web analytics
  

Suram dan Manisnya Kisah Para Penderita Kanker

Selasa, 14 Februari 2017 20:30 WIB Asri Wuni Wulandari
Bandung Raya - Bandung, Suram dan Manisnya Kisah Para Penderita Kanker, kanker

Dila Audina, seorang perempuan mantan penderita kanker. (AyoBandung/Arfian Jamul)

BANDUNG, AYOBANDUNG -- Kanker menjalar liar merasuk tubuh, ganas, dan tanpa kendali. Menciptakan rasa putus asa dan ketakutan bagi penderitanya. 

Kanker identik sebagai penyakit urban masyarakat modern. Kini anggapan tersebut gugur semenjak ditemukannya kerangka tulang manusia berusia 3200 tahun yang dipenuhi jejak metastasis kanker

Temuan itu adalah bukti tertua mengenai penyebaran penyakit dengan siklus sel mematikan tersebut. Kendati merupakan salah satu penyebab terbesar kematian, namun jejak kanker nyaris absen dari temuan arkeologis. 

Dila Audina, seorang survival kanker leukemia, harus rela ketika neoplasma ganas menemani masa kecilnya. Sejak usia tiga tahun, Dila berkawan baik dengan rentetan terapi pengobatan kanker seperti radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi. 

"Saya pernah mengalami koma. Hingga pembuluh darah pecah karena radiasi," ujar Dila pada AyoBandung, Selasa (14/2/2017).

Tujuh tahun berselang, jeratan kanker beranjak menjauh dari Dila. Kini, perempuan berusia 23 tahun itu girang. Ia bisa kembali menumbuhkan rambutnya. Atau juga sekedar merasakan nuansa salon dan tajamnya gunting ketika berhelai-helai rambutnya dipotong.

Namun bukan berarti Dila sama sekali tak pernah kesal dengan kondisinya. “Emosi dan kemarahan selalu ada,” ujarnya. Namun, semangatnya yang tinggi membuatnya terus bertahan untuk menjalani pengobatan hingga dirinya dinyatakan sembuh.

Saat ini Dila telah kembali pada aktivitas normalnya. Ia telah menikah dan memiliki buah hati. "Jangan pernah berhenti berharap," ujarnya.

Kisah serupa pun dialami seorang dokter Ahli Penyakit Tropis dan Infeksi, Primal Sudjana. Pria yang pernah menderita kanker nasofaring stadium tiga ini bahkan mengaku sempat merasakan tawarnya segala rasa karena proses radioterapi.

"Ketika selesai terapi berat badan jadi 49 kilogram dan semua celana jadi berasa sarung," ujar Primal berseloroh.

Kekuatan dalam pikiran pada akhirnya memang akan sangat mempengaruhi proses pengobatan. Bersikap pasrah dan ikhtiar adalah jalan yang membuat Prima merasa tenang.

Sekarang Primal mengaku bisa merasakan bahwa sehat adalah karunia luar biasa, meskipun tiga kuku jarinya pernah lepas lantaran penyakit kanker yang dideritanya.

(Arfian Jamul)

Tag
Editor: Asri Wuni Wulandari

artikel terkait

dewanpers