web analytics
  

Cileuweung, Kampungnya Pemerah Susu di Cimahi

Sabtu, 20 Februari 2016 19:53 WIB Yatti Chahyati
Gaya Hidup - Wisata, Cileuweung, Kampungnya Pemerah Susu di Cimahi, Cimahi, susu, pemerah susu, peternak, kampung di cimahi, kampung pemerah susus, cileuweung

SUSUS : Cileuweung, kampung di Cimahi yang seluruh warganya beternak sapi. (Guntur/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.com - Walaupun sudah disebut kota, tapi di Cimahi ada sebuah kampung yang hampir semua warganya berprofesi sebagai pemerah susu sapi.

Nama kampung itu adalah Cileuweung yang terdapat di Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara.

Sangat wajar warga di sini kebanyakan berprofesi sebagai pemerah susu sapi, karena wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung Barat ini memang sangat cocok untuk beternak sapi.

Rada sulit menemukan kampung ini, namun jika mau menempuh perjalanan singkat dari pusat kota Cimahi harus melewati kompleks perumahan elit tapi cukup hanya menempuh perjalanan selama 15 menit dengan sepeda motor.

Bila sepintas dan baru datang pertama kali ke sini, jarang ada kandang sapi yang terlihat dari pinggir jalan. Tapi jika ditelusuri lebih dalam ternyata hampir setiap penduduk Kampung Cileweung memelihara sapi yang ditempatkan dibelakang rumahnya.

Di Kampung Cileweung ini terdapat tiga RW, yakni RW 18, 19 dan 21 yang dihuni lebih dari 200 kepala keluarga. Rata-rata warganya, selain memelihara sapi juga berprofesi sebagai petani. Pada pagi hari, mereka memerah sapi lalu setelah pekerjaan itu selesai dilanjutkan dengan bertani. Pulang dari kebun, mereka kembali memerah sapi pada sore harinya.

Amin (58), tokoh masyarakat Kampung Cileuweng mengatakan, aktivitas memelihara sapi sudah dimulai sejak tahun 1984 lalu, ketika itu hanya beberapa rumah saja yang sudah menekuni profesi pemerah susu sapi.

" Jaman dulu tidak seramai sekarang, hanya beberapa orang saja sudah berternak sapi, " ungkapnya.

Menurut Amin, keinginan warga yang dulunya bertani berubah jadi peternak sapi sangat besar. Padahal seiring waktu harga satu ekor sapi bertambah mahal, itupun sapi yang masih kecil.

" Pada jaman dulu, seekor anak sapi harganya hanya Rp 125 ribu saja. Tapi sekarang naik berapa kali lipat jadi Rp 7 juta/ekor, cukup mahal padahal cuma anak sapi yang masih kecil, " tuturnya.

Keinginan menambah penghasilan pula, ada warga yang mengurus sapi milik orang lain.

Setelah memelihara sapi perah, Amin mengaku, tingkat perekonomian warga sedikit meningkat terutama dari penjualan susunya.

" Kita sehari dua kali memerah susu, susunya ada yang ngambil kesini. Kita tinggal antarkan ke tempat penampungan yang ga jauh dari rumah. " ujarnya.

Dalam sehari, satu sapi bisa menghasilkan 15 liter yang dijual dengan harga Rp 4.500 per liter kepada koperasi susu. Dikatakannya, memelihara sapi tidaklah sulit karena yang penting ada pakan dan rutin menjaga kebersihan kandang.

Namun persoalan timbul saat musim kemarau, sebab pakan harus dicari sampai luar daerah seperti Parongpong bahkan Subang. Selain memakan waktu, mencari pakan juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk bensin.

"Mencari pakan memang aga berat tapi kalau dilakoni setiap hari sudah seperti biasa, " katanya. (Guntur)

Selain menjual susunya ke koperasi, warga kampung juga memanfaatkannya menjadi sabun susu dan dibuat permen susu. Kotoran sapinya tidak mereka buang tapi dimanfaatkan jadi pupuk sebagai penyubur tanah.

"Sering ada pelatihan dari pemerintah dalam mengolahan susu dan limbah kotoran sapi ini untuk menambah penghasilan warga. Limbah sapi tidak langsung kita buang ke selokan tapi diolah jadi kompos untuk pertanian,  " jelas Amin. (guntur)

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers