web analytics
  

Negara Rugi Akibat Subsidi Beras yang Disalahgunakan

Senin, 24 Juli 2017 05:30 WIB Asri Wuni Wulandari
Umum - Nasional, Negara Rugi Akibat Subsidi Beras yang Disalahgunakan, Kerugian Negara Subsidi Beras, Subsidi Beras, Penyalahgunaan Subsidi Beras, HET Beras, PT Indo Baru Unggul Pemalsuan

Polisi menyegel gudang penyimpanan beras PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/7). (ANTARA FOTO/ Risky Andrianto)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Tindak pemalsuan beras oleh PT Indo Beras Unggul (PT IBU) yang menyebabkan kerugian negara hingga triliunan rupiah berasal dari berbagai subsidi pemerintah yang disalahgunakan.   Yang dimaksud dengan beras memperoleh subsidi adalah dalam memproduksi beras, ada subsidi input yaitu subsidi benih Rp 1,3 triliun dan subsidi pupuk Rp 31,2 triliun. “Bahkan ditambah lagi ada bantuan sarana dan prasarana bagi petani dari pemerintah,” ujar Kepala Sub-bidang Data Sosial-Ekonomi pada Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Ana Astrid dalam siaran persnya pada Minggu (23/7/2017), sebagaimana dilansir dari ANTARA.   Selain subsidi input, pihaknya juga mengatakan bahwa ada subsidi beras sejahtera (rastra) yang jumlahnya mencapai Rp19,8 triliun. Subsidi Rastra itu didistribusikan satu pintu melalui BULOG dan tidak diperjualbelikan di pasar.   Beras yang diolah oleh PT IBU adalah beras medium yang berasal dari varietas unggul baru seperti IR64, Impari, Ciherang, dan lain-lain. Seluruhnya dijual dari petani pada kisaran harga Rp 3.500 – Rp 4.700 per kilogram gabah.   Menurutnya, PT IBU membeli beras tersebut dari petani dengan harga Rp 7.000/kg dan dijual hingga Rp 20.000/kg. Padahal harga eceran tertinggi untuk beras medium di konsumen hanya Rp9.000/kg.   "Harga acuan di konsumen atau biasa disebut Harga Atas tidak mendadak, sejak tahun lalu sudah diterbitkan HET. Pada tahun 2016 sudah diterbitkan Permendag Nomor 63/M-DAG/PER/09/2016 dengan harga acuan beras di petani Rp7.300/kg dan di konsumen Rp9.500/kg. Selanjutnya pada Juli 2017 diterbitkan Permendag Nomor 47/M-DAG/PER/7/2017 dengan harga acuan beras di petani Rp7.300/kg dan di konsumen Rp 9.000/kg," jelasnya.   Dengan selisih harga yang demikian besar, maka PT IBU telah mendapatkan keuntungan yang ditaksir mencapai Rp10 triliun per tahun.   "Harga beras di petani sekitar Rp 7.000/kg dan harga premium di konsumen sampai Rp20.000/kg, taruhlah selisih harga ini minimal Rp 10.000/kg bila dikalikan beras premium yang beredar 1,0 juta ton (2,2 persen dari beras 45 juta ton setahun), maka kerugian keekonomian ditaksir Rp10 triliun," katanya.   Ia menambahkan bahwa usaha yang dilakukan PT IBU telah merugikan produsen dan konsumen serta berpengaruh terhadap kenaikan inflasi. Ujung-ujungnya negara dirugikan dan berdampak pada inflasi.   Ia meminta agar pihak berwajib menindak tegas pelaku tindak pidana kejahatan pangan. "Kejahatan pangan, apa pun bentuknya harus dibongkar dan dihentikan," katanya.
Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers