web analytics
  

Langkah Tim Indonesia Reza, Azis dan Hendra Terhenti di PTL Prancis

Minggu, 30 Agustus 2015 15:28 WIB Yatti Chahyati
Gaya Hidup - Komunitas, Langkah Tim Indonesia Reza, Azis dan Hendra Terhenti di PTL Prancis, UTMB, reza, Azis, Morgex, Italy,  Ultra Trail du Mont Blanc, rute, gunung

Gagal: Hendra Wijaya, Abdul Reza dan Abdul Aziz terpaksa terhenti di kejuaraan dunia UTMB Prancis. (dok. Facebook Hendra Wijaya)

 

Bandung- Tim Indonesia yang terdiri dari Hendra Wijaya, Abdul Reza dan Abdul Aziz terpaksa terhenti dari kejuaraan dunia Ultra Trail du Mont Blanc (UTMB) di Prancis.Berikut ulasan dan alasan terhentinya langkah mereka yang lebih karena keterpaksaan yang di laporkan salah satu pelari Hendra Wijaya dalam media sosial facebook, langsung dari Prancis.

Way point is the solutions

Terimakasih kepada semuanya yang telah mendukung dan mendoakan kami. Terimakasih tak terhingga kepada para donatur yang telah membantu pembiayaan, sehingga kami bisa mengikuti PTL secara team 3 orang. Tapi sayang kami telah mengecewakan semuanya dan mohon maaf tidak bisa menyelesaikan PTL ini dengan baik karena terkena cut off di KM 153 Morgex (Italy).

Ada beberapa hal yang membuat kami terkena cut off, tapi yang paling significant adalah orientasi route berdasar GPS. Seringkali kami melalui route berdasar GPS yang kenyataan di lapangannya tidak ada/terlihat jalan setapak yang biasa dilalui. Medan yang sulit dan berbahaya apalagi di malam hari seringkali membuat kami kesana kemari mencari route banyak menghabiskan waktu sia sia.

Kami memasuki waktu kritis setelah sampai di Refuge Deffeyes KM 136 dari Refuge Archeboc KM 121 yang jaraknya 15km, tapi waktu yang ditempuh sangat lama 8.5 jam. Malam hari dengan kabut dan angin kencang ditambah orientasi route yang sulit menjadi penyebabnya. Padahal kami mencari route berkelompok dengan team lain.

Dengan sisa waktu 5,5 jam saat akan meninggalkan Refuge Deffeyes menuju Morgex yang jaraknya 17.2km, panitia menyarankan untuk menyerah saja. Karena team lainpun sudah menyerah. Mereka menjelaskan route yang akan dilalui adalah jalur pendakian lama sekali tidak pernah dipakai/dilalui lagi, sehingga jalunya sudah tidak terlihat dan tertutup longsoran bebatuan besar. Selain itu medannya sangat berat dan berbahaya sekali dengan lapisan es dan longsoran bebatuan yang besar dan gelap di dini hari. Sambil bercanda ia mengatakan “Anda bukan Killian yang bisa melakukan ini, itupun dia harus sudah mengetahui route”.

Benar saja apa yang dikatakan panitia, kami kesulitan mencari route ke puncak pendakian dan routenya sangat sulit dan berbahaya sekali. Tapi kami tetap memasang target 1.5 jam ke puncak pendakian (3.6km) dan 4 jam di turunan (13.6km).

Melihat hal ini saya ambil keputusan agar Abdul Reza dan Aziz Dermawan bergerak cepat duluan meninggalkan saya agar tidak terkena COT di Morgex pada jam 09:00, 27 Agustus.

Ada peraturan PTL bahwa Team masih bisa menjadi Finisher apabila 2 anggotanya tetap lanjut.

Saya melihat situasi dan kondisi ini sudah gawat darurat dan harus ada tindakan EXTREME melakukan suatu perbaikan waktu, recovery energi/makanan dan istirahat jika lolos COT di Morgex. Dengan sangat berat hati dan segala pengorbanan, saya menghubungi panitia untuk mengundurkan diri dan akan mensupport team Indonesia. Saya harus ambil keputusan ini secepatnya sebelum mencapai Morgex dan disaat ada signal hp. Daripada 3 DNF lebih baik saya saja yang DNF, itu keputusan saya. Seperti niat awal, saya akan memberi jalan kepada Reza dan Aziz. Tanpa sepengetahuan Reza dan Aziz, saya sudah merancang dari awal hal ini. Apabila situasi gawat darurat dan urgent, saya akan menjadi supporting crew melayani secara totalitas.

Setelah saya menyatakan mundur by phone sesuai prosedur PTL, saya langsung menghubungi Fandhi Achmad pada jam 06:00 am agar membantu saya mencarikan sewa mobil dengan drivernya 2x24 jam, berapapun akan saya bayar. Dan minta tolong dimasakkan nasi yang banyak dan bungkus makanan (kami memang membawa beras, rendang, ikan teri, kentang kacang, mie). Saya bilang kepada Fandhi Achmad mohon dilaksanakan tanpa bertanya atau persetujuan saya lagi apabila Aziz dan Reza lolos COT jam 09:00 am di Morgex dan mohon dimonitor. Saya kuatir tidak bisa dihubungi atau menghubungi lagi karena tidak ada sinyal selama saya ke Morgex betlari menyusul Reza dan Aziz.

Saya akan memberi pelayanan VIP di setiap cek poin berikutnya yang bisa dilalui mobil dan membelikan makanan yang enak2 berkalori tinggi dan mempersiapkan istirahat mereka di mobil. Karena selama ini sangat sulit beristirahat di Cek Poin karena terbatas, rebutan ruangan dan harus bayar pula. Termasuk di cek poin dibeberapa tempat harus bayar membeli makanan, itupun tidak cocok dilidah kami. Saya akan habis habisan melayani mereka agar mereka mencapai Finish, begitulah rencana saya.

Tuhan berkehendak lain, Team Indonesia harus berhenti di Morgex.

Setelah kami DNF, baru kami menyadari dan mengetahui bahwa team lain yang berhasil menuju cek poin ke cek poin lain, apabila mengalami kesulitan orientasi route, mereka menggunakan way point. Artinya terserah mencari jalan sendiri atau bahkan potong kompas dan biasanya jalurnya tidak terduga, berat dan berbahaya. Hal ini tidak berani kami lakukan, karena kuatir dianggap cheating atau curang dan akan didiskualifikasi. Padahal ini adalah solusi dan diperbolehkan oleh panitia karena memang tidak ada jalan setapak.

Route PTL dan UTMB sangat berbeda, PTL tanpa petunjuk arah (hanya berdasar Map GPS) dan banyak tempat tidak ada jalan setapak alias tidak pernah atau jarang dilalui orang — bersama Abdul Aziz Dermawan dan Abdul Reza.(*/yatti)

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers