web analytics
  

Pesan Jangan Meminta Air Karena Kehausan dalam Festival Gedong Cai

Senin, 20 Maret 2017 14:35 WIB Asri Wuni Wulandari
Gaya Hidup - Komunitas, Pesan Jangan Meminta Air Karena Kehausan dalam Festival Gedong Cai, festival gedong cai, gedong cai ledeng, mata air tjibadak, komunitas celah celah langit

Peserta tengah melakukan perjalanan menuju Gedong Cai dalam gelaran Festival Gedong Cai 2017, Bandung, Minggu (19/3). (AyoBandung/Arfian Jamul)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Jangan sampai generasi kita kelak meminta air pada ibunya karena kehausan. Kiranya kalimat itu yang diucapkan Tokoh Masyarakat Ledeng, Bandung, Haris Muhammad Ramdhani, sebagai pernyataan kojo dalam gelaran Festival Gedong Cai 2017 yang digelar berkat inisiatif Karang Taruna Kelurahan Ledeng serta Komunitas Celah-Celah Langit pada Minggu, 19 Maret 2017.

Festival yang digelar dalam rangka memperingati hari air sedunia ini juga bertujuan untuk mengingatkan masyarakat atas pentingnya air bagi kehidupan.

Gedong Cai atau Gedung Air merupakan gedung tempat penampungan air yang dibangun Belanda pada 1921 silam. Lokasinya tepat berada di bibir sebuah ceruk jurang yang tidak terlalu dalam. Pohon bambu dan aren kerap muncul di sekitarnya, menandakan bahwa tempat tersebut pastilah menyimpan kandungan mata air. Ya, pada masanya, Gedong Cai bertugas untuk melindungi seluruh sumber air yang ada di kawasan Kampung Cibadak atau yang kini dikenal dengan sebutan Ledeng. Kini, Gedong Cai masih berfungsi untuk mengaliri air bagi warga dan hotel-hotel yang ada di sekitar kawasan Ledeng.

"Ini bentuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan," ujar Koordinator Acara, Adew Habtsa.

Lewat seni dan budaya, Gedong Cai mengingatkan kembali bahwa kawasan Ledeng sangat penting. Bukan hanya untuk hari ini, pun untuk generasi mendatang lantaran kebutuhan akan air seringkali tidak dapat terpenuhi gara-gara segelintir kepentingan.

"Kita itu kekurangan sebab untuk bersikap. Kekurangan modal untuk sebuah identitas diri. Maka saya percaya jika cara yang paling mudah untuk menumbuhkan kadeudeuh adalah lewat seni dan kebudayaan," ujar Adew.

Hipotesa Adew di atas muncul mengingat beberapa pembangunan yang mengancam kelestarian alam gencar dilakukan pihak swasta di kawasan Bandung Utara sebagai daerah penghasil dan serapan air. Bahkan, beberapa pembangunan sempat diserang oleh berbagai bentuk protes warga. Misalnya saja pengerjaan taman wisata pada 2011 silam yang berhasil dihentikan warga baru di tahun 2016.

Namun beberapa pembangunan seperti perumahan sudah kadung rampung. Serta beberapa pembangunan lain yang konon siap digulirkan. Ujung-ujungnya pembangunan yang tengah disiapkan itu mengakibatkan adanya pengambilan volume debit air yang bersumber dari mata air Tjibadak. Sehingga pasokan air bagi masyarakat Bandung pun kian berkurang.

Kondisi masa lalu menggambarkan jumlah penduduk yang sedikit, namun suplai air yang berlimpah. Namun, hal itu malah berbanding terbalik dengan kondisi kiwari. Dimana penduduk bertambah banyak, namun suplai air tidak juga mengalami peningkatan. Sebabnya apa lagi jika bukan gara-gara pembangunan? Satu hotel saja dapat mengambil hingga ribuan kubik mata air. Padahal kapasitas sumber air Tjibadak dapat mengaliri air hingga Cibereum dan Buah Batu.

Bahkan kini, sejumlah warga Ledeng mesti mengambil air yang bersumber dari hujan dan solokan hasil aliran mata air lain di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Padahal jaraknya dengan mata air Tjibadak sangatlah dekat, miris.

"Bukan berarti menolak adanya pembangunan, namun mengidamkan sebuah kebijaksanaan," ujar Adew. Dampak negatif dari sebuah pembangunan sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah lokal dan pengembang swasta semata. Dalam hal ini, peran warga pun dinilai begitu vital. Kian menyusutnya lahan setiap tahun terjadi lantaran sebagian warga lebih memilih untuk menjual tanahnya pada pihak swasta

Oleh karena itu, tampaknya Bandung perlu merencanakan sebuah tata ruang dan wilayah yang sesuai dengan kebutuhan kota secara menyeluruh.

"Sekarang tiga sumber air penyalur di Ledeng yang berasal dari Tjibadak sudah enggak ada karena debit berkurang," ujar Ketua Karang Taruna Kelurahan Ledeng, Pepi Mahmudin.

Festival Gedong Cai sendiri diawali dengan pertunjukan kesenian musik ‘Bring Brung’ atau seni terebang khas kawasan Ledeng. Dengan menggunakan alat musik pukul yang dikenal sebagai media penyebaran Islam secara turun menurun.

"Bring Brung dilakukan harus di awal acara. Bukan di tengah atau di akhir karena merupakan media pengumpul massa," ujar Adew.

Dalam acara tersebut juga dilakukan prosesi melak tangkal atau menanam tumbuhan akasia sebanyak 36 buah di sekitar mata air Tjibadak. Akasia memang dikenal sebagai tumbuhan yang memiliki kemampuan dalam menyerap air.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan ngaliwet diiringi pergelaran seni dan musik tradisional yang menggunakan beragam gelaran musik tradisional seperti didgeridoo (atau biasa dilafal dijeridu, alat musik khas Suku Aborigin), celempung kendang, kacapi jentreng, tarawangsa, gamelan sunda, dan gong.

Selain sekedar memperingati hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret, Gedong Cai mengajarkan serta mengingatkan pada warga untuk dapat selalu menjaga dan mensyukuri air sebagai sumber kehidupan.

(Arfian Jamul)

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers