web analytics
  

Naser : Jangan Bohong Saat Pendataan Sensus Ekonomi

Kamis, 12 Mei 2016 10:54 WIB Yatti Chahyati
Bandung Raya - Bandung, Naser : Jangan Bohong Saat Pendataan Sensus Ekonomi, Sensus Ekonomi (SE) , Bupati bandung, Dadang Mochamad Naser,BPS

ilustrasi (rohultoday.co)

BANDUNG,AYOBANDUNG.COM - Menyusul pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) Tahun 2016 yang dimulai Senin (02/05/2016) lalu, Bupati bandung, Dadang Mochamad Naser, meminta kepada warganya untuk memberikan data yang benar dan tidak bohong.

“Jadi datanya harus benar, transparan dan apa adanya kepada para petugas. Karena data tersebut, akan memberikan gambaran kondisi ekonomi yang tengah terjadi di masyarakat. Data tersebut nantinya akan digunakan oleh pemerintah dalam penentuan kebijakan di bidang ekonomi, oleh karena itu datanya harus benar dan tidak perlu ditutup-tutupi,” tutur Dadang, Rabu (11/5/2016).

Sensus Ekonomi 2016 di Kabupaten Bandung, menurut Kepala BPS Kabupaten bandung, Basworo mengerahkan 5.623 petugas yang tersebar di 270 desa, 10 kelurahan dan 31 kecamatan. Mereka akan bertugas selama satu bulan penuh mulai 2 s/d 31 Mei 2016 mendatang. Setiap petugas dilengkapi rompi khusus dan topi disamping papan nama.

Saya mohon jika para petugas datang ke masing-masing rumah warga untuk diterima dengan baik dan berikan jawaban yang besar kepada petugas seputar penghasilan, pengeluaran dan bisnis atau pekerjaan yang tengah dihadapinya,” kata Basworo.

Khusus untuk pedagang kaki lima, pencacahan akan dilakukan di rumahnya masing-masing. Lain halnya dengan pedagang yang memiliki jongko tetap, pencacahan menurut Basworo dilakukan di jongko mereka.

Sensus Ekonomi kata Basworo dinilai penting, karena akan memberikan gambaran kondisi ekonomi pada 10 tahun terakhir. Selain itu, dari sensus ekonomi bisa terlihat bisnis apa yang banyak dilakukan oleh penduduk suatu desa atau kecamatan.

“Nantinya bisa digambarkan pula, beberapa wilayah yang dianggap sudah jenuh dalam bisnis tertentu,”ujarnya.

BPS mencatat pada Tahun 2015, perekonomian Kabupaten Bandung yang diukur dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 80,75 triliun, sedangkan PDRB atas harga konstan sebesar Rp. 28,94 triliun. Data tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp. 8,1 triliun, sementara PDRB atas harga konstan naik sebesar Rp. 1,5 triliun pada tahun sebelumnya. (Daneza)

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers