web analytics
  

Jarang Peternak Madu Permintaan Banyak Tak Terpenuhi

Jumat, 20 Mei 2016 22:02 WIB Yatti Chahyati

ilustrasi (www.dw.com)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM - Peternak lebah madu di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat kesulitan memenuhi permintaan pasar. Pasalnya, hanya beberapa orang saja yang konsisten membudidayakan lebah madu.

Padahal pangsa pasarnya selain sudah merambah ke Jakarta, permintaan juga datang dari Makassar Sulawesi Selatan.

Koswara, 37, peternak lebah madu Sari Alam Maribaya di Jalan Maribaya, Desa Langensari Kecamatan Lembang mengaku masa panen madu sudah berlangsung sebulan lalu, sementara hingga kini permintaan dari pasar terus ada.

" Masa panen sudah lewat, tapi permintaan terus ada. Baru panen lagi sekitar dua bulan ke depan," ucap Koswara saat ditemui di tempat penangkaran lebahnya, Jumat (20/5/2016).

Dia mengungkapkan, masih banyak warga yang tidak sadar bahwa beternak lebah madu sangatlah mudah karena hanya cukup menyediakan lahan yang cocok seperti di hutan.

Beternak lebah madu pun hasilnya cukup menggiurkan karena harga satu kilogram madu bisa dijual dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Bisnis ini menjanjikan, tapi masih jarang orang yang mau menekuninya. Paling potensial itu warga desa hutan karena tidak perlu repot cari pakan, karena di hutan itu kan tumbuh berbagai jenis tanaman yang bisa jadi makanan lebah, " ungkapnya.

Ditempat penangkaran lebah miliknya, setidaknya terdapat 300 koloni atau sarang lebah yang dapat dipanen tiga kali dalam setahun. Empat jenis lebah yang ditangkarkan diantaranya Apis cerana, Apis melipera, Apis trigona dan Apis dorsatauntuk.

"Bisa dibilang, penangkaran lebah cocok dimana pun tempatnya asalkan yang penting pakannya harus cukup, sumber airnya ada, dan tidak ada polusi udara dan suara karena lebah itu suka di tempat yang tenang. Tapi yang paling cocok ya di hutan karena tumbuh berbagai jenis tumbuhan, lebah bebas memakan apa saja yang tersedia di hutan, " bebernya.

Kendala beternak lebah di kota, lanjut dia, adalah banyaknya polusi udara dan pestisida yang dapat mengganggu pakan serta menyebabkan lebah mati meski lebah mempunyai sensor yang bisa membedakan mana pakan yang tercemar polusi atau tidak.

" Namun tetap, madu yang dihasilkan peternak di kota kualitasnya jauh berbeda dengan yang di hutan karena pengaruh polusi tadi. Karena semakin banyak jenis pakan yang dimakan maka kualitas madu juga semakin bagus, disini saja ada 400 jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan jadi pakan, paling dominasi tanaman kaliandra, " terangnya.

Koswara juga menerangkan, saat musim hujan biasanya lebah lebih malas mencari pakan dan hanya mau diam di sarangnya. Hal ini jelas akan dapat mengganggu kualitas hasil panen karena lebah akhirnya memakan madu di sarang.

" Kalau saat musim hujan, lebah hanya mau diam disarang. Mereka tidak mau keluar sarang sehingga madu yang dihasilkannya dimakan lagi. Otomatis kualitas madu juga sedikit menurun, " jelasnya. (guntur)

Editor: Yatti Chahyati

artikel lainnya

dewanpers