal berdirinya, Unpad memiliki 4 fakultas, saat ini telah berkembang menjadi 16 fakultas dan program pascasarjana.

Lahirnya Universitas Padjadjaran merupakan puncak dari gerakan pencerdasan kehidupan masyarakat Jawa Barat yang sudah dirintis oleh beberapa tokoh, antara lain Raden Dewi Sartika, Siti Jenab, Ayu Lasminingsih, K.H. Abdul Halim, dan K.H. Hasan Mustofa.

Hasrat mencerdaskan kehidupan bangsa ini semakin kuat ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Tokoh-tokoh masyarakat Jawa Barat berkeinginan keras agar generasi muda Jawa Barat dapat meningkatkan pendidikannya sampai jenjang perguruan tinggi. Keberadaan Institut Teknologi Bandung (ITB) kala itu dianggap kurang memadai. Selain karena pendidikan khusus di bidang teknik, juga dianggap tidak terlalu mendukung pendidikan Jawa Barat dan Bandung, karena ITB sudah merupakan perguruan tinggi nasional.

Masyarakat Jawa Barat ingin memiliki sebuah universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai bidang ilmu. Akan tetapi, karena situasi politik dan keamanan yang tidak kondusif karena berkecamuknya Perang Kemerdekaan (1945-1949), perwujudan ke arah cita-cita itu terhambat. Pada tahun 1950-an tekad para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk memiliki sebuah universitas negeri di Bandung semakin mengarah pada kenyataan, terutama setelah dipilihnya Kota Bandung sebagai tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tanggal 18-24 April 1955.

 

 

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers