web analytics
  

Dulu, Indonesia adalah Pusat Nazi di Asia Pasifik

Selasa, 15 Agustus 2017 13:54 WIB Arfian Jamul Jawaami
Umum - Internasional, Dulu, Indonesia adalah Pusat Nazi di Asia Pasifik, Nazi Indonesia, nazi asia pasifik

Adolf Hitler ketika menyatakan perang terhadap AS di depan anggota parlemen pada 11 Desmeber 1941.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Swastika dan ideologi fasisme ala Nazi Jerman telah lama ditinggalkan bumi seiring kekalahan telak Adolf Hitler beserta pasukan Schutzstaffel atas Man of Steel Joseph Stalin dari Uni Soviet pada Perang Dunia II.

Namun ternyata ideologi Nazi atau Nasionalsozialist pernah berkembang dengan pesat di Indonesia pada masa pra kemerdekaan atau sejak tahun 1931. Bahkan menurut sebuah riwayat bila Nazi turut membantu kemerdekaan Indonesia.

Cerita dimulai ketika Hitler mendirikan kantor pusat Nazi untuk kawasan Asia Tenggara di Batavia. Kemudian berturut dibangun beberapa kantor cabang di Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. 

Perlu diketahui bila ternyata Indonesia yang pada saat itu masih bernama Hindia Belanda merupakan negara dengan kependudukan Nazi terbesar kedua di kawasan Asia Pasifik setelah Tiongkok.Bahkan Hitler turut mengirim bantuan militer pada tentara Peta dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan atas Belanda. Salah satunya dengan mengirim pelatih fisik militer bernama Her Hufper lengkap dengan senjata perang.

Menurut buku berjudul "Hitlers Griff Nach Asien" yang ditulis oleh seorang Jerman bernama Horst Geerken bila ideologi Nazi memiliki pengaruh sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Apalagi setelah Jerman berhasil menduduki Belanda pada tahun 1940 harapan untuk Indonesia merdeka semakin mengudara dan menjadikan Hitler sebagai inspirasi para pejuang untuk mendirikan negara berpaham nasionalis sosialis. 

Maka tidak heran bila lahir banyak partai dengan ideologi Nazi di Indonesia seperti Partai Facist Indonesia yang didirikan oleh seorang pelajar pribumi lulusan perguruan tinggi di Berlin bernama Notonindito. 

Kemudian lahir Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1935 yang didirikan oleh tiga pemuda bernama Sartono, Husni Thamrin dan Amir Sjarifuddin. Berselang kemudian lahir Gabungan Partai Politik (Gapi) pada 1936 dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) satu tahun berikutnya.

Pada saat itu Parindra merupakan partai terbesar di Hindia Belanda namun karena diduga menjalin hubungan intensif dengan Nazi di Jerman dan Jepang maka Husni Thamrin dikenai sanksi tahanan rumah dan meninggal secara misterius lima hari kemudian.

Lahirnya partai dengan ideologi Nazi hadir bukan tanpa alasan karena menurut catatan Horst Geerken bila pada tahun 1933 jumlah anggota Nazi di Hindia Belanda mencapai angka seribu orang. 

Angka tersebut menegaskan bila Hindia Belanda merupakan negara dengan populasi anggota Nazi terbesar di kawasan Asia Pasifik dari total 400.000 orang. Maka tidak heran bila kala itu banyak rumah di Hindia Belanda yang memperlihatkan simbol swastika khas Nazi Jerman.

Ribuan anggota Nazi tersebut mayoritas datang ke Hindia Belanda karena bekerja sebagai pegawai di perusahaan dagang asal Negeri Kincir Angin bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perlu diketahui bila setengah pegawai VOC justru bukan berasal dari Belanda dan Jerman justru menjadi warga negara mayoritas. 

Besarnya populasi Nazi di Hindia Belanda terbukti juga lewat sebuah surat kabar yang sempat terbit dengan menggunakan bahasa Jerman di Batavia bernama Deutsche Wacht. 

Horst Geerken percaya bila invasi Hitler ke Tanah Air karena Hindia Belanda dikenal kaya akan sumber daya alam penghasil bahan baku dari kebutuhan industri senjata dan otomotif di Jerman.

Buktinya ketika Jepang menduduki Semenanjung Malaka dan Indonesia maka Jerman yang merupakan koalisi Negeri Matahari Terbit turut membangun pangkalan kapal selamnya di Jakarta dan Surabaya. Kapal selam yang direncanakan Nazi untuk mengangkut komoditi bahan baku industri dari Hindia Belanda. Lantaran kalah itu kapal dagang Jerman kerap ditenggelamkan karena memanasnya Perang Dunia II. 

Tidak heran seperti dikutip dari CNN bila pada tahun 2014 lalu ditemukan sebuah bangkai kapal selam Nazi era Perang Dunia II yang karam di Laut Karimun Jawa.

Serangkaian bukti nyata lain hadir melalui beberapa penemuan. Salah satunya lewat keberadaan tugu setinggi tiga meter bergaya bangunan Hindu di lereng Gunung Pangrango. Dikutip dari National Geographic bila dalam tugu berhias salib besi pertanda jasa militer Jerman tersebut terpajang batu hitam bertulis "Dem Tapferen Deutsch Ostasiatischen Geschwader 1914" yang berarti "Skuadron Jerman Asia Timur yang Berani 1914."

Tugu tersebut dibangun oleh seorang niagawan asal Jerman bernama Emil Helfferich pada tahun 1926 sebagai bentuk penghormatan bagi para tentara Nazi yang berperang dalam pertempuran Falkland di Kepulauan Malvinas Amerika Selatan.

Pada tahun 1945 di area tugu tersebut dimakamkan sepuluh tentara Kriegsmarine atau Angkatan Laut Nazi Jerman yang meninggal karena salah pengertian pada periode pra dan pasca kemerdekaan Indonesia.

Bukti lain adalah ketika secara tidak langsung Nazi membantu Indonesia dalam meraih kemerdekaan lewat peminjaman mesin ketik sewaktu akan merumuskan teks proklamasi 
Kala itu para pemuda Indonesia tidak dapat menuliskan rumusan teks proklamasi karena mesin ketik di kediaman Laksamana Maeda menggunakan huruf kanji. Hingga akhirnya para pemuda meminjam mesin ketik dengan penggunaan huruf latin milik kantor perwakilan Nazi. 
 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers