web analytics
  

Wow, Ada Sayuran 'Terbang' di Lembang

Rabu, 15 Juni 2016 10:57 WIB Yatti Chahyati
Gaya Hidup - Wisata, Wow, Ada Sayuran 'Terbang' di Lembang, sayuran, sayuran bisa terbang, sasak apung padjadjaran, lembang,kab bandung barat

TERBANG : Dengan menggunakan "Sasak Apung Padjadjaran" sayuran bisa terbang dan lebih cepat sampainya. (Guntur/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM - Apa yang dilakukan para petani Kampung Gandok Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat ini bisa jadi insipirasi kita dalam membantu memudahkan pekerjaan manusia.

Mengapa ? Karena mereka memiliki alat transportasi unik untuk mengangkut hasil pertaniannya. Yakni dengan cara diangkut pakai kereta gantung.

Berbagai macam jenis sayuran kini tidak harus diangkut melainkan bisa 'terbang' sendiri dengan bantuan alat yang dinamakan "Sasak Apung Padjadjaran".

Awal mula pembangunan kereta gantung ini atas prakarsa mantan Rektor Unpad Ganjar Kurnia saat melakukan monitoring ke daerah tersebut. ‪Berkat Sasak Apung Padjadjaran yang sudah dua tahun berdiri, petani pun tidak lagi menggunakan cara tradisional yakni dengan memikul hasil pertaniannya.

‪Penanggung Jawab Sasak Apung Padjadjaran, Ulus Pirmawan mengungkapkan, ide dicetuskannya pembuatan alat angkutan modern hasil pertanian ini berawal pada 2014 lalu saat mahasiswa dan dosen Unpad yang magang di Desa Suntenjaya menyempatkan diri meninjau aktivitas petani di Kampung Gandok. Mereka merasa iba saat melihat petani harus memikul hasil pertanian yang beratnya mencapai 100 kg.

‪"Sebelum alat ini ada, petani harus berjalan kaki menempuh jarak sejauh 400 meter dengan medan yang sangat terjal serta kondisi lahan pertanian yang berada di bukit, ditambah dengan akses jalan yang masih tanah dan sempit mengakibatkan hasil pertanian lama sampai tiba di pasar, "ungkap Ulus, Selasa (14/6/2016).

‪Masih di tahun 2014, tim yang terdiri dari beberapa dosen Unpad ini kemudian melakukan riset pembuatan alat, termasuk diantaranya mengukur kapasitas, kondisi tanah, hingga kedalaman pasak tiang penyangga.

‪Karakteristik geografi Desa Suntenjaya dengan daerah perbukitan yang curam dan tingkat elevasi tanah yang tinggi menjadi tantangan bagi petani saat mengangkut hasil pertanian dari lembah ke atas bukit.

‪"Rektor Unpad langsung meninjau kemari, setelah satu bulan disurvei kemudian langsung dibikinkan. Semua biayanya dari Unpad, "ujar Ulus yang juga Ketua Gapoktan Wargi Wanggupay ini.

‪Bagian-bagian kereta gantung pengangkut sayuran ini terdiri dari motor penggerak, kabin, tiang penyangga, tali pengangkut dari kawat baja serta tempat kendali dan alat komunikasi. Kawat baja dibentangkan sejauh 270 meter dengan ketinggian dari dasar tanah mencapai 50 meter.

Sekali jalan, dia menjelaskan, alat ini mampu menahan beban sampai 300 kg. Waktu pengangkutan hanya menghabiskan kurang dari 5 menit. "Kalau dulu sebelum alat ini ada, pengangkutan dilakukan sama buruh angkut yang memakan waktu sampai 30 menit, bisa tambah lama karena orang yang mengangkutnya harus istirahat dulu, bayarannya Rp400/kg untuk sekali angkut, "katanya.

Para petani senang karena setiap harinya berbagai macam hasil sayuran seperti tomat, kol, cabai, brokoli, buncis, terong dan lain-lainnya diangkut menggunakan alat ini. Sampai dua tahun dioperasikan, belum pernah ada orang atau sayuran yang terjatuh ke dasar tanah, paling yang jadi kendala adalah sering matinya aliran listrik.

‪"Sehari bisa mengangkut sampai 1 ton sayuran, pupuk juga bisa diangkut. Daya listriknya awet, pulsa listrik Rp100 ribu bisa cukup untuk 20 hari, " lanjutnya.

Daerah pegunungan seperti di Desa Suntenjaya, aktifitas pengangkutan barang masih banyak dilakukan oleh tenaga manusia secara keseluruhan meski jalan yang ditempuh sulit dilalui. Oleh karena itu, keberadaan kereta gantung pengangkut sayuran ini manfaatnya sangat dirasakan karena dapat membantu kerja manusia.

‪Selain bisa mengangkut hasil pertanian, Sasak Apung Padjadjaran ini juga bisa untuk mengantarkan petani, bahkan dapat disewakan kepada wisatawan. Tiap kali pengangkutan sayuran ditarif Rp 100/kg, pupuk kandang Rp 1.000/kg, petani Rp 2.000/orang dan wisatawan Rp 10.000/orang.

‪"Seluruh retribusi per bulan digunakan untuk gaji operator, sewa kepada pemilik lahan yang digunakan untuk tiang pancang dan penyimpanan barang, pembelian token pulsa listrik dan perawatan alat, "terangnya.(Guntur)

 

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers