web analytics
  

Review Buku : Memaknai Kembali Kebebasan dari Mata Arahmaiani

Selasa, 21 Maret 2017 19:19 WIB Asri Wuni Wulandari
Gaya Hidup - Komunitas, Review Buku : Memaknai Kembali Kebebasan dari Mata Arahmaiani, review buku, arahmaiani

Buku "Memaknai Kembali Kebebasan" karya Arahmaiani.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dinamika dalam kehidupan kerap menunjukkan berbagai aspek peradaban. Bukan hanya sekedar wilayah yang dianggap seni, namun juga memasukan aspek kemanusiaan, moderinasi, budaya, isu lingkungan, agama, sampai dengan tentang kesetaraan gender. Hal inilah yang diangkat dalam buku Memaknai Kembali Kebebasan karya Arahmaiani.

Sosok Arahmaiani memang terkenal dalam dunia seni kontemporer Indonesia. Karyanya tersebar lewat media performans, gambar, lukisan, video, puisi, seni tari, dan musik.

Sumber utama dari buku Memaknai Kembali Kebabasan ini adalah problematika tentang kehidupan dan kemanusiaan. Hidup yang dijalani oleh manusia juga tidak akan terlepas dari budaya. Namun kenyataannya, budaya yang dahulunya menjadi fokus utama, kini malah tergerus oleh sesuatu yang dinamakan ‘kebebasan’. Iya, kebebasan yang ujung-ujungnya kebablasan.

Individu kini seakan memiliki otoritas yang berlebih sampai ke titik paling ekstrim. Akibat kebebasan yang berlebihan itulah, kini yang tadinya hanya sekedar individualis, berubah menjadi egosentris.

Kegelisahan Arahmaiani juga tertuang dalam beberapa pemikirannya tentang teknologi yang menjadi penyebab awal sebuah kebebasan. Dirinya sudah merasa gelisah sejak lama, tepatnya sejak tahun 1987 silam. Kini di zaman modern seperti sekarang, efeknya sudah tidak bisa dibendung lagi. Contohnya saja, makin maraknya perdebatan yang dipacu oleh seseorang yang ‘berkoar-koar’ di media.

Pada titik tertentu, yang sebenarnya terjadi adalah kebebasan yang kita terima selama ini. Diri kita – sebagai individu -- sendiri lah yang belum siap menerima kebebasan yang dimaksud. Mungkin saja kita sudah siap untuk berbicara bebas di depan khalayak, namun kita belum siap untuk mendengar seseorang yang berbeda cara pandang dengan kita.

Seniman asal Bandung ini juga mengungkapkan efek terburuk dari kebebasan yang disebut : degradasi lingkungan. Di mana kebebasan itu bisa merusak hubungan antara manusia sebagai makhluk sosial. Gara-garanya, apalagi kalau bukan pandangan manusia yang terlalu berfokus pada dirinya sebagai sosok individu yang egosentris.

Untuk mengatasi masalah yang tak henti-hentinya itu sebenarnya bisa difokuskan dengan perbaikan lingkungan dan penerapan adaptasi. Terkadang kita tidak siap dengan perubahan, lalu akhirnya mengikuti perubahan tersebut dengan terpaksa tanpa mengetahui apa saja dampak baik dan buruknya untuk diri kita.

Dalam buku ini juga dibahas beberapa hal yang yang disangkutkan dengan berbagai macam teori, baik dari filsafat, budaya, teknologi, juga science. Bagi seniman yang baru saja menjadi nominasi dalam Joseph Balestier Award – sebuah ajang seni bergengsi di Singapura – teori tak ubahnya sesuatu yang abstrak. Pada akhirnya, manusia modern diharapkan untuk bisa melihat titik temu hal yang abstrak untuk kemudian menjadi hal yang konkrit.

(Anggun Nindita)

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers