web analytics
  

Laporan Khas: Pasar Kondotel Berpotensi Turunkan Okupansi Hotel

Kamis, 1 Desember 2016 08:50 WIB Adi Ginanjar Maulana
Gaya Hidup - Wisata, Laporan Khas: Pasar Kondotel Berpotensi Turunkan Okupansi Hotel, hotel,kondotel,phri,phri jabar,phri kbb,apersi,ap2rsi,perumahan,properti

Salah satu hotel di Kota Bandung. terlihat megah, Rabu (30/11/2016). (Danny/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Jawa Barat menilai keberadaan kondominium dan hotel atau kondominium berpotensi menurunkan okupansi pasar hotel.

Ketua PHRI Jabar Herman Muchtar mengatakan investor kondotel bersama pemilik hotel sudah melakukan perjanjian agar tidak saling merebut pasar.

"Persaingan ini jangan sampai merugikan satu pihak, misalnya mengakibatkan okupansi hotel berisiko anjlok," katanya kepada AyoBandung belum lama ini.

Herman menyarankan para investor perhotelan harus bersiap membenahi diri sebelum pasar kondotel semakin memegang kendali pasar.

"Investor kondotel untuk saat ini prospek keuntungannya belum terlihat sehingga ini harus menjadi acuan bagi investor dan pasar perhotelan," katanya.

Dalam hal ini, Herman menambahkan harus adanya kerja sama antara pemerintah dan para pemilik saham terkait isu persaingan sektor wisata penginapan di Kota Bandung.  

"Seharusnya pemerintah membuat moratorium. Bagi investor pasar perhotelan harus mampu meningkatkan pelayanan dan fasilitas serta harga yang menarik sehingga tidak akan kalah saing," katanya.

PHRI Kabupaten Bandung Barat mengaku tidak keberatan dengan kemunculan kondotel. Ketua PHRI KBB Eko Suprianto mengatakan kendati ada sedikit perbedaan, namun kondotel masih dikategorikan sebagai hotel.

"Itu merupakan salah satu inovasi pengusaha perhotelan. Di KBB ada satu kondotel dan masuk keanggotaan di PHRI," tutur Eko.

Eko melanjutkan inovasi dari konsep kondotel justru akan menguntungkan pengelola dan penanam modal.

"Masalah itu bukan kondotel, tapi vila yang tadinya tempat tinggal disewakan. Kalau kondotel mempunyai izin dan pengelola jelas, beda dengan vila tempat tinggal yang disewakan, pengelola serta pemilik izinnya tidak jelas,"ujarnya.

Eko melanjutkan baik kondotel maupun hotel konvensional yang didirikan di Kawasan Bandung Utara (KBU) harus menempuh perizinan ketat sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2008 tentang KBU.

Sementara itu, G.H. Universal tidak khawatir menghadapi persaingan pasar hotel dan kondotel di Kota Bandung. "Kami beralasan pasar hotel maupun kondotel berbeda," kata Marketing Communications Manager G.H. Universal Ancha Apriansyah.

Oleh karenanya, persaingan tersebut tidak perlu dijadikan beban, sebab calon pengunjung memilih penginapan sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Sekarang serahkan kembali ke selera pengunjung. Sebab tidak jarang masih banyak orang yang lebih memilih hotel daripada kondotel,” ujarnya.

Kepala Bidang Tata Ruang Kawasan Dinas Pemukiman dan Perumahan (Diskimrum) Jabar Bobby Soebroto menilai pembangunan kondotel di Kota Bandung sudah jenuh salah satunya akibat lahan di kota tersebut yang terus menyempit.

“Berbeda dengan kawasan lain Jabar lainnya yang mana pembangunan kondotel masih terus berkembang,” ujarnya.

Kendati demikian, beberapa pembangunan kondotel di Kota Bandung berdiri di atas kawasan normalisasi bukan lahan baru.

“Mereka pun harus membangun kawasan kumuh di sekitar proyek serta menyediakan lahan hijau seperti yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

Bobby mengharapkan pemerintah di kabupaten/kota lainnya bisa menarik minat investor untuk membangun kondotel di wilayahnya.

Di sisi lain, Asosiasi Pengembangan Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Jabar mengaku tidak masalah dengan pembangunan kondotel di Kota Bandung.

Ketua Apersi Jabar Rahayu Wiramihardja mengatakan pembangunan kondotel tidak berpengaruh terhadap pasar properti seperti perumahan.

"Pengaruh saat ini tidak terasa,  sebab pangsa pasar Apersi berada di wilayah pinggiran Kota Bandung," ujarnya.

Oleh karenanya, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan terkait persaingan tersebut. Sebab, segmentasi pasar sudah berbeda dari awal.

Senada dengan Rahayu, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (AP2RSI) Ferry Sandiyana mengaku tidak menggarap pembangunan kondotel.

"Kami lebih fokus menjual rumah murah, sedangkan kondotel dan hotel sendiri bergerak dalam sektor penyewaan gedung sehingga dampak negatif bagi kami tidak ada," terangnya.

Terkait isu persaingan hotel dan kondotel, ujar dia, maka diperlukan sinergitas antara investor hotel dan kondotel mengenai peraturan yang bisa menjembatani permasalahan tersebut.

"Agar tidak adanya tumpang tindih harus adanya perjanjian dan koordinasi antara investor hotel dan kondotel," katanya.

AP2RSI menyarankan investor hotel apabila ingin meningkatkan okupansi maka perlu memacu fasilitas dan inovasi pelayanan sesuai standar aturan agar tidak tersisihkan pasar kondotel.

"Investor hotel harus mampu memperbaiki konsep mulai dari perizinan, pelayanan, dan fasilitas yang berkualitas," katanya.(Mildan/Reni/Yatti)

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers