web analytics
  

Minim Aksi yang Buat Pelaku Seni Budaya Sunda Gelisah

Kamis, 13 April 2017 16:23 WIB
Gaya Hidup - Komunitas, Minim Aksi yang Buat Pelaku Seni Budaya Sunda Gelisah, Warisan Karuhun, Rebo Nyunda

Penampilan seni tari Keureus di program Rebo Nyunda di Cikapungdung Riverspot, Bandung, Rabu (12/4). (Eneng Reni)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Hakikatnya, budaya warisan leluhur adalah ruh yang seyogyanya tertanam dalam identitas masyarakat. Ya, kiwari ini, warisan leluhur itu setidaknya terangkat oleh segelintir kelompok masyarakat. Yang digiatkan secara nyata, dan bukan wacana.

Gerakan serupa itu pun tidak absen di tengah masyarakat modern. Di Bandung misalnya, ada sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya Relawan Cikapundung Riverspot. Sebuah komunitas pemerhati seni budaya Sunda yang menggagas program pelestarian budaya lewat panggung seni pertunjukan.

Misalnya saja, program Rebo Nyunda yang kerap menampilkan seni-seni tradisional Sunda di kawasan Cikapundung Riverspot setiap hari Rabu malamnya. Baru dua bulan berjalan, agenda Rebo Nyunda pun cukup rajin menggaet pelaku-pelaku seni tradisional Kota Bandung.

Rulli, dari Relawan Cikapundung Riverspot bercerita tentang rasa gelisahnya melihat etalase seni budaya Bandung yang sudah jauh terlempar dari esensi pelestarian budayanya itu sendiri.

“Alasannya begini, ketika saya dan tim Relawan Cikapundung Riverspot miris melihat anak-anak SD. Misalnya di hari Rabu, mereka pakai pangsi-kebaya sebagai konsep 'Rebo Nyunda'. Tapi yang kita sayangkan program Rebo Nyunda, yang katanya sebagai ngamumule budaya Sunda, hanya dianggap sebatas gaya berpakaian. Tapi coba lihat sudah itu apa lagi," keluh Rulli saat berbincang dengan AyoBandung, di sela-sela Rebo Nyunda di Cikapundung Riverspot, Rabu (12/4/2017) malam tadi.

Menurut Rulli, program yang digadang Pemerintah Kota Bandung itu belum sampai pada esensi pelestarian warisan leluhur. “Jadi Pak Wali Kota bikin hari tematik tentang Rebo Nyunda itu hanya sekedar pakaian,” ungkap Rulli.

Oleh sebab itu, sebagai masyarakat yang peduli terhadap penjagaan warisan budaya leluhur, Rulli pun merasa punya kewajiban untuk ikut bergerak dan mengambil aksi. Meskipun bergerak secara swadaya, bagi Rulli, yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk ngamumule budaya Sunda kepada masyarakat. “Sudah, itu aja,” tegasnya.

Setidaknya aksi tersebut bisa memberikan andil nyata dalam upaya menjadikan budaya warisan leluhur tatar Sunda sebagai identitas utama kota kembang ini. “Mereka (orang luar kota – red) yang ingin mencari bentukan budaya Sunda di Bandung ini di mana? Mereka tidak tahu,” tegas Rulli lagi.

Namun sesungguhnya entah sudah berapa destinasi wisata populer di Kota Bandung yang menyajikan seni budaya Sunda sebagai salah satu produk jualannya. Tapi Rulli merasa bahwa hal itu belum cukup untuk mewadahi geliat para pelaku seninya.

“Kalau di sini setiap Rabu malam ada parade kebudayaan. Walaupun urusan dana kita harus cari mati-matian. Tapi setidaknya ini gratis dan terbuka bagi siapapun,” beber Rulli.

Bahkan, Rulli tergugah dengan kesediaan masyarakat untuk hadir dan berpartisipasi menyemarakkan program ngamumule budaya Sunda ini. Misalnya saja para penampil yang sama sekali tidak mendapatkan bayaran dari pihak pengada acara. “Karena atensi, mereka ikhlas bermain di sini. Karena kita sama-sama ingin ngamumule budaya Sunda,” ujarnya. Sebab, kepuasan itu tidak hanya terukur oleh materi.

Baca juga : Hayuk, Urang 'Nyunda' di Dinten Rebo!

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Eneng Reni Nuraisyah Jamil.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers