web analytics
  

Bandung Tempo Doeloe: Dago, Antara Hutan dan Kawasan Elit Belanda di Masa Lalu

Rabu, 24 Mei 2017 14:50 WIB Anggun Nindita Kenanga Putri
Bandung Raya - Bandung, Bandung Tempo Doeloe: Dago, Antara Hutan dan Kawasan Elit Belanda di Masa Lalu, bandung tempo doeloe,cagar budaya,cagar budaya bandung terbengkalai,dago bandung,sejarah dago bandung,dago tempo dulu,taman hutan raya,sejarah dago,dago tempo doeloe,hindia belanda,tahura

Wilayah Dago setelah mengalami perubahan.(bandungtempodulu.blogspot.co.id)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Banyak ungkapan yang menggambarkan tentang Kota Bandung, salah satunya: “Belum ke Bandung kalau belum mengunjungi Dago.”

Ya, kawasan Jalan Ir. H Djuanda atau lebih dikenal dengan Dago merupakan salah satu destinasi yang dikunjungi wisatawan ke Bandung. Bahkan, bagi urang Bandung, Dago merupakan salah satu ikon paling terkenal untuk nongkrong.

Daerah yang kini menjadi kawasan elit di kota kembang banyak berjejer pusat perbelanjaan, factory outlet, serta wisata kuliner. Belum banyak orang tahu, apabila kawasan Dago ini memiliki sejarah panjang yang patut diketahui.

Pada zaman penjajahan Belanda, Dago merupakan hutan yang tergolong sepi dan rawan binatang buas, terutama di daerah sekitar terminal Dago sekarang.

Asal mula nama Dago, yakni dari bahasa Sunda “Dago” atau menunggu. Kala itu, penduduk di Bandung utara yang hendak ke kota tidak berani pergi sendiri. Mereka satu sama lain menunggu hingga akhirnya berkelompok untuk pergi ke kota.

Dari situlah nama dago atau menunggu itu muncul hingga dipakai saat ini.

Awal Sejarah Pembangunan

Pembangunan Dago dimulai pada 1905 oleh Andre van der Brun, berkebangsaan Belanda. Saat itu, mulanya ia hanya membangun rumah untuk peristirahatan. Rumah tersebut masih berdiri hingga sekarang letaknya bersebelahan dengan Hotel Jayakarta.

Untuk pembangunan jalan besar sendiri dimulai pada 1915 dan diberinama Dagostraat. Pada 1970 jalan berubah nama menjadi Jalan Ir. H.Djuanda.

Pada 1920-1940 Pemerintah Belanda semakin giat melakukan pembangunan di kawasan Dago. Pemerintah Belanda tidak hanya fokus dalam pembuatan jalan, tapi membangun sarana pendidikan, seperti Techniche Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung, yang dibuka sejak 3 Juli 1920. Kala itu, Techniche Hoogeschool te Bandoeng menjadi perguruan teknik pertama di Hindia Belanda.

Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan SMAK Dago. Di sini mantan Presiden B.J Habibie pernah mengenyam pendidikan. Lokasi itu pula memiliki bangunan terkenal yaitu Lyceum Dago yang berfungsi sebagai aula. Kini Lyceum Dago bangunannya dipakai oleh SMAN 1 Bandung.

Baik ITB maupun SMAK Dago masih mempertahankan bangunan lama ala Hindia Belanda. Beberapa rumah di kawasan Jalan Ganesha, yang berdekatan dengan ITB pun mempertahankan arsitektur aslinya. Juga beberapa bangunan di kampus ITB yang masih mengusung tempo dulu, seperti pilar-pilar besar, lorong  luas, ataupun aksen kayu.

Sejak zaman pemerintahan Belanda hingga tahun 1950-an, Dago dikenal sebagai kawasan perumahan elit. Kawasan ini meninggalkan arsitektur art deco peninggalan zaman Belanda.

Salah satu gedung  peninggalan lama yang masih tetap dijadikan rumah tinggal letaknya berhadapan dengan toko kue La Belle, dekat dengan persimpangan Dago – Cikapayang.

Untuk mengenang Dago tempo dulu, Wali Kota Bandung Ridwan kamil pun melakukan revitalisasi trotoar di sepanjang jalan. Salah satu tujuannya adalah mengangkat lagi kembali kebiasaan jalan kaki seperti zaman dahulu.

"Jadi ceritanya adalah saya sedang berjuang keras mengembalikan sebuah budaya yang dulu kuat di Bandung, yakni budaya berjalan kaki," ucapnya beberapa waktu lalu.

Selain itu Emil, sapaan akrabnya juga menyediakan jalur sepeda dan memperbanyak tempat pembuangan sampah. Agar warga juga dapat lebih menjaga kebersihan juga lingkungan di sekitar Dago.

Jalur sepeda sendiri disediakan untuk menjadi alternatif transportasi selain kendaraan bermotor, yang menyebabkan kawasan Dago menjadi semakin macet.

Taman Hutan Raya Saksi Konservasi Alam

Selain menjadi kawasan elit, Dago juga menjadi tempat cagar budaya, tepatnya di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda atau yang biasa dikenal dengan Dago Pakar.

Membalik-balik lembaran sejarah Kota Bandung, orang akan menjumpai fakta, bahwa Ibu kota Jawa Barat ini, tergolong pelopor dalam masalah pencagaran atau konservasi alam dan budaya di Indonesia.

Tindakan itu dilandasi oleh hasil penelitian Dr. Isaac Groneman (1864),  seorang peneliti dari Belanda, yang menyatakan bahwa kawasan hutan perbukitan Dago tersebut banyak memiliki flora dan fauna yang unik dan langka. Seperti, jenis anggrek Microstylis Bandongensis dan Nervillea Aragona.

Dahulu juga di kawasan ini ditemukan satwa-satwa langka, antara lain seperti kancil, meong congkok (harimau kecil) dan lutung.

Menurut situs resmi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, atau yang sering disebut dengan Tahura,  dijelaskan area ini awalnya merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/kpts/Um/8/1980 dirubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) Curug Dago.

Selain menjadi tempat bagi keanekaragaman hayati, Tahura pun menjadi sisa kearifan lokal yang tumbuh di sekitar hutan ini. Contohnya adalah, Situs Cibitung yang merupakan peninggalan zaman prasejarah.

Situs ini berbentuk makam dan pernah ditemukan batu arca di sekitarnya. Setelah digali lagi, ternyata tempat ini dianggap suci karena ada mata air di sekitarnya.

Namun pada masa kini, kawasan Tahura pun mulai dikeruk untuk komersialisasi. Beberapa pengembang mulai mengincar kawasan Dago untuk dijadikan pemukiman yang elit. Hal ini tentu saja berdampak pada perubahan kondisi lingkungan tersebut  dan cenderung merusak.

Apik Karyana, Sekretaris Direktorat Kehutanan dan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang ditemui AyoBandung belum lama ini mengatakan semakin banyak tumbuhan yang ditebang maka suhu udara akan berkurang.

Tak heran jika nantinya lahan akan semakin terbuka karena kerusakan hutan. Juga memungkinkan terjadinya erosi yang sangat intensif pada lahan sehingga tanah menjadi tidak subur.

“Dampak lainnya juga adalah sulitnya mendapatkan air bersih. Masalah air bersih adalah masalah kehidupan. Sekarang dapat air bersih di Bandung saat pagi hari aja susah. Karena letak air tanah sudah semakin dalam,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan dengan banyaknya bangunan-bangunan seperti perumahan atau resort yang pembangunannya melanggar analisis dampak lingkungan atau amdal.

“Banyak resort nakal yang melanggar amdal. Seharusnya ditingkatkan SDM-nya untuk lebih meneliti lagi pihak-pihak mana yang melanggar dan harus ditindak. Kalau misal melibatkan koorporasi yang besar harus melibatkan aparat hukum tentunya,” katanya.

Padahal jika dimanfaatkan dengan baik, kawasan cagar budaya bukan hanya menjadi tempat konservasi alam, namun penting menjadi daerah resapan air. Selain itu, kawasan cagar budaya bisa menjadi sumber devisa yang dapat meningkatkan pendapatan daerah.

Kawasan cagar budaya juga menjadi objek penilitian dari berbagai disiplin ilmu, untuk itulah peningkatan literasi juga dapat diupayakan untuk meningkatkan kesadaran juga sosialiasi tentang pentingnya kawasan cagar budaya bagi kehidupan.

Ayo Baca: Bandung Tempo Doeloe: Hitam Putih Pelestarian Cagar Budaya

Ayo Baca: Bandung Tempo Doeloe: Seabrek Cagar Budaya yang Bernilai Tinggi

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Selama Pandemi, Pedagang di Kecamatan Coblong Tak Pernah Dapat Bantuan

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 07:50 WIB

Bantuan terhadap UMKM, program Kartu Prakerja, ataupun dana bantuan lainnya nyatanya tak sampai kepada para pedagang, kh...

Bandung Raya - Bandung, Selama Pandemi, Pedagang di Kecamatan Coblong Tak Pernah Dapat Bantuan, Pedagang di Kecamatan Coblong,Bantuan masyarakat miskin,Bantuan Covid-19,pedagang kuliner di Coblong,Bantuan UMKM,Program Kartu Prakerja,pedagang kelas bawah,Cerita pedagang kelas bawah Coblong

Masjid Al-Imtizaj, Masjid Indah Bernuansa Tionghoa di Sudut Kota Bandu...

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 07:27 WIB

Masjid Al-Imtizaj ini sekilas tidak terlihat seperti Masjid pada umumnya, melainkan seperti sebuah Kelenteng.

Bandung Raya - Bandung, Masjid Al-Imtizaj, Masjid Indah Bernuansa Tionghoa di Sudut Kota Bandung, Masjid Al-Imtizaj,Sejarah Masjid Al-Imtizaj,Fakta Sejarah Masjid Al-Imtizaj,Cerita Masjid Al-Imtizaj,kaum muslim keturunan Tionghoa,komunitas muslim Tionghoa

Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kota Bandung 19 Juni 2021

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:53 WIB

Lokasi SIM Keliling Online Kota Bandung, Sabtu, 19 Juni 2021 berada di 2 lokasi.

Bandung Raya - Bandung, Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kota Bandung 19 Juni 2021, SIM Bandung,perpanjangan sim bandung,Syarat permohonan SIM Bandung,Cara Buat SIM Bandung,SIM Keliling Bandung,Jadwal SIM Keliling Bandung,Lokasi SIM keliling Bandung,SIM keliling Bandung Hari Ini

Prakiraan Cuaca 19 Juni 2021, Bandung Cerah Tanpa Hujan

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:43 WIB

Cuaca Bandung hari ini, Sabtu, 19 Juni 2021 diprakirakan cerah berawan.

Bandung Raya - Bandung, Prakiraan Cuaca 19 Juni 2021, Bandung Cerah Tanpa Hujan, Cuaca Bandung Hari Ini,Cuaca Bandung,cuaca Bandung BMKG,Prakiraan Cuaca Bandung,Cuaca Bandung Terkini,doa turun hujan,Tips Merawat Jas Hujan

Waktu Salat Kota Bandung 19 Juni 2021

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:06 WIB

Sebagai panduan untuk bisa menunaikan salat tepat waktu, berikut waktu imsak dan jadwal salat untuk wilayah Kota Bandung...

Bandung Raya - Bandung, Waktu Salat Kota Bandung 19 Juni 2021, Waktu Salat,waktu salat di Bandung,Waktu salat Bandung,Waktu salat Bandung dan sekitarnya hari ini,Jadwal Salat Bandung,jadwal Salat Bandung hari ini

Sekda Jabar Positif, Ridwan Kamil Lakukan Penelusuran Kontak Erat

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 21:46 WIB

Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja dinyatakan positif Covid-19. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan...

Bandung Raya - Bandung, Sekda Jabar Positif, Ridwan Kamil Lakukan Penelusuran Kontak Erat,  Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja,Sekda Jabar Positif Covid-19,klaster gedung sate,Gubernur Jabar Ridwan Kamil

Ridwan Kamil Ingin Metropolitan Rebana Jadi Destinasi Investasi Terbai...

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 21:23 WIB

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak main-main untuk membangun kawasan metropolitan rebana. Bahkan Ridwan Kamil berkei...

Bandung Raya - Bandung, Ridwan Kamil Ingin Metropolitan Rebana Jadi Destinasi Investasi Terbaik Asia Tenggara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,Metropolitan Rebana,Destinasi Investasi Terbaik Asia Tenggara

Pemprov Jabar Rekrut 400 Relawan Medis Penanganan COVID-19

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 20:34 WIB

Pemda Provinsi Jawa Barat membuka rekrutmen Tim Relawan Medis Penanganan COVID-19. Rekrutmen dilakukan guna memperkuat S...

Bandung Raya - Bandung, Pemprov Jabar Rekrut 400 Relawan Medis Penanganan COVID-19, Pemprov Jabar,Relawan Medis,Penanganan Covid-19,Tenaga Keshatan Covid-19

artikel terkait

dewanpers