web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tunawisma Masih Menumpuk, Dinsos Bandung Ajak Warga Kurangi Pengemis

Jumat, 24 Februari 2017 11:14 WIB Asri Wuni Wulandari

Ilustrasi -- RAZIA GELANDANGAN. Dua petugas mengamankan gelandangan saat razia pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di Tegal, Jateng, Senin (29/1). Razia gabungan Dinas Sosial, Satpol PP dan Polres Tegal Kota tersebut menjaring 18 gelandangan dan selanjutnya dikirim ke panti sosial untuk pembinaan dan latihan ketrampilan. (ANTARA FOTO/OKY LUKMANSYAH)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Urusan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) bak persoalan tak berujung. Hingga kini, persoalan PMKS itu masih saja jadi pekerjaan rumah Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan (Dinsosnangkis) Kota Bandung.

Tengok saja para tunawisma yang masih ditemukan di sudut-sudut Kota Bandung. Jumlahnya yang masih banyak membuat Dinsosnangkis menengarai bahwa akar permasalahan ini terjadi akibat masih banyaknya masyarakat yang sering memberikan santunannya secara langsung.

Kepala Dinsosnangkis Kota Bandung, Tono Rusdiantono menghimbau pada masyarakat agar tidak memberikan santunan secara langsung pada pengemis.

“Saya sudah melakukan larangan ini minggu kemarin untuk tidak memberikan bantuan uang secara langsung, seperti yang sering dilakukan para pengendara motor atau mobil terhadap sejumlah pengemis di jalanan," ungkap Tono saat ditemui di Binongjati, Bandung pada Kamis (23/2).

Upaya untuk mengurangi jumlah PMKS, khususnya pengemis di Kota Bandung, akan lebih mudah jika dilakukan dengan adanya kerjasama dari masyarakat. Kehadiran pengemis itu, menurut Tono, dipicu oleh masih banyaknya warga yang merasa ibu pada mereka (gelandangan-red).

Kendati demikian, Tono yakin bahwa jumlah pengemis di Kota Bandung sudah mengalami penurunan. Data Dinsosnangkis pada tahun 2013 mencatat ada sekitar 6.000 pengemis yang masih berkeliaran di Kota Bandung. Kini, ia memprediksi angka jumlah pengemis cenderung menurun. Pasalnya, lanjut Tono, Pemerintah Kota Bandung telah berupaya dengan berbagai hal seperti bantuan pangan non-tunai, pemberian fasilitas kesehatan, dan pendidikan gratis.

Selain itu, sebagian besar pengemis yang berkeliaran adalah mereka yang justru berasal dari luar Kota Bandung. Tono mengatakan bahwa pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan beberapa daerah, meskipun masih sebatas di tingkat Jawa Barat.

"Kalau yang warga kota Bandung kita berdayakan, kita edukasi. Tapi karena pengemis kebanyakan datangnya dari luar kota, paling kita kembalikan ke daerah asalnya," tuturnya 

(Arditya Pramono)

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers