web analytics
  

Bandung Tempo Dulu: Menikmati Karya Arsitektur Albert Aalbers

Minggu, 27 Agustus 2017 07:34 WIB Arfian Jamul Jawaami

Gedung BTPN salah satu karya arsitektur Albert Aalbers.(Wikimapia)

BANDUNG, BANDUNG.COM--Konsep arsitektur yang melekat pada gedung Bank Denis (kini bjb), De Driekleur (kini BTPN), serta Hotel Savoy Homann tanpa disadari memiliki kemiripan bentuk rancangan. Alasannya  menampilkan unsur plastis horisontal di setiap eksterior bangunan. 
 
Sebuah bukti fisik yang menegaskan mengenai keberadaan dominasi konsep arsitektur bergaya internasionalisme klasik khas Eropa di tanah Indonesia pada dekade 1930 hingga 1946. 
 
Adalah arsitektur berkebangsaan Belanda kelahiran 1897 bernama Albert Frederik Aalbers yang membawa konsep kontemporer streamline pada bentuk dasar ketiga bangunan tersebut. Kala itu, tren arsitektur yang berkembang di Belanda banyak dipengaruhi gerakan rasionalisme.
 
Albert merupakan satu dari tiga arsitektur paling dikenal di Hindia Belanda (kini Indonesia) kala itu. Awal kariernya di Bandung dimulai ketika Albert mendirikan biro arsitektur bersama rekannya Rijk de Waal pada 1930.
 
Kolaborasinya bersama Hoogland yang banyak memberikan kontribusi pemikiran pada pengembangan Kota Bandung melahirkan karya masterpiece yaitu bangunan Hotel Savoy Homann. Alasannya, menghadirkan dualisme ideologi desain yaitu neoplastis rasionalis dalam eksterior bangunan namun dekoratif bernuansa konten lokal pada olahan interior.
 
Padahal Albert dikenal sebagai arsitek generasi pertama yang membawa aliran internasionalisme ke Hindia Belanda tanpa melakukan pendekatan pada konten regional. Artinya karya dari Albert dinilai tidak dapat merespons budaya serta iklim tropis di Indonesia.
 
Berbeda dengan Wolff Schoemaker yang gemar menyertakan pendekatan konten budaya lokal bernuansa tradisional dalam setiap karya arsitekturnya. Konsep tersebut dapat terlihat pada bangunan Gedung Merdeka serta Aula Barat dan Timur Institut Teknologi Bandung.   
 
Dalam rancangan ITB, Schoemaker melakukan pendekatan budaya melalui aspek Gunung Tangkuban Perahu sehingga tata kelola bangunan tersusun selaras seimbang. Apalagi keberadaan banyak lahan lapang di ITB terinspirasi dari kejayaan Kerajaan Majapahit. Tidak mengherankan karena meski seorang warga negara Belanda namun Schoemaker lahir dan tumbuh di Semarang.
 
"Perlu ada respons budaya lokal. Artinya tidak hanya menempelkan ornamen seperti pendirian Kota Tua di Jakarta atau perumahan tentara di Cimahi. Perlu pluralisme dan kekayaan," ujar Dosen Arsitektur ITB Widjaja Martokusumo, Sabtu (26/8/2017).
 
Namun lambat laun, Albert mulai melakukan penyesuaian konsep berdasarkan kebutuhan arsitektur dengan iklim tropis Indonesia. Meski tidak secara signifikan memasukkan nuansa tradisional dalam karya seni bangunan.
 
Penyesuaian dan perhatian pada iklim tropis dilakukan Albert pada beberapa desain rumah di Jalan Pager Gunung Bandung. Dapat dilihat bila Albert menggunakan bukaan jendela yang cukup besar agar cahaya dan udara dapat masuk ke dalam bangunan. 
 
Selain itu, curah hujan yang relatif tinggi dan deras di Jawa Barat mengilhami Albert untuk menggunakan atap rumah miring. Alasannya agar laju air semakin cepat dan tidak menggenang yang mengakibatkan kebocoran. Sebuah konsep arsitektur yang hingga kini masih digunakan di Indonesia.
 
Reputasi dan prestasi tersebut membawa Albert pada sebuah pilihan untuk melanjutkan karier di Belanda. Namun Albert berani meninggalkan kesempatan tersebut dan memilih menetap di Bandung.
 
Maka tidak heran bila sebagian besar karya masterpiece Albert justru berada di Bandung. Setidaknya sekitar 30 hingga 40 bangunan karya arsitektur Albert terpatri di sini.
 
"Soalnya Albert memiliki kesempatan eksplorasi di Bandung. Hal tersebut tidak ia rasakan di Belanda karena memiliki banyak keterbatasan baik dari ketersediaan lahan maupun faktor empat musim," ujar Widjaja.
 
Sebuah alasan yang melatarbelakangi citra Kota Bandung pada dekade 1920 hingga 1930 sebagai laboratorium arsitektur di kawasan Asia Tenggara. 
 
Dilematis Konservasi Bangunan Bersejarah
 
Kini, beberapa bangunan karya arsitektur Albert terutama vila di kawasan Bandung utara justru terabaikan, bahkan dihancurkan. Padahal bangunan sejarah berperan besar sebagai wahana pembelajaran dan penanda peradaban bangsa.
 
Namun kegiatan pelestarian bangunan sejarah masih perlu menghadapi tantangan panjang. Dinamika pembangunan dan modernisasi sering kali menjadi alasan yang tidak menyisakan tempat untuk cagar budaya.
 
Maka persoalan pelestarian bangunan bersejarah hadir sebagai isu sensitif dan dilematis sejak dekade tahun 1970 terutama bila terkait langsung dengan objek sisa peninggalan zaman kolonial Belanda.
 
Hal tersebut kontradiktif bila dihadapkan pada realita pembangunan yang identik dengan perubahan sebagai konsekuensi tuntutan zaman. Salah satu kasus seperti yang terjadi pada area eks gedung Palaguna.
 
"Alasan pembangunan atas dasar kemajuan ekonomi tidak dapat menggerus cagar alam. Sebab ada basis dan manfaat dari itu yakni industri kebudayaan," ujar Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.
 
Artinya kelestarian bangunan sejarah dengan tuntutan modernisasi sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. Sebab, keduanya dapat berjalan beriringan bahkan saling bermanfaat satu sama lain. 
 
Seperti yang terjadi pada tiga bangunan karya Albert yakni bank bjb, Bank BTPN, serta Hotel Savoy Homann. Hingga kini ketiganya masih tetap digunakan sebagai perkantoran dan hotel tanpa harus merusak nilai sejarah yang terkandung.
 
Dengan begitu sebenarnya pengelolaan pemeliharaan bangunan dapat terjaga dan berjalan lebih efektif karena gedung mengakomodasi fungsi dan kebutuhan baru. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sejumlah penyesuaian teknis pada bangunan melalui perbaikan kualitas fisik.
 
Komitmen Bank BTPN Melestarikan Bangunan Heritage
 
Pemanfaatan bangunan sejarah salah satunya dilakukan oleh manajemen BTPN di kawasan Dago Kota Bandung. Sebab, BTPN melakukan restorasi bangunan sesuai dengan bentuk awalnya hingga memakan waktu pengerjaan selama tiga tahun.
 
"Kami sangat serius dan berkomitmen kuat dalam restorasi karena mulai dari furniture, ornamen, hingga cat bangunan dibuat orisinal seperti aslinya. Kenapa? Agar publik dapat menikmati," ujar Direktur BTPN Arief Harris Tandjung.
 
Biaya untuk melakukan restorasi tersebut jauh lebih mahal daripada membeli atau membangun bangunan baru sebagai sarana aktivitas kerja. Terlebih tidak banyak pihak swasta yang mau terlibat dalam melestarikan peninggalan budaya di Kota Bandung.
 
"Ini bukan soal untung dan rugi. Kami memiliki semboyan 'Do Good and Do Well' yang artinya tidak hanya sebatas mencari keuntungan. Intinya bukan masalah uang," ujar Arief.
 
Kini, bangunan yang dulu bernama De Driekleur atau Villa Tiga Warna terbuka untuk umum sebagai sarana pembelajaran dan nostalgia Bandung tempo dulu
 
"Kami beruntung memiliki gedung ini. Salah satu tanda terima kasih kami untuk Bandung karena sudah memberikan begitu banyak pada BTPN. Karena BTPN dimulai dari Bandung di tahun 1958," ujar Arief.
 
Bangunan gedung BTPN merupakan karya Albert pada saat akhir kariernya di Bandung. Desain simetris dimaksudkan sebagai respons terhadap letak lahan yang berada pada sudut pertemuan dua jalan. 
Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers