web analytics
  
Banner Kemerdekaan

50 Tahun Mata Hitam Jeihan Dipamerkan

Rabu, 23 September 2015 08:10 WIB Yatti Chahyati

LUKISAN: Mata perempuan dalam lukisan Jeihan selalu tampak 'tertutup', menunjukkan mata yang 'mbleing'. (http://2.bp.blogspot.com)

Bandung - Jeihan Sukmantoro merupakan salah satu maestro seni rupa tanah air yang dikenal di kancah dunia, Ia lahir di Solo, pada tanggal 26 September 1938. Sebagai seniman terkemuka Indonesia, ia menempati posisi kemantapannya dalan khasanah seni lukis figuratif yang khas.

Karya Jeihan dengan amat mencolok segera dapat dikenali figur dengan mata hitam pekat, sapuan lebar membidang mengiringi manusia sebagai obyek utamanya.

Jeihan dikenal sebagai pelukis potret manusia bermata hitam. Ide ini lahir karena kebetulan. Mata hitam yang ditorehkannya pada figur diakuinya sebagai hasil dari kegagalannya melukis mata yang seharusnya dikerjakan secara realistik. Sekira 1963-65, dari beberapa lukisan yang seharusnya bermata tajam dan bening, berubah karena emosinya yang meninggi, ditorehkan begitu saja warna hitam legam tanpa sisa warna putih dan kebeningan.

Tangal 26 September 2015 ini tepat berusia 77 tahun, Jeihan menggelar pameran tunggal bertema “Perayaan Ide 50 Tahun Mata Hitam”, bertempat di studio Jeihan Jl. Padasuka 147 Bandung, akan dibuka jam 3 sore.

Menurut  pengamat seni rupa Mikke Susanto dari Fakultas Seni Rupa Isi Yogyakarta, Kini, mata hitamnya dinisbatkan sebagai simbol ikonik Jeihan. Jelas bukan tatapan kosong. Lukisan potret manusia bermata hitam adalah sikap hidup yang tak mau tunduk dan terbuai atas realitas, referensi dan dominasi ideologi yang ada saat ini. Mata hitam adalah sikap untuk selalu melihat lebih dalam dan lebih jauh. Seperti lubang hitam (black hole) alam semesta, mata itu menelisik untuk merefleksi hidup.

“Mata hitam adalah sikap untuk selalu berimajinasi tentang banyaknya hal yang tak mungkin digapai oleh mata terbuka dan jangkauan fisik manusia. Bahkan pada saat saya berbincang saat menjelang pameran tunggalnya di Museum Nasional Indonesia 2014, ia mendapatkan sebuah visi, bahwa mata hitam baginya adalah sebuah realitas masa depan. Jeihan menerawang dan menerangkan secara futurologis mata hitam adalah hasil dari bentuk perubahan evolutif kondisi manusia”. Tambah Mikke panjang lebar.

Lukisan  “Mata Hitam” telah berusia 50 tahun dan jika ditelusuri secara historis, sampai saat ini belum ditemukan program atau pameran maupun perayaan berbasis ide. Selama ini yang muncul adalah perayaan yang bersifat biografis, ulang tahun kelahiran tubuh manusia dari rahim ibu ke bumi. Saya mengimajinasikan sejak lama muncul perayaan “Jiwa Ketok” Sudjojono, atau perayaan teknik plototan gaya Affandi, sampai misalnya peringatan tentang ide-ide yang mengubah sejarah bangsa ini, baik dari para pejuang, pahlawan nasional dan sebagainya.

Masih menurut Mikke, “Mata Hitam” Jeihan adalah ide brilian. Ide tidak sekadar menjelaskan persoalan kesenian, seni lukis atau sebidang persoalan saja. Ide ini meluas dan menjangkau pada tataran nilai yang terkait dengan esensi hidup manusia. “Mata hitam” Jeihan harus diakui sebagai menjadi kekayaan intelektual untuk selalu berpikir, merenung, merefleksi, dan meng-interpretasikan berbagai pelajaran bagi seluruh anak bangsa.(*/yatti)

Editor: Yatti Chahyati
dewanpers