web analytics
  

Ini Dia Alasan Kulit Bisa Mahal

Jumat, 21 Agustus 2015 16:30 WIB Mega Anggraeni
Gaya Hidup - Wisata, Ini Dia Alasan Kulit Bisa Mahal, kulit, mahal, fashion

Ilustrasi (3.bp.blogspot.com)

Bandung- Hampir semua barang yang menggunakan kulit memiliki harga yang tidak murah. Mayoritas, harganya di atas seratus ribu rupiah hingga jutaan. Tetapi mengapa harga kulit bisa menjadi sangat tinggi?

Salah satu alasannya adalah karena kulit memiliki usia yang lama. Menurut Penanggung Jawab Toko Kulit Prima, Agus Eko, usia kulit bisa mencapai 10 tahun, tergantung dari pemakaian. Usia yang lebih panjang ketimbang sintetis.

“Kalau sintetis karena buatan pabrik, paling hanya satu tahun,” katanya kepada ayobandung saat ditemui di tokonya, Jalan  Cibaduyut Raya.

Bukan hanya itu, proses yang panjang pun membuatnya menjadi mahal. Proses dari kulit mentah menjadi kulit siap pakai bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu. Ditambah dengan proses produksi menjadi sebuah produk jadi.

Membeli kulit juga biasanya tidak bisa per meter layaknya kulit sintetis. Umumnya, kulit dijual per lembar dengan hitungan square feet atau per kaki. Di Toko Prima, untuk kulit sapi mereka menjual dengan harga 40 ribu rupiah per kaki. Sementara untuk satu lembar biasanya berukuran 20 kaki.

“Tapi biasanya kan kulit dijual per lembar dan harga disesuaikan dengan ukuran sapinya,” tambah Agus.

Meski kerap menjual kulit sapi per lembar, tetapi tempat ini juga menawarkan kulit dengan harga yang lebih murah. Misalkan ada kulit yang terpotong ketika proses pencelupan, bisa mereka jual dengan harga 15 ribu rupiah hingga 35 ribu rupiah. “Potongan kulit ini masih bisa digunakan, bahkan untuk membuat sepatu,” katanya.

Agus menambahkan, sebenarnya mahal tidaknya kulit tergantung dari kualitas kulitnya sendiri. Untuk kulit sapi bisa lebih mahal dari kulit domba karena lebih tebal ketimbang kulit domba. “Dan kulit sapi import bisa lebih mahal daripada kulit sapi lokal, karena kulit sapi import ketebalannya lebih stabil ketimbang sapi lokal,” pungkasnya. (Mega)

 

 

 

 

Editor: Mega Anggraeni

artikel terkait

dewanpers