web analytics
  

Bandung Tempo Doeloe: Hitam Putih Pelestarian Cagar Budaya

Rabu, 24 Mei 2017 08:36 WIB Arfian Jamul Jawaami
Bandung Raya - Bandung, Bandung Tempo Doeloe: Hitam Putih Pelestarian Cagar Budaya, bandung tempo doeloe,cagar budaya,eks palaguna,lahan eks palaguna terbengkalai,cagar budaya bandung terbengkalai

Seniman dan Budayawan yang tergabung dalam Aliansi Bandung menggelar

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Bandung hanyalah peradaban baru yang diisi oleh hamparan pegunungan serta dihuni para darah biru Boemipoetra keturunan Garut.

Perkebunan teh dan kopi adalah alasan Pemerintah Hindia Belanda untuk menciptakan sebuah peradaban yang kelak menjadi wajah terdepan Provinsi Jawa Barat.

Adalah Wiranatakusumah II yang pada tahun 1810 menancapkan tongkat kekuasaan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (sekarang Dayeuh Kolot) menuju jalan yang kini dikenal sebagai kawasan Asia Afrika.

Keputusan Wiranatakusumah II melahirkan perang kekuasaan dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, saat itu Herman Willem Daendels yang juga menginginkan hal serupa dalam upayanya membangun Jalan Raya Pos.

Namun hingga kini Wiranatakusumah II atau lebih dikenal dengan julukan Dalem Kaum tetap dianggap sebagai pendiri Kota Bandung.

Dalam perjalanan 207 tahun wajah kawasan Asia Afrika berganti berulang kali merekam memori peristiwa kekuasaan serta kejayaan Kota Bandung.

Dari kisah seorang penasihat Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pada dekade 1880 yang menulis bahwa rakyat Bandung selalu bersujud dan tidak diperkenankan melihat wajah bupati hingga menjadi kawasan para kaum elit Hindia Belanda.

Popularitasnya menguap ke permukaan ketika pada Desember 1926 bertepatan dengan momen pergantian tahun di lahan eks Palaguna melalui wajah Elita Bioscoop menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia lewat penayangan film bisu pertama berjudul Loetoeng Kasaroeng.

Film berlatar Nusantara yang mengisahkan legenda populer di masyarakat Sunda tersebut merupakan karya duet sutradara asal negeri kincir angin yakni Kruger dan Heuveldorp.

Tidak hanya Elita Bioscoop yang menayangkan film Loetoeng Kasaroeng namun beberapa bioskop lain salah satunya Concordia (sekarang The Majestic).

Sayangnya, bukan sembarang orang dapat dengan nyaman memasuki Concordia. Sebab, sebuah aturan bertuliskan 'verbodden voor honder en irlander’ yang berarti 'dilarang masuk bagi anjing dan pribumi' terpatri angkuh menandakan Concordia sebagai tempat khusus bagi para meneer marveous Belanda.

"Hanya yang berpakaian rapi dan mengenakan sepatu dapat masuk ke sana (Concordia)," ujar Kasandra salah satu keturunan keluarga Wiranatakusumah kepada AyoBandung belum lama ini.

Kala itu, pihak bioskop menyediakan orkes mini klasik dan seorang komentator untuk mengiringi film bisu. Kursi penonton dibuat bertingkat serupa bioskop masa kini sebagai pembeda sesuai harga tiket. Semakin atas posisi kursi maka semakin mahal karena dilengkapi balkon eksklusif serupa kafe.

"Sedangkan warga pribumi hanya diperkenankan menonton di bioskop Regol Jalan Dalem Kaum. Tapi film yang ditayangkan sudah telat hingga satu minggu lebih," ujar Budayawan Memet Hamdan.

Pada dekade awal 1980, popularitas Concordia yang telah berganti nama beranjak meredup hingga tidak lagi digunakan sebagai bioskop seiring berkembangnya cineplex modern di Kota Bandung. Terlebih yang ditayangkan hanyalah film panas.

Bangunan Majestic diabaikan hingga pada 2002 direvitalisasi Pemerintah Kota Bandung menjadi gedung pertemuan dan berganti nama menjadi Asia Afrika Cultural Centre (AACC) sebagai ruang pertunjukan seni.

Pasca-tragedi berdarah dalam konser Beside yang menewaskan 10 pemuda maka pengelolaan gedung Majestic diambil alih oleh Perusahaan Daerah (PD) Jasa dan Pariwisata (Jawi) milik Pemprov Jabar.

Direktur Utama PD Jawi Ade Didik Isnandar berencana kembali merevitalisasi gedung Majestic menjadi pusat pertunjukan budaya Sunda dengan tanpa merusak arsitektur dan interior bangunan.  "Kehadiran Majestic baru nuansa lama akan dihadirkan," ujar Ade Didik.

Selain gedung Majestic, PD Jawi kembali mendapat penghormatan dengan diberikan akses untuk memanfaatkan lahan eks Palaguna. Tempo dulu, lahan eks Palaguna merupakan tempat bagi dua bioskop ternama yakni Varia Park dan Oriental Show.

Lahan tersebut dimiliki oleh seorang Belanda bernama Buse sebelum diambil alih oleh Pemprov Jabar. Ketika berganti menjadi Palaguna Plaza, area tersebut merupakan pusat perbelanjaan pertama dan tersohor pada dekade 1980 di Kota Bandung. Juga merupakan bangunan dengan fasilitas eskalator pertama di tanah Pasundan.

Perdebatan Koefisien Dasar dan Luas Bangunan serta Lahan Eks Palaguna

Mengutip perkataan seorang peraih Nobel Sastra bernama Anatole France bahwa buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pasti sangat membosankan. Anatole tidak mencoba sinis dalam kata namun realita yang berkembang mengatakan jika Tuhan tidak mampu mengubah sejarah karena hanya para ahli sejarah dan penguasa yang dapat melakukannya.

Anatole tidak salah pula tidak benar karena sejarah adalah pedoman bagi manusia untuk belajar memperbaiki diri dari masa lalu. Melupakan sejarah adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh dilakukan suatu bangsa.

Namun apa di kata, sebab kini sejarah mengenai kejayaan Palaguna dan berbagai bioskop yang menyertainya telah rata digerus tanah. Tidak ada prasasti di lahan seluas 9.000 hektare (ha) tersebut dan hanya menyisakan hamparan tanah berpuing beton.

Terlebih peraturan mengenai adanya standar Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Luas Bangunan (KLB) Kota Bandung memungkinkan adanya pembangunan gedung pencakar langit. Ini tentu akan semakin menjepit area Alun-alun yang merupakan kawasan cagar budaya.

Persoalan memanas menyusul rencana Pemprov Jabar melalui PD Jawi yang berencana menjadikan lahan eks Palaguna sebagai proyek pembangunan kawasan komersial berupa pusat perbelanjaan, rumah sakit dan hotel.

"Alasan pembangunan atas dasar kemajuan ekonomi tidak dapat menggerus cagar alam karena ada basis dan manfaat dari itu yakni industri kebudayaan," ujar Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid.

Hal tersebut tidak berarti pelestarian cagar budaya tanpa masalah dan tantangan. Saat ini ancaman datang seiring beranjaknya Bandung menjadi kota tujuan investor dengan rencana pembangunan yang bersifat eksploitatif.

"Padahal daerah Alun-alun merupakan kawasan cagar budaya maka seharusnya tidak ada KDB dan KLB disana. Kalau bangunan semakin tinggi maka pendopo kita semakin kurang berwibawa," ujar Ketua Bandung Heritage Aji Bimarsono.

Vice President International Council on Monuments and Sites Indonesia Dicky Soeria Atmadja berpendapat meski Pemkot Bandung terus berupaya mendirikan banyak taman tematik. Sebab, ruang terbuka hijau terbilang sedikit jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang semakin banyak.

"Pelestarian bukan bangunan semata namun juga lingkungannya. Apakah daya dukung lingkungannya memadai? Saya pikir tidak. Saat ini kemacetan saja sudah sangat berat yang menghadirkan polusi udara dan suara," ujar Dicky.

Dicky menambahkan kehadiran bangunan tinggi akan menjadikan Alun-alun Bandung nampak lebih gelap. Selain itu secara psikologis dapat membuat masyarakat di dalamnya menjadi seperti terkurung.

"Bukan berarti menolak adanya pembangunan namun mengidamkan sebuah kebijaksanaan," ujar seniman dan pemerhati lingkungan Adew Habsta.

Padahal, menurut regulasi United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) heritage atau bangunan cagar budaya bukan hanya sekadar bangunan fisik pada masa kolonial semata. Sebab Unesco membagi heritage ke dalam dua kategori yaitu natural dan kultural.

Berarti ruang terbuka hijau juga merupakan aspek yang perlu dijaga kelestariannya sesuai regulasi Unesco. "Orang cenderung semata melihat bangunan kolonial saja sebagai heritage namun sebenarnya banyak yang lain," ujar Dicky.

Menurut catatan yang dihimpun oleh Walhi Jabar menyebutkan seharusnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung berada pada angka 12%, namun kenyataannya masih 7%.

Untuk, itu surat penolakan telah dilayangkan oleh Walhi Jabar terkait pembangunan eks Palaguna yang ditujukan kepada Gubernur Jabar, DPRD Jabar, Wali Kota Bandung, serta DPRD Kota Bandung.

"Konsep ruang terbuka hijau itu bukan sebuah perlawanan tapi solusi untuk Alun-alun yang sudah semakin berat," ujar Direktur Eksekutif Walhi Jabar Dadan Ramdan.

Namun, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan lahan eks Palaguna dapat digunakan untuk bangunan komersial. Sebab dalam rencana tata ruang daerah memang tidak diperuntukan sebagai ruang terbuka hijau.

"Ketika masyarakat keberatan maka aspirasi dapat disampaikan pada Pemprov Jabar. Karena kewenangan Pemkot Bandung hanya sebatas pengurus izin," ujar Emil.

Kebijakan pembangunan sebaiknya melihat tinjauan berdasarkan daya dukung lingkungan sehingga menciptakan kearifan lokal yang diharapkan. Namun memang hal tersebut tidak dapat mencegah perkembangan Kota Bandung.

"Hari ini proyek pembangunan di Bandung seperti sedang menabung bencana. Bandung butuh penjarangan bangunan," ujar Budayawan Aat Soeratin.

Sehingga ditakutkan rencana pembangunan eks Palaguna dan pemberlakuan peraturan KDB serta KLB tidak selaras dengan citra kawasan Asia Afrika sebagai konservasi cagar budaya.

Untuk itu, perlu adanya keselarasan fungsi ruang melalui intervensi hukum dalam pemanfaatannya sebagai kepentingan budaya, sosial, dan ekonomi. Kepentingan ekonomi yang dimaksud tidak bersifat normatif melainkan konseptual disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah penduduk. Sehingga tema pelestarian cagar budaya tidak berjalan bebas tanpa arah.

"Tidak adanya perencanaan tata ruang ekonomi mengakibatkan pembangunan tanpa batas dan terlalu liberal. Akibatnya pembangunan terjadi secara sporadis," ujar pakar ekonomi Ishak Somardi.

Ishak menyarankan pilihannya hanya menjadikan Alun-alun sebagai kota tua atau membiarkannya tetap jadi kawasan komersial.

Pakar Hukum dan Tata Negara Universitas Parahyangan Bandung Asep Warlan Yusuf mengungkapkan terdapat empat pertimbangan yang melandasi pembangunan area komersil di tengah kawasan cagar budaya yakni aspek nilai budaya, norma tata ruang, kelayakan teknis berupa ketinggian bangunan, dan kepentingan umum.

"Ketika daerah Asia Afrika dikenal karena sejarahnya maka dekatkan konsep pembangunan dengan citra kawasan tersebut. Agar citra atau simbol yang telah melekat tidak hilang yakni sebagai Ibu Lota Asia Afrika," ujar Asep.

Dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dijelaskan bangunan dapat diusulkan sebagai cagar budaya apabila telah berusia 50 tahun atau lebih serta memiliki arti khusus dalam sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayan bagi penguatan kepribadian bangsa.

Solusi dan Regulasi Unesco

Saat ini Unesco tengah mengangkat tiga pendekatan perihal pelestarian cagar budaya. Pertama cagar budaya diharapkan dapat memberikan nilai pengetahuan pada wisatawan yang sehingga menciptakan kesadaran dan rasa hormat pada keberadaan sejarah.

Kedua tidak diperkenankan bagi wisatawan untuk merusak cagar budaya baik secara fisik maupun non-fisik. Sedangkan ketiga adalah cagar budaya harus memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud kembali menyatakan apabila heritage tidak dilestarikan maka akan berdampak negatif.

"Maka tidak ada gunanya kita melestarikan heritage kalau tidak dikembangkan dan dimanfaatkan," ujarnya.

Artinya cagar budaya bukan hanya hiasan kota guna semata mengenang romantisme masa lalu. Pemanfaatan oleh masyarakat secara ekonomi perlu dilakukan baik berupa pengadaan akomodasi menginap atau fasilitas wisata yang diberdayakan secara swadaya oleh warga setempat.

"Ketika ekonomi masyarakat meningkat maka dengan sendirinya cagar budaya akan dijaga seperti apa yang terjadi di Eropa. Sedangkan kini cagar budaya di Bandung hanya menjadi pajangan," ujar Vice President International Council on Monuments and Sites Indonesia Dicky Soeria Atmadja.

Di Eropa bangunan sejarah dapat dimanfaatkan dan dinikmati oleh masyarakat. Bagian luar bangunan tetap dijaga kelestariannya namun pada bagian dalam digunakan sebagai kantor dan ruang mengais rezeki.

Padahal UU tentang Cagar Budaya yang dimiliki Indonesia jauh lebih ketat ketimbang regulasi di negara Eropa. Pengetatan peraturan tersebut yang justru membuat cagar budaya semakin tidak berkembang dan bernilai.

"Jadi seolah ingin melindungi namun justru membuatnya mati. Kalau bermanfaat pasti lestari karena masyarakat turut menjaga. maka tidak perlu lagi ada aturan untuk menjaga kelestarian cagar budaya," ujar Dicky.

Anggapan Dicky sebenarnya sesuai dengan inovasi program Pemkot Bandung dalam upaya meningkatkan pemerataan pendapatan ekonomi. Program tersebut merupakan bagian dari realisasi Pemkot Bandung dalam menyeimbangkan sistem ekonomi lewat sebuah penyesuaian sehingga dapat menekan angka kesenjangan sosial.

Wali Kota Bandung mencontohkan apabila para wisatawan yang datang ke Bandung tidak harus menginap di hotel karena warga akan menyediakan kamar tidur untuk persinggahan sementara. Sehingga pendapatan Kota Bandung sebesar Rp6 triliun dari sektor pariwisata dapat merata hingga lini paling bawah.

"Jadi tidak dinikmati oleh pengusaha besar saja karena aktivitas ekonominya ada dan merata," ujarnya.

Di bawah ketentuan Peraturan Wali Kota Bandung terhitung sebanyak 260 bangunan telah dikategorikan sebagai heritage kolonial. Angka ini bertambah jika dibandingkan kesesuaian dengan Perda yang hanya 100 bangunan.

Ayo Baca: Bandung Tempo Doeloe: Seabrek Cagar Budaya yang Bernilai Tinggi

Ayo Baca: Bandung Tempo Doeloe: Dago, Antara Hutan dan Kawasan Elit Belanda di Masa Lalu

Ayo Baca: Bandung Tempo Doeloe: Kejayaan Kereta pada Zaman Kolonial Belanda

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Selama Pandemi, Pedagang di Kecamatan Coblong Tak Pernah Dapat Bantuan

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 07:50 WIB

Bantuan terhadap UMKM, program Kartu Prakerja, ataupun dana bantuan lainnya nyatanya tak sampai kepada para pedagang, kh...

Bandung Raya - Bandung, Selama Pandemi, Pedagang di Kecamatan Coblong Tak Pernah Dapat Bantuan, Pedagang di Kecamatan Coblong,Bantuan masyarakat miskin,Bantuan Covid-19,pedagang kuliner di Coblong,Bantuan UMKM,Program Kartu Prakerja,pedagang kelas bawah,Cerita pedagang kelas bawah Coblong

Masjid Al-Imtizaj, Masjid Indah Bernuansa Tionghoa di Sudut Kota Bandu...

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 07:27 WIB

Masjid Al-Imtizaj ini sekilas tidak terlihat seperti Masjid pada umumnya, melainkan seperti sebuah Kelenteng.

Bandung Raya - Bandung, Masjid Al-Imtizaj, Masjid Indah Bernuansa Tionghoa di Sudut Kota Bandung, Masjid Al-Imtizaj,Sejarah Masjid Al-Imtizaj,Fakta Sejarah Masjid Al-Imtizaj,Cerita Masjid Al-Imtizaj,kaum muslim keturunan Tionghoa,komunitas muslim Tionghoa

Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kota Bandung 19 Juni 2021

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:53 WIB

Lokasi SIM Keliling Online Kota Bandung, Sabtu, 19 Juni 2021 berada di 2 lokasi.

Bandung Raya - Bandung, Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kota Bandung 19 Juni 2021, SIM Bandung,perpanjangan sim bandung,Syarat permohonan SIM Bandung,Cara Buat SIM Bandung,SIM Keliling Bandung,Jadwal SIM Keliling Bandung,Lokasi SIM keliling Bandung,SIM keliling Bandung Hari Ini

Prakiraan Cuaca 19 Juni 2021, Bandung Cerah Tanpa Hujan

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:43 WIB

Cuaca Bandung hari ini, Sabtu, 19 Juni 2021 diprakirakan cerah berawan.

Bandung Raya - Bandung, Prakiraan Cuaca 19 Juni 2021, Bandung Cerah Tanpa Hujan, Cuaca Bandung Hari Ini,Cuaca Bandung,cuaca Bandung BMKG,Prakiraan Cuaca Bandung,Cuaca Bandung Terkini,doa turun hujan,Tips Merawat Jas Hujan

Waktu Salat Kota Bandung 19 Juni 2021

Bandung Sabtu, 19 Juni 2021 | 05:06 WIB

Sebagai panduan untuk bisa menunaikan salat tepat waktu, berikut waktu imsak dan jadwal salat untuk wilayah Kota Bandung...

Bandung Raya - Bandung, Waktu Salat Kota Bandung 19 Juni 2021, Waktu Salat,waktu salat di Bandung,Waktu salat Bandung,Waktu salat Bandung dan sekitarnya hari ini,Jadwal Salat Bandung,jadwal Salat Bandung hari ini

Sekda Jabar Positif, Ridwan Kamil Lakukan Penelusuran Kontak Erat

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 21:46 WIB

Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja dinyatakan positif Covid-19. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan...

Bandung Raya - Bandung, Sekda Jabar Positif, Ridwan Kamil Lakukan Penelusuran Kontak Erat,  Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja,Sekda Jabar Positif Covid-19,klaster gedung sate,Gubernur Jabar Ridwan Kamil

Ridwan Kamil Ingin Metropolitan Rebana Jadi Destinasi Investasi Terbai...

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 21:23 WIB

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak main-main untuk membangun kawasan metropolitan rebana. Bahkan Ridwan Kamil berkei...

Bandung Raya - Bandung, Ridwan Kamil Ingin Metropolitan Rebana Jadi Destinasi Investasi Terbaik Asia Tenggara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,Metropolitan Rebana,Destinasi Investasi Terbaik Asia Tenggara

Pemprov Jabar Rekrut 400 Relawan Medis Penanganan COVID-19

Bandung Jumat, 18 Juni 2021 | 20:34 WIB

Pemda Provinsi Jawa Barat membuka rekrutmen Tim Relawan Medis Penanganan COVID-19. Rekrutmen dilakukan guna memperkuat S...

Bandung Raya - Bandung, Pemprov Jabar Rekrut 400 Relawan Medis Penanganan COVID-19, Pemprov Jabar,Relawan Medis,Penanganan Covid-19,Tenaga Keshatan Covid-19

artikel terkait

dewanpers