web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Sufisme Jeihan dan "Kegilaan"

Jumat, 2 Juni 2017 15:36 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Salah satu karya lukis yang dipajang dalam pameran tunggal Jeihan Sukmantoro

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – “Puncak gerak, diam. Puncak tahu, tak tahu. Puncak hidup, mati. Saya sudah mulai mengerti semua. Sudah mulai belajar diam, sudah mulai tidak tahu, dan sudah siap mati. Saya tahu puncak kehidupan saya itu kematian menuju Suwung.” -- Jeihan Sukmantoro

Mata buatan Jeihan selalu hitam, dan pekat. Menelisik kedalaman yang tanpa batas, dan jauh. Menemukan sesuatu yang tak dapat digapai oleh mata terbuka. Tak ubahnya lubang hitam alam semesta, mata itu berguna untuk merefleksi hidup.

Tengok saja lukisan perempuan berjilbab yang ada di salah satu sudut Studio Jeihan, Jalan Padasuka, Bandung. Perempuan berbalut cat putih kebiruan itu berdiri tegak di depan sinar rembulan dengan matanya yang, sekali lagi, hitam dan pekat. Menjadi salah satu karya yang dipajang yang dipamerkan dalam pameran tunggal Jeihan bertajuk Sufi/Suwung pada Kamis (1/6/2017) kemarin.

Jeihan Sukmantoro, kakek tua si empunya ikon ‘mata hitam’. Visual mata, yang bagi Jeihan, memperkuat spiritual dan optimisme dirinya. Karena baginya, seorang seniman harus mampu menciptakan mitos-mitos yang membawa semangat itu sendiri.

Mitos itulah yang membawa Jeihan dicap sebagai salah satu maestro seni rupa Indonesia. Atau bahkan, sebagai seorang legenda hidup.

Dalam garis sejarah perkembangan seni rupa Indonesia, posisi Jeihan sebagai seorang pelukis acapkali dinilai penting. Eksistensi dan posisinya mulai naik sejak era 1960-an dan memuncak pada 1990-an. Hingga kini, Jeihan bahkan terus memproduksi karyanya untuk menunjukkan betapa progresifnya seorang Jeihan dengan tema-tema teranyarnya.

Sebut saja pameran Sufi/Suwung yang digelar kemarin. Acara itu kebetulan digelar berbarengan dengan peluncuran buku biografi berjudul Jeihan : Maestro Ambang Nyata dan Maya karya kurator seni rupa Mikke Susanto.

Konsep sufi atau suwung sendiri bagi Jeihan adalah cara atau upaya mengenal dan mendekatkan dirinya kepada sang Pencipta untuk memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya.

Sufi itu usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, yaitu Allah. Dalam berkesenian pun seperti itu, dimana belajar kembali ke asal. Itu bisa diruntun, bahkan dari awal ketika dimulai pada zaman homo sapien, ketika makhluk seperti kita mengerti tanda tanya. Siapa yang menciptakan kita dan mengapa kita ada. Dari sanalah kesadaran pencarian Sang Pencipta itu eksis.

Jeihan Sukmantoro

Hampir seluruh lukisan yang dipajang dalam Studio Jeihan kala itu memadukan unsur warna biru tua dan hitam. Warna-warna datar itu dilandaskan pada pengarahan daya sugesti Jeihan. Warna hitam atau kebiruan yang mengandung kesan mistik. Mengajak kita menelusuri kegaiban dan misteri.

Warna-warna ini, bagi Jeihan, adalah warna yang berkaitan denganr realitas spiritual. Karena bagaimanapun, warna adalah intuisi, yang berkaitan dengan memori, sadar atau tidak sadar. Penentuan warna, bagi Jeihan, adalah rahasia Allah SWT.

“Kegilaan” Jeihan

Jeihan adalah gila. Seorang pelukis yang dinilai banyak kalangan lantaran kepemilikannya akan sebuah ‘kegilaan’ yang luar biasa. Kegilaan Jeihan bukan dibuat-buat agar dicatat. Kegilaannya berurat-berakar pada aksi dan konsepsi di atas ambang normal rata-rata pikiran manusia. Kegilaannya bukan karena perangainya yang bikin resah orang lain, tapi justru kegilaannya itulah yang menciptakan inspirasi bagi orang lain.

Bagaimana tidak, gaya komunikasi Jeihan dengan Sang Pencipta melalui karya-karya bertema ‘Sufi’-nya ini menunjukkan bahwa bagi Jeihan kehidupan bukan saja memiliki realitas indrawi, melainkan pula realitas di luar indrawi. Realitas virtual, realitas spiritual, realitas emosional, atau apapun namanya, semua hadir di mata Jeihan.

“Saya sadar, sufi akan semakin mengarahkan kita untuk berkomunikasi dan berkontemplasi dengan Sang Pencipta. Ibaratnya banyak lapangan luas yang dibangun menjadi sebuah tempat untuk digunakan berkontemplasi bersama-sama, melepaskan rohani dan spiritual kita, terbang seperti merpati menuju ke tempat tinggi. Dan kemudian tempat itulah yang disebut temple atau rumah beribadah seperti masjid, gereja, vihara, dan sebagainya.”

Sementara, bagi Jeihan ‘Sufi’ adalah kelanjutan dari hipotesanya yang diterima banyak orang, yang di sana menggambarkan proses pencariannya menuju tingkat spiritual tertinggi. Sufi, bagi Jeihan, muncul karena gelap gulita. Namun ketika Sang Pencipta menurunkan cahaya, yaitu Nur, maka cahaya itu digambarkan Jeihan sebagai titik awal dan akhir lukisannya.

Dengan lahirnya Nur, lahirlah peradaban. Ujung peradaban, kebudayaan. Ujung kebudayaan, kesenian. Puncak seni, puisi. Puncak puisi, filsafat. Puncak filsafat, sufi. Suwung. Begitu kata, Jeihan.

Editor: Asri Wuni Wulandari

artikel lainnya

dewanpers