web analytics
  

Bandung Perlu Konsep Publik Seni

Senin, 24 Juli 2017 10:52 WIB Arfian Jamul Jawaami
Bandung Raya - Bandung, Bandung Perlu Konsep Publik Seni, Seni Bandung, Konsep Seni Bandung, Seni Publik Bandung, Ruang Publik Bandung, Tisna Sanjaya, Kabayan Nyintreuk

Seniman Tisna Sanjaya saat melakukan performance art sebagai bentuk dukungan untuk KPK di Gedung YKP, Bandung, Sabtu (22/7). (AyoBandung/Danny Ramdhani)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Kota Bandung memerlukan konsep publik mengenai karya seni dalam interior kota. Hal itu dikatakan seniman Bandung, Tisna Sanjaya, mengingat Patung Cendikia yang terletak di simpang Jalan Cihampelas dan Wastukencana mendadak hilang akhir bulan Juni lalu.

"Itu patung indah juga bagus secara komposisi dan gestur. Seniman menginginkan sebuah sistem mekanisme yang benar. Ketika sistem mekanisme kota tidak benar, jadi seniman juga ngapain (membuat patung) karena bisa dirobohkan (dan hilang) juga," ujar Tisna Sanjaya di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Sabtu (22/7/2017).

Sistem mekanisme yang dimaksud di sini adalah sistem yang bersentuhan dengan aspek pemanfaatan dan pengelolaan sarana publik, yang kini dinilai belum maksimal. Sistem mekanisme yang dimaksud Tisna nantinya bisa melahirkan rasa memiliki serta kepedulian dari masyarakat atas sarana publik, termasuk keberadaan Patung Cendikia.

Padahal Pemerintah Kota Bandung telah banyak membangun ruang publik yang menarik dan inspiratif. Untuk itu, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dengan para seniman dan masyarakat umum dalam menghidupkan fasilitas publik sebagai sarana ekspresi yang terbuka.

"Itu bukan ruang yang mati jadi artefak yang diciptakan oleh pemerintah, itu harus dihidupkan dengan mengajak seniman dan budayawan," ujar staf pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) ini.

Tisna berharap bila ke depan, sarana publik seperti taman dapat dijadikan sebagai wahana pertunjukan musik atau acara yang memiliki nilai spiritual. Sehingga hal tersebut dapat menghidupkan ruang alternatif yang murah bagi hiburan masyarakat.

Namun hal tersebut memerlukan upaya dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Soalnya kini para seniman Bandung seakan berjalan independen sehingga perlu diorganisir dengan baik.

"Seniman senang (bila diajak) dan akan ikut berpartisipasi. Sehingga orang yang datang ke Bandung bukan hanya untuk kuliner dan ke pasar baru tetapi juga melihat seni yang hidup," ujar Tisna.

Selain itu, Tisna juga mengharapkan adanya gedung pergelaran musik di Kota Bandung. Mengingat Bandung merupakan produsen penghasil musisi kelas nasional bahkan internasional.

"Dulu Gelora Saparua jadi tempat musik. Maka kita dorong untuk lahir gedung musik dan teater seni rupa. Jangan hanya mall saja," tutup Tisna.

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers