web analytics
  

Mata Air Tjibadak dan Kisah Lalu Kawasan Ledeng

Senin, 20 Maret 2017 15:02 WIB Asri Wuni Wulandari

Tempat penampungan air terbesar di Kota Bandung yang dibangun pada 1921 silam, Gedong Cai. (AyoBandung/Arfian Jamul)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Panceg dina galur, kawasan Ledeng sebagai simbol urban sebuah kota, rupanya tetap mempertahankan cerita nenek moyang secara turun temurun. Situs karuhun dijaga agar lestari sebagai bekal syukur generasi muda.

Adalah mata air Tjibadak yang terletak di Kampung Cidadap Girang, Ledeng, Bandung. Sebuah sumber air terbesar yang dimiliki Bandung hingga saat ini, dimana proses penggalian tanah dilakukan sendiri oleh tokoh masyarakat bernama Ki Mang Abay atas inisiasi Pemerintah Kolonial Belanda pada 1921 silam.

Menurut catatan, kawasan yang kini dikenal dengan nama Ledeng ini mulanya bernama Kampung Cibadak. Secara epistimologi, nama ‘Cibadak’ berarti ‘Cai Badag’ atau air yang melimpah. Oleh pemerintah Hindia, sumber mata air yang melimpah dari tempat ini dibuatkan bangunan pelindung untuk kemudian disadap dan dialirkan melalui saluran pipa besar yang ditanam di dalam tanah. Bangunan pelindung itu dikenal dengan nama Gedong Cai.

Pipa-pipa saluran air inilah yang menjadi cikal bakal nama Ledeng yang diambil dari bahasa Belanda, leiding, yang berarti pipa saluran. Hingga kini, konon pipa-pipa itu masih tertanam dan digunakan sebagai alat instalasi saluran distribusi air di Kota Bandung.

Pembangunan Tjibadak yang berlangsung ketika Bandung dipimpin oleh Bertus Coorps ini miliki beragam alasan. Selain untuk mengaliri kebutuhan air ke seluruh kota dan perkebunan, pembangunan ini juga bertujuan dalam rangka mempersiapkan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda.

"Dinamakan Tjibadak karena besarnya sumber air karena menghasilkan hampir 100 liter air dalam satu detik sehingga dapat mengaliri seluruh sudut Kota Bandung," ujar tokoh masyarakat Ledeng Haris Muhammad Ramdani saat Festival Gedong Cai pada Minggu (19/3/2017).

Napak tilas jejak pendahulu kerap dilakukan pemuda Ledeng guna mengenang perjuangan tiga laskar dalam pertempuran Bandung Utara. Ketiga pejuang tersebut bertugas menjaga situs mata air Tjibadak yang terdapat di Kampung Cidadap Girang dari tangan Belanda. Adalah Sersan Bajuri, Sersan Sodik, dan Sersan Surip yang menjaga Tjibadak di tiga akses berbeda.

Berkat pengaruh besar Tjibadak terhadap kebutuhan air bagi seluruh masyarakat Bandung bagian tengah -- yang pada saat itu dikuasai oleh Belanda-- menjadi alasan ketiga Laskar Bandung Utara bertahan menjaga lembur.

Mereka percaya ketika menguasai sumber air maka dapat menduduki Bandung secara keseluruhan. Akhirnya, ketiga pejuang itu pun menutup sumber air Tjibadak hingga tidak dapat mengalir ke seluruh kantor Pemerintahan Belanda yang terdapat di Bandung Tengah.

"Saat itu kawasan Bandung Utara memang dikenal sebagai tempat para pejuang pribumi. Sedangkan Bandung Tengah oleh Belanda," ujar seniman dan pimpinan Komunitas Celah-Celah Langit Iman Soleh.

Bahkan aliran air Tjibadak pernah diberi racun saat menjelang Peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu dalam radius 500 meter dari kawasan Tjibadak sempat dibangun camp sementara sebagai tempat perlindungan para pejuang beristirahat.

Namun pertempuran Bandung Utara terbesar justru berlangsung di depan gerbang Universitas Pendidikan Indonesia saat ini. Tepat di depan sebuah penjara panjang bernama rumah tambayong (sekarang Hotel Ponti) yang pada jaman kemerdekaan pernah ditemukan 29 fosil mayat.

Sebagai penghargaan atas perjuangan dalam pertempuran Bandung Utara maka penamaan jalan di tiga lokasi penjagaan tersebut dinamakan serupa nama ketiga lascar : Jalan Sersan Bajuri, Jalan Sersan Surip, dan Jalan Sersan Sodik.

Jadi, apa yang seharusnya kita ingat dari kawasan Ledeng dan atribut-atributnya? Adalah air yang berlimpah, yang kini telah hilang.

(Arfian Jamul)

Baca juga : Pesan Jangan Meminta Air Karena Kehausan dalam Festival Gedong Cai

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers