web analytics
  

Konsep Seni Partisipatoris untuk Bandung

Selasa, 28 Maret 2017 16:12 WIB Anggun Nindita Kenanga Putri
Bandung Raya - Bandung, Konsep Seni Partisipatoris untuk Bandung, seni bandung

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Entah berapa banyak bangunan bernilai artistik tinggi di Kota Bandung. Bangunan-bangunan artsy itu kerapkali menjadi objek ‘ke-aku-an’ bagi sebagian besar orang. Entah itu terkagum-kagum pada sebuah patung, kemudian menangkapnya dalam sebuah bingkai foto dan mengunggahnya di akun media sosial agar dianggap jadi orang yang berkesenian. Pada akhirnya, masyarakat akan lebih fokus terhadap nilai kebendaan dibandingkan dengan maknanya.

Tanpa mau menyalahkan globalisasi sebagai tersangka. Namun mau tidak mau, hal-hal seperti demikian ujung-ujungnya akan berakar pada globalisasi yang semakin meracuni masyarakat dengan kegilaan-kegilaannya.

Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki keunggulan dalam bidang teknologi dan kreatifitas, justru malah dihadapkan dengan persialan tingginya sikap individual yang terbangun dalam masyarakat. Alhasil, orientasi individu makin terpusat pada kepentingan dirinya sendiri, tanpa perlu memahaminya dalam-dalam.

Setidaknya, bahasan itu menguak dalam Pertemuan Forum Seni Bandung yang mengangkat tema Estetika Partisipatori di Jalan Cianjur, Bandung, Jum’at (24/3/2017). Kegiatan ini dirancang sebagai proses rangkaian awal menjelang perhelatan Festival Seni Bandung #1 : Air Tanah dan Udara pada Oktober 2017 mendatang.

Ya, kehidupan di abad digital ini menjadikan sikap individual sebagai primadona. Dalam lingkup seni, sesungguhnya konsep seni partisipatoris bisa jadi suatu pengingat akan sikap individual yang semakin kebablasan.

Pada praktiknya, seni partisipatoris akan bekerja bersinambungan dengan masyarakat. Para seniman akan menjadi seorang fasilitator penyampai pesan kepada masyarakat untuk memberikan makna kembali terhadap karya-karya yang sudah direnggut oleh kecanggihan zaman.

Kesenian diharapkan menjadi jembatan untuk memperbaiki ikatan sosial dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam pengkaryaan, sehingga bisa menjadi lebih kritis terhadap kondisi di sekitarnya, baik dari sosial, keilmuan, maupun politik.

“Seni parsitipatoris menolak asumsi adanya perbedaan antara seniman dan masyarakat. Seniman bukanlah seorang yang ahli di atas masyarakat penonton yang tadi telah dijelaskan. Tidak ada lagi batasan baik dari ilmu maupun budaya,” papar Peminat Estetika dan Kajian Seni, Dirdho Adhityo.

Di negara-negara maju, praktek seni partisipatoris menjadi hal yang penting. Di Indonesia sendiri, khususnya Bandung, praktik seni partisipatoris lebih banyak bersifat menjaga keutuhan dibandingkan dengan memperbaiki ikatan sosial. “Kondisi sosial di kita masih terbilang aman dan belum seperti di negara-negara barat. Meskipun kecenderungan untuk itu masih saja ada,”  tutur Dirdho.

Pada akhirnya, dalam era globalisasi ini, pemaknaan kehidupan manusia bisa jadi hanya sebagai ‘masyarakat penonton’. Di sini, lanjut Dirdho, seharusnya seni bisa muncul dengan menekankan pada interaksi manusia dengan konteks sosialnya.

Dalam kehidupan kosmopolitan sebuah kota misalnya, ekspresi manusia bisa tumbuh tanpa batas. Apalagi seiring dengan berkembangnya teknologi, manusia pun kian bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhannya.

Kehadiran teknologi, tambah Dirdho,  bukan lagi dinilai sebagai pendukung, tapi bisa jadi sebagai pemain utama. Dalam suatu skema yang besar, manusia bisa berjejaring dengan siapapun atau apapun yang mereka inginkan.

“Trennya sekarang adalah internet of everything, padahal sebenarnya awalnya itu adalah internet of thing. Maka seni relasional adalah menjadi penengah bahwa seni tidak hanya soal artistik saja namun menjadi titik temu antara manusia dan relasi sosialnya,” tutupnya.

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers