web analytics
  

Sulit Tidur? Peneliti Menyarankan Untuk Pergi Berkemah

Senin, 20 Februari 2017 13:20 WIB Asri Wuni Wulandari
Umum - Unik, Sulit Tidur? Peneliti Menyarankan Untuk Pergi Berkemah, insomnia, sulit tidur

(Getty Images/ Peter Cade)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Ketika godaan dari kehidupan modern seperti ponsel dan televisi membuat tidur menjadi sulit, ada baiknya untuk mengambil tenda dan pergi berkemah.

Nasihat tersebut berasal dari para peneliti di AS lewat sebuah penelitian lapangan yang mereka lakukan. Penelitian itu menemukan bahwa orang-orang jatuh tertidur sekitar dua jam lebih awal daripada biasanya jika akses terhadap gawai serta cahaya listrik dibatasi dan pergi berkemah di gunung.

Sebagai contoh, menghabiskan akhir pekan di kehidupan liar Pegunungan Rocky, Colorado, dapat membantu mengatur ulang jam internal tubuh dan membalikkan kecenderungan cahaya artifisial yang mendorong waktu tidur menjadi larut malam.

Kegiatan di luar ruangan, disimpulkan oleh para peneliti, dapat menjadi obat penawar bagi mereka yang sering menguap sepanjang hari.

“Lingkungan modern kita benar-benar merubah pengaturan jam internal tubuh kita,” kata Direktur Laboratorium Tidur dan Kronobiologi Universitas Colorado, Kenneth Wright. “Tetapi di sisi lain, hal itu juga merubah pengaturan waktu tidur internal kita,” tambahnya.

Guna mengetahui efek merubah dari lingkungan alam, Wright mengirim lima koleganya yang berumur 21 hingga 39 tahun untuk berkemah selama enam hari di Pegunungan Rocky saat Desember lalu.

Lima orang itu meninggalkan sumber cahaya buatan serta gawai mereka di rumah, dan hanya ditemani cahaya matahari, bulan, dan api unggun sebagai penerang.

Hasilnya, mereka pergi tidur lebih awal dua setengah jam dibandingkan ketika mereka tidur di rumah. Mereka pun tidur hampir 10 jam per malam dibanding tujuh setengah jam waktu tidur mereka yang biasa.

Hasil pantauan menunjukkan mereka lebih aktif saat siang hari dan terekspos oleh cahaya matahari 13 kali lebih banyak dibandingkan yang mereka dapatkan di rumah.

Tidak lama setelah selesai berkemah, mereka kembali ke laboratorium dimana para ilmuwan mengukur naik turunnya melatonin atau hormon tidur di tubuh mereka. Efeknya, melatonin mereka mulai naik kurang lebih dua setengah jam lebih awal dibandingkan sebelum mereka berkemah.

“Bahkan dengan sampel yang sedikit kami mendapat efek yang kuat,” kata Wright. Hal yang serupa berlaku bagi semua orang, bagaimana jam sirkadian kita merespons siklus cahaya dan kegelapan natural merupakan bagian fisiologi dasar kita.

Namun, itu tidak berarti berkemah merupakan kegiatan wajib bagi mereka yang memiliki masalah tidur. Wright memiliki kabar baik untuk mereka yang tidak suka berkemah. Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari jika orang-orang tidak ingin mengantuk dan tertidur saat bekerja atau bersekolah, katanya.

Untuk itu, para ahli merekomendasikan untuk mendapatkan cahaya natural yang lebih banyak. Salah satu caranya yakni berjalan-jalan di luar ruangan, atau membiarkan lebih banyak cahaya masuk ke dalam ruangan, atau juga duduk di dekat jendela.

Satu hal penting lainnya, ialah meredupkan cahaya ruangan pada saat malam hari., tuturnya.

(Gisa Vadhika Sacawisastra)

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers