web analytics
  

Pria Ini Dirikan Madrasahnya jadi Pesantren Anak Punk

Selasa, 19 Januari 2016 21:14 WIB Yatti Chahyati
Bandung Raya - Bandung, Pria Ini Dirikan Madrasahnya jadi Pesantren Anak Punk, madrasah, pesantren, anak punk, anak jalanan

OUNK : Legiman rela jika madrasahnya dijadikan tempat mendidika anak punk. (Daneza/AyoBandung.com)

BANDUNG,AYOBANDUNG.COM - Berpredikat sebagai anak jalanan, menjadikan anak-anak punk dianggap sebagai sampah masyarakat, tidak sedikit orang malah menjauhi mereka.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Legiman (56) warga Kampung Sukarasa, Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung. Mantan guru salah satu pesantren di Kecamatan Majalaya tersebut justru pernah menampung 20 anak Punk hingga hampir semuanya sukses.

Ditemui di kediamannya, Selasa (19/1/2016) Legiman menceritakan kisahnya yang pernah menampung 20 anak Punk selama beberapa tahun.

Pada 2010 lalu, seperti hari-hari biasanya, Legiman melaksanakan shalat Shubuh di madrasah Al-Bina yang sekalgus tempat tinggalnya. Dimana, lantai dua digunakan sebagai tempat tingal dan lantai satau sebagai madrasah.

Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Legiman mengaku terkejut ketika didapati ada empat orang anak punk berada di belakangnya. Dengan pakaian serba hitam, banyak emblem juga rambut mohawk, anak-anak punk tersebut mendekati Legiman.

"Awalnya saya kaget kok di belakang saya ada makhluk aneh, mereka mengenakan pakaian kebesarannya, rambutnya juga mohawk, kuping pakai anting, pokoknya penampilanya berantakanlah," tutur Legiman.

Kepadanya, empat anak punk berusia remaja tersebut mengutarakan keingginannya untuk tinggal di rumah Legiman.

"Mereka bilang, ada temannya yang ngasih tau kalau saya orang baik yang mau menerima mereka. Entah kabar dari mana itu," ujarnya.

Anak-anak tersebut mengaku tidak diakui oleh keluarganya dan ingin mempunyai tempat tingal untuk pulang, sehingga didatangilah rumah Legiman.

Pada awalnya, Legiman merasa kebingungan, jika menerima anak punk tinggal di rumahnya, maka akan timbul masalah di masyarakat, dan jika ditolak bisa lebih bahaya lagi karena besar kemungkinan anak-anak tersebut akan kembali ke jalanan dengan menyimpan dendam.

"Saya kemudian teringat kisah seorang yang telah membunuh 99 orang dan ingin insyaf, dia meendatangi kyai dan mengutarakan keinginannya, namun oleh kyai tersebut malah dikatakan jika dosanya tidak akan diampuni, sehingga orang tersebut membunuh kyai tersebut. Namun, ketika mendatangi seorang kyai biijak, pembunuh itu disuruh melakukan hal baik supaya dosanya diampuni. Malahan dikatakan dalam kisah itu, pembunuh tersebut menjadi ahli surga," paparnya.

Namun, Legiman merasa bingung, jika harus menyerahkan empat orang anak punk tersebut ke mana. Pasalnya, di Bandung tidak terdapat pesantren yang mau membina anak jalanan seperti mereka.

"Kalau di Jawa mungkin ada pesantren bagi anak punk, kalau di sini gak ada. Akhrinya, saya memutuskan membina mereka sendiri," ujarnya.

Empat orang anak punk tersebut akhirnya tinggal di rumah Legiman yang sekaligus madrasah tempat pengajian anak-anak dan Ibu-ibu di Kampung tersebut.

Namun, empat orang anak punk tersebut, membawa beberapa orang temannya yang juga ingin tingggal di tempat Legiman. Dalam waktu singkat, jumlah anak punk di kediaman Legiman menjadi 20 orang.

"Selama empat bulan, mereka saya biarkan masih memakai pakaian punk-nya, termasuk mereka masih diperbolehkan mengikuti acara-acara punk. Setelah lewat empat bulan, mereka disuruh melepas bajunya," imbuhnya.

Delapan bulan berjalan, 20 anak punk tersebut tinggal di kediaman Legiman, selama itu pula, seluruh kebutuhan hidupnya ditanggung. Selama mereka tinggal di kediaman Legiman, mereka dipekerjakan untuk bantu-bantu mengurus kolam Lele dan berjulan Chicken Cryspi yang dikelola oleh Fatimah (34) istri Legiman.

Hingga akhirnya, satu persatu anak-anak Punk tersebut dikembalikan kepada orang tua masing-masing, itupun setelah kebiasaan buruk mereka sudah ditingalkan.

"Kebanyakan dari mereka, mempunyai masalah keluarga, sehingga memilih jalanan. Pada saat mereka ingin kembali ke keluarga, malah ditolak. Makanya, setelah lama tinggal di sini dan mereka berubah, saya mengantarnya kembali ke keluarga masing-masing. Alhamdulillah, hampir semuanya sudah hidup normal, jadi keluargha mereka juga sudah menerima kembali," ungkapnya.

Dari 20 orang anak Punk yang pernah tinggal di Kediaman Legiman, dua orang diantaranya disekolahkan sampai lulus SMA pada 2013 lalu.

Lebih jauh Legimin mengatakan, mengurus anak punk di kediamannya bukan tanpa kendala. Pada awalnya masyarakat banyak yang menolak. Bahkan, banyak orang tua anak-anak yang mengaji di madrasah Al-Bina memprotesnya, karena Madrasah tersebut seperti menjadi pesantren anak punk.

"Awalnya ada sekitar 200 anak yang tiap sore belajar di madrasah, tapi setelah ada anak punk, banyak yang dipindahkan oleh orang tuanya. Jumlah ibu-ibu yang suka ikut pengajian juga berkurang. Mungkin mereka merasa risih," ungkapnya.

Protes dari warga juga RT dan RW sempat juga diterima oleh Legiman, namun setelah diberi penjelasan, mereka bisa mengerti.

Namun sayang, pesantren anak Punk binaan Legiman tidak bertahan lama. Selain anak-anak Punk yang dibinanya sudah kembali ke keluarga masing-masing, keterbatasan biaya juga menjadi kendala.

"Banyak orang tua anak punk datang dan mau menitipkan anaknya di sini, tapi saya tolak, soalnya saya tidak punya biaya, saya juga tidak mau kalau pakai proposal. Saya juga suka sedih jika melihat anak punk di jalanan, tapi itu tadi saya tidak ada biaya untuk saat ini mah," ujarnya lirih. (Daneza)

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers