web analytics
  

Terhenti di Italy, Tim PTL Indonesia akan Kembali 4 September

Senin, 31 Agustus 2015 16:56 WIB Yatti Chahyati
Gaya Hidup - Komunitas, Terhenti di Italy, Tim PTL Indonesia akan Kembali 4 September, PTL, UTMB, tim indonesia, lomba ultra trail, Italy

PTL: Tim Indonesia PTL(La Petite Trotte à Léon) di Prancis, Hendra Wijaya, Abdul Reza dan Abdul Azis. (dok FB Hendra Wijaya)

 

Bandung- Perjuangan untuk bisa finish di kejuaran dunia lomba ultra trail memang perkara mudah, terutama kondisi cuaca yang jauh berbeda dengan Indonesia. Seperti yang dialami oleh pelari dari tim Indonesia yang mengikuti PTL(La Petite Trotte à Léon) di Prancis, Hendra Wijaya, Abdul Reza dan Abdul Azis. Mereka terpaksa terhenti di Italy, dan rencananya mereka akan kembali ke Indonesia pada 4 September mendatang.

“Maaf mengecewakan semua, kami sudah berusaha semampu kami. Rencananya kami akan kembali pata tanggal 4 September mendatang,” tutur Reza melalui pesan singkatnya kepada ayobandung.com.

PTL sendiri adalah lomba ultra trail berkelompok(team) maksimum 3 orang. Salah satu pesertanya wajib finisher UTMB atau TDG. Jaraknya 300km dengan gain elevation 26000m+ dan cut off time 142 jam. Lokasi lomba di pegunungan Alpen melewati 3 negara France, Italy, dan Swiss.

PTL, UTMB, TDS, CCC, OCC dilaksanakan dalam 1 rangkaian lomba antara 24-30 Agustus 2015.

Seperti ditulis Hendra dalam akun facebooknya mengatakan jika PTL setara dengan dua kali UTMB, hampir setara dengan 12 kali muncak Gunung Gede dan Pangrango sekaligus dari Cibodas bulak balik.  Atau hampir setara dengan 5 setengah kali Mount Rinjani Ultra. Atau hampir setara lari di jalan raya flat 700km.

“Sayang kami telah mengecewakan semuanya dan mohon maaf tidak bisa menyelesaikan PTL ini dengan baik karena terkena cut off di KM 153 Morgex (Italy). Ada beberapa hal yang membuat kami terkena cut off, tapi yang paling significant adalah orientasi route berdasar GPS. Seringkali kami melalui route berdasar GPS yang kenyataan di lapangannya tidak ada/terlihat jalan setapak yang biasa dilalui. Medan yang sulit dan berbahaya apalagi di malam hari seringkali membuat kami kesana kemari mencari route banyak menghabiskan waktu sia sia,”tuturnya.

Dijelaskannya memasuki waktu kritis setelah sampai di Refuge Deffeyes KM 136 dari Refuge Archeboc KM 121 yang jaraknya 15km, tapi waktu yang ditempuh sangat lama 8.5 jam. Malam hari dengan kabut dan angin kencang ditambah orientasi route yang sulit menjadi penyebabnya.

“Padahal kami mencari route berkelompok dengan team lain. Dengan sisa waktu 5,5 jam saat akan meninggalkan Refuge Deffeyes menuju Morgex yang jaraknya 17.2km, panitia menyarankan untuk menyerah saja. Karena team lainpun sudah menyerah. Mereka menjelaskan route yang akan dilalui adalah jalur pendakian lama sekali tidak pernah dipakai/dilalui lagi, sehingga jalunya sudah tidak terlihat dan tertutup longsoran bebatuan besar,” paparnya.

Selain itu medannya sangat berat dan berbahaya sekali dengan lapisan es dan longsoran bebatuan yang besar dan gelap di dini hari. “Sambil bercanda ia mengatakan, Anda bukan Killian yang bisa melakukan ini, itupun dia harus sudah mengetahui route”.

“Benar saja apa yang dikatakan panitia, kami kesulitan mencari route ke puncak pendakian dan routenya sangat sulit dan berbahaya sekali. Tapi kami tetap memasang target 1.5 jam ke puncak pendakian (3.6km) dan 4 jam di turunan (13.6km),” paparnya.

 

Melihat kondisi tersebut, tim pun ambil keputusan agar Abdul Reza dan Aziz Dermawan bergerak cepat, “Duluan meninggalkan saya agar tidak terkena COT di Morgex pada jam 09:00, 27 Agustus.

Ada peraturan PTL bahwa Team masih bisa menjadi Finisher apabila 2 anggotanya tetap lanjut. Saya melihat situasi dan kondisi ini sudah gawat darurat dan harus ada tindakan EXTREME melakukan suatu perbaikan waktu, recovery energi/makanan dan istirahat jika lolos COT di Morgex. Dengan sangat berat hati dan segala pengorbanan, saya menghubungi panitia untuk mengundurkan diri dan akan mensupport team Indonesia. Saya harus ambil keputusan ini secepatnya sebelum mencapai Morgex dan disaat ada signal hp. Daripada 3 DNF lebih baik saya saja yang DNF, itu keputusan saya. Seperti niat awal, saya akan memberi jalan kepada Reza dan Aziz. Tanpa sepengetahuan Reza dan Aziz, saya sudah merancang dari awal hal ini. Apabila situasi gawat darurat dan urgent, saya akan menjadi supporting crew melayani secara totalitas,” paparnya.

“Setelah saya menyatakan mundur by phone sesuai prosedur PTL, saya langsung menghubungi Fandhi Achmad pada jam 06:00 am agar membantu saya mencarikan sewa mobil dengan drivernya 2x24 jam, berapapun akan saya bayar. Dan minta tolong dimasakkan nasi yang banyak dan bungkus makanan (kami memang membawa beras, rendang, ikan teri, kentang kacang, mie). Saya bilang kepada Fandhi Achmad mohon dilaksanakan tanpa bertanya atau persetujuan saya lagi apabila Aziz dan Reza lolos COT jam 09:00 am di Morgex dan mohon dimonitor. Saya kuatir tidak bisa dihubungi atau menghubungi lagi karena tidak ada sinyal selama saya ke Morgex betlari menyusul Reza dan Azim.”

“Saya akan memberi pelayanan VIP di setiap cek poin berikutnya yang bisa dilalui mobil dan membelikan makanan yang enak2 berkalori tinggi dan mempersiapkan istirahat mereka di mobil. Karena selama ini sangat sulit beristirahat di Cek Poin karena terbatas, rebutan ruangan dan harus bayar pula. Termasuk di cek poin dibeberapa tempat harus bayar membeli makanan, itupun tidak cocok dilidah kami. Saya akan habis habisan melayani mereka agar mereka mencapai Finish, begitulah rencana saya.”

“Tuhan berkehendak lain, Team Indonesia harus berhenti di Morgex.”

“Setelah kami DNF, baru kami menyadari dan mengetahui bahwa team lain yang berhasil menuju cek poin ke cek poin lain, apabila mengalami kesulitan orientasi route, mereka menggunakan way point. Artinya terserah mencari jalan sendiri atau bahkan potong kompas dan biasanya jalurnya tidak terduga, berat dan berbahaya. Hal ini tidak berani kami lakukan, karena kuatir dianggap cheating atau curang dan akan didiskualifikasi. Padahal ini adalah solusi dan diperbolehkan oleh panitia karena memang tidak ada jalan setapak. Route PTL dan UTMB sangat berbeda, PTL tanpa petunjuk arah (hanya berdasar Map GPS) dan banyak tempat tidak ada jalan setapak alias tidak pernah atau jarang dilalui orang dan sangat berbahaya.” Tulisnya di akun facebooknya itu. (*/yatti)

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers