web analytics
  

Ini Alasan Keyboard Gunakan QWERTY, Bukan ABCDE

Rabu, 17 Mei 2017 10:00 WIB Arfian Jamul Jawaami
Umum - Unik, Ini Alasan Keyboard Gunakan QWERTY, Bukan ABCDE, Keyboard

Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Ketika pertama kali mengenal komputer dan mengetahui jika susunan huruf pada bidang keyboard ternyata begitu rumit, ,maka lahir pertanyaan kecil: Kenapa tidak menggunakan sistematika susunan abjad yang teratur?

Dikutip dari HowStuffWorks, sebenarnya penggunaan susunan alphabet, yakni kata ABCDE, pada keyboard pernah diterapkan pada mesin ketik praktis generasi pertama yang diciptakan oleh seorang Amerika bernama Christoper Latham Sholes di tahun 1868. Adapun susunan kata ABCDE yang dimaksud sebagai berikut:

-3579NOPQRSTUVWXYZ
2468.ABCDEFGHIJKLM

Jika dilihat maka tidak terdapat angka 0 dan 1 pada susunan keyboard tersebut, sebab saat itu para user lebih gemar menggunakan huruf O dan I untuk menggantinya karena dinilai lebih efektif dan hemat ruang.

Namun seiring meningkatnya kemampuan user, maka akselerasi tempo pengetikan menjadi lebih cepat. Padahal mekanisme mesin kala itu teramat sederhana. Sehingga melahirkan sebuah permasalahan ketika tangkai huruf tertentu yang berdekatan mengalami kegagalan mekanik karena saling mengait atau bertabrakan.

Atas usulan dari seorang produsen mesin ketik bernama Remington, maka Christopher mencoba mengacak kembali susunan keyboard dan kemudian menemukan kombinasi susunan kata yang tersulit yaitu QWERTY. Christopher juga mengganti pola keyboard yang sebelumnya memiliki dua baris menjadi empat baris dengan susunan sebagai berikut:

1234567890
QWERTYUIOP
ASDFGHJKL
ZXCVBNM,.

Kata QWERTY sendiri diambil dari enam huruf pertama bagian atas sebelah kiri pada keyboard. Tujuannya penggunaannya untuk memperlambat proses pengetikan sehingga dapat terhindar dari kesalahan mekanik yang sebelumnya kerap terjadi.

Solusi tersebut ternyata dinilai sangat efisien dan diterima publik. Oleh karena itu, susunan keyboard QWERT dijual ke Remington untuk diproduksi secara massal pada tahun 1873. Hingga kini susunan tersebut masih digunakan dalam keyboard baik untuk komputer maupun gawai.

Selain membuat aktivitas mengetik lebih efisien, beberapa penelitian mengatakan bahwa susunan keyboard QWERTY dapat memudahkan komunikasi dari mesin telegraf. Sebab susunan QWERTY mempermudah dalam menerjemahkan kode morse.

Seiring berjalannya waktu, lahirlah sejumlah desain susunan keyboard lain selain QWERTY. Upaya tersebut lahir sebab susunan QWERTY dianggap memiliki banyak kelemahan seperti membuat tangan kiri dan kelingking overload karena distribusi huruf tidak merata sehingga memaksa jari harus menyeberang ke baris lain.

Salah satu susunan keyboard yang paling populer adalah Dvorak Simplified Keyboard, ciptaan August Dvorak pada tahun 1936. Desain DVORAK diklaim lebih efisien dan egronomis dengan penggunaan kata QWFPGJ dalam susunan awal.

Selain itu, lahir susunan keyboard Colemak dengan kata awal PYFGCR yang diciptakan oleh Shai Coleman dimana dapat meningkatkan kecepatan mengetik hingga dua kali lebih cepat daripada sistem QWERTY. Coleman mengklaim jika sistem Colemak mampu menghindarkan diri dari resiko Repetitive Strain Injury Syndrom alias nyeri otot tangan.

Namun karena tidak ingin mengambil resiko, maka para perusahaan penyedia keyboard tetap menggunakan susunan QWERTY sebagai pilihan utama hinggs kini.

Beberapa negara memiliki susunan keyboard lain dimana disesuaikan dengan pendekatan bahasa seperti QWERTZ yang dipakai negara Hungaria, Jerman dan Swiss serta AZERTY oleh Prancis dan Belgia.

Tag
Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers