web analytics
  

Hayuk, Urang 'Nyunda' di Dinten Rebo!

Kamis, 13 April 2017 14:29 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bisnis - Event, Hayuk, Urang 'Nyunda' di Dinten Rebo!, Komunitas Bandung, Rebo Nyunda

Sekelompok anak perempuan menampilkan tari Jaipong di gelaran Rebo Nyunda di Cikapundung Riverspot, Bandung, Rabu (13/4). (AyoBandung/Eneng Reni)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Di tengah rintik hujan yang turun pada Rabu malam tadi, sejumlah penikmat dan pelaku kesenian tradisional Sunda menyatu dalam balutan satu visi. Demi pelestarian warisan leluhur tatar Priangan.

Lima anak perempuan berlenggok gemulai di area air mancur Cikapundung Riverspot, Bandung. Disorot lampu rupa-rupa warna, kosa gerak yang keluar dari tubuhnya terlihat makin lincah. Cantik, genit. Malam itu, lima anak perempuan tersebut didaulat untuk menjadi penampil tari Jaipongan, tari pergaulan tradisional kepunyaan urang Sunda.

Penampilan tari tradisional Sunda yang berasal dari Karawang itu menjadi salah satu materi dalam program Rebo Nyunda pada kesempatan hari Rabu, 12 April 2017. Tak ketinggalan, sekelompok ksatria cilik pun unjuk gigi dengan menunjukkan kebolehannya dalam seni bela diri Pencak Silat.

Dua tampilan di atas hanya segelintir kecil etalase seni di program Rebo Nyunda. Sebuah program yang dibentuk dalam upayanya untuk melestarikan para pelaku seni budaya Sunda. Ngamumule budaya Sunda sebagai identitas budayanya.

Rangkaian program Rebo Nyunda ini telah diselenggarakan terhidung sejak 8 Februari 2017. Baru dua bulan usianya. Namun Rebo Nyunda dengan tegas mengusun pesan edukasi pelestarian budaya Sunda, terkhusus untuk generasi muda, dalam setiap rangkaian acaranya. Program ini secara rutin digelar setiap hari Rabu malam, ba'da Maghrib, dalam setiap pekannya di kawasan Cikapundung Riverspot, Bandung.

Koordinator Program Rebo Nyunda, Rulli mengungkapkan bahwa sudah menjadi fokus dirinya bersama kawan-kawan untuk terus mengajak seluruh elemen masyarakat dari berbagai kalangan untuk saling berpegangan tangan, bersam-sama melestarikan warisan budaya leluhur.

“Program rebo Nyunda ini intinya kami ingin mengedukasi mental anak-anak  untuk berani pentas dan bangga terhadap budaya Sunda yang menjadi identitas tanah kelahiran kita ini,” ungkap Rulli saat berbincang dengan AyoBandung di sela-sela gelaran Rebo Nyunda, Rabu (12/4/2017) malam tadi.

Segala bentuk kesenian Sunda diwadahi dan diapresiasi secara penuh di program Rebo Nyunda ini. Terutama bagi anak-anak, mengingat mereka (anak-anak – red) saat ini menjadi kunci pelestari budaya di masa depan. Rabu malam kemarin misalnya, mayoritas penampil berasal dari bocah-bocah cilik yang memang gemar dengan kesenian Sunda. Ada tari Jaipong, Pencak Silat, tari Keurseus, dan masih banyak lagi.

“Kami dari tim relawan akan mewadahi dan memang menjadi kesediaan kami untuk memberikan ruang bagi pelaku seni budaya Sunda ini,” ujar Rulli menambahkan.

Bicara soal atensi, Ruli menyebut bahwa saat ini masyarakat Bandung sudah mulai tergerak untuk memberikan apresiasinya terhadap program Rebo Nyunda. Terbukti dengan banyaknya pelaku, juga penikmat, yang tergabung di Rebo Nyunda ini. “Kalau dulu kita yang nyari. Kalau sekarang mereka yang nyari kita buat ikut partisipasi di sini,” tambahnya.

Rulli berharap agar program Rebo Nyunda ini bisa menjadi satu wadah silaturahmi para pelaku dan pemerhati seni budaya Sunda. Juga sebagai wadah edukasi secara langsung tentang kecintaan anak-anak pada seni budaya Sunda.

“Kami ingin bilang kalau pelestarian budaya Sunda tidak hanya terbatas melalui sebuah sanggar atau pasanggiri,” tegas Rulli. Namun, seperti Rebo Nyunda, yang encoba memanfaatkan fasilitas ruang publik sebagai wadah-wadah apresiasi. Agar ke depan semoga Cikapundung Riverspot ini jadi wadah yang potensial untuk mengasah kecintaan masyarakat pada warisan leluhurnya.

Mangga tampil di sini, untuk sama-sama ngamumule budaya kecintaan urang sarera. Begitu ucap Rulli menutup perbincangan.

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers