web analytics
  

Cak Budi Melihat Dunia Lewat Sedekah

Minggu, 12 Februari 2017 19:14 WIB Asri Wuni Wulandari
Gaya Hidup - Komunitas, Cak Budi Melihat Dunia Lewat Sedekah, komunitas bandung

Cak Budi bersama Biah. (AyoBandung/Arfian Jamul)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dunianya tidak pekat karena mata. Rangkaian gigi hilang ditelan usia serta rupa yang beranjak mengerut seakan menyapa kematian. Biah adalah nenek tua asal Bandung, satu dari banyak lanjut usia yang terisak bahagia ketika memeluk aroma tubuh seorang pria bernama Cak Budi.

Cak Budi hanya seorang pria dengan dua tangan dan kaki layaknya manusia biasa. Namun aktivitasnya membantu para lansia bertahan hidup adalah perbedaan yang mengetuk banyak palung hati terdalam.

"Sumber kebahagiaan bukan selalu soal materi semata tapi ini tentang rasa di hati," ujar pria yang akrab disapa Cak Budi ini pada AyoBandung, Jumat (10/2) lalu.

Beranjak satu tahun Cak Budi bergeliat keliling negeri guna menyambangi para lansia kurang beruntung. Ratusan kaum paruh baya dilayani melalui donasi dan bedah rumah.

"Kenapa lansia? Mereka harusnya menikmati masa tua karena tenaganya sudah tidak laku. Namun malah tetap bekerja keras. Bukan mengejar kemewahan, namun malah cari cara untuk bertahan hidup," ujar Cak Budi. 

Sebelum ini Cak Budi hanya bekerja sebagai supir truk yang menghabiskan hari di jalanan berdebu. Perjalanan itu membuat pria asal Malang ini banyak melihat dunia kaum pekerja menengah ke bawah.

Bersama istri, Lina Yusi Anggrawati, Cak Budi memulai kegiatan berbagi justru ketika keadaan ekonomi sedang terhimpit. Dengan menggunakan anggaran pribadi seadanya, ia menyusuri kampung mencari lansia kurang beruntung di tempat kelahirannya. 

"Berbuat baik itu enggak harus menunggu kaya atau sukses karena sedekah yang paling baik justru ketika kita sedang terhimpit. Semuanya terjadi berkat peran istri saya," kata Cak Budi.

Sembari menangis, Cak Budi menceritakan penyesalannya karena langkah yang lamban membuat bantuan belum terlanjur disalurkan karena penerima terlebih dahulu meninggal. 

"Sesak rasanya maka sekarang sebisa mungkin saya kerja cepat ketika dapat info langsung bergerak. Tidak ada sejarahnya seseorang miskin karena sedekah," ujar Cak Budi.

Pria lulusan SMP tersebut sebelumnya pernah berada dalam lingkaran hitam adiksi minuman keras sedari muda. Bahkan, kata Cak Budi, ketika dirinya masih berada di zaman ‘jahiliyah’, ia bahkan tak tahu kapan waktu shalat. “Kita punya telingan tapi tuli buat mendengar adzan,” katanya.

Harapan terbesarnya adalah mendirikan panti jompo dan rumah asuh yatim piatu di kediamannya. Merawat orang tua kurang beruntung baginya seperti hal yang membuat ketagihan. Bahkan, mimpinya adalah mendapati banyak lansia di rumahnya. “Enggak apa, soalnya mimpi itu gratis,” ujarnya berseloroh.

Cak Budi pun mencoba meraih mimpinya lewat Komunitas Suami Istri Bahagia (Suisba) Peduli, sebuah komunitas sosial yang ia dirikan sendiri. Kini, Suisba tersebar di banyak kota di Indonesia, sebagai kepanjangan tangan dari Cak Budi. 

Melalui akun instagram @cakbudi_ ia sering kali mengunggah profil para kaum paruh baya kurang beruntung yang membutuhkan uluran tangan donatur. Tak jarang juga Cak Budi membuat beberapa pemimpin daerah turun gunung untuk menyambangi warganya yang terhimpit.

Saat ini, Cak Budi hanya menerima donasi melalui situs crowdfunding Kitabisa. Atau Cak Budi pun siap jika harus menemani sang donator untuk menyambangi langsung para penerima bantuan.

Itulah, kesenjangan sosial memang menjadi persoalan yang tak kunjung rampung.

 

(Arfian Jamul)

 

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers