web analytics
  

Garam, Bikin Masyarakat Desa Banyak Terkena Hipertensi

Senin, 6 Juli 2015 21:55 WIB Editor Ayobandung
Gaya Hidup - Sehat, Garam, Bikin Masyarakat Desa Banyak Terkena Hipertensi, garam, hipertensi, masyarakat, pedesaan,

ilustrasi (https://www.deherba.com)

 

Bandung- Hipertensi bukan hanya menyerang warga perkotaan, namun juga perlu di ketahui sampai masyarakat pedesaan. Hal tersebut dikarenakan hipertensi hingga saat ini masih merupakan salah satu masalah besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia karena tingginya konsusmis garam.

“Perlu adanya kesadaran dari masyarakat mengenai bahaya penyakit ini, diantaranya adalah dengan menerapkan pola hidup yang sehat sebagai tindakan pencegahan hipertensi,” seperti diungkapkan Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unpad Yulia Sofiatin, dr., SPPD seperti dikutip dari unpad.ac.id, beberapa waktu lalu.

Ia  mengungkapkan, berbagai penelitian sebagai upaya pencegahan hipertensi telah dilakukan Unpad, khususnya melalui Pusat Studi Kesehatan dan Kebugaran Komunitas (Community Health and Wellness) FK Unpad yang saat ini diketuai oleh Prof. Rully M. A. Roesli, dr., SpPD-KGH, PhD. Salah satu penelitiannya adalah mengenai pengendalian asupan garam di masyarakat.

“Karena garam itu sudah terbukti banyak berperan pada hipertensi,” tuturnya.

Fokus penelitian dilakukan di Jatinangor, yakni di Desa Cipacing, Cilayung, dan Hegarmanah. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa asupan garam masyarakat disana sangat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada rata-rata asupan garam Indonesia. Angka kejadian hipertensi pun tinggi disana.

“Kalau hasil penelitian hipertensi di Indonesia itu prevalensinya sekitar 27%, di Jatinangor kita temukan hampir 39%,” ungkap dr. Yulia yang kini bertindak sebagai Koordinator Penelitian Hipertensi di Pusat Studi tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat ternyata masih banyak yang belum sadar bahwa ia sudah terkena hipertensi. Penderita hipertensi yang sudah sadar akan penyakitnya pun belum banyak yang berobat. Jika pun berobat, hanya sedikit yang terkontrol. “Yang terkontrol dan berobat cuma 4% dari keseluruhan penderita hipertensi,” ungkapnya.

Didapat hasil pula, masyarakat desa ternyata memiliki potensi hipertensi lebih tinggi daripada masyarakat kota. Hal tersebut sesuai dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, bahwa penderita hipertensi justru paling banyak dialami oleh orang di pedesaan. “Jadi bukan hanya orang kota sebetulnya yang harus dikasih tahu tentang hipertensi. Di desa juga penting,” ujar dr. Yulia.

Lebih lanjut dr. Yulia mengungkapkan bahwa masyarakat, terutama masyarakat desa masih banyak yang belum paham mengenai pola makan sehat. Selain tinggi garam, masih belum banyak masyarakat yang menyadari pentingnya makan buah dan sayuran. Selain itu, faktor pemicu risiko hipertensi lainnya adalah merokok, kurang olah raga, stres, genetik, dan kegemukan.

Salah satu metode dalam pengukuran asupan garam yang dilakukan oleh timnya adalah dengan mengukur ambang rasa asin yang kemudian dihubungkan dengan pengeluaran garam dari urin. Hasilnya, ada hubungan baik antara kedua hal tersebut. Semakin tinggi ambang rasa asin seseorang, ternyata semakin tinggi pula asupan garamnya yang diketahui dari hasil urinnya.

Untuk itu, ia dan timnya terus berupaya melakukan tindakan preventif atas penyakit ini. Salah satunya, yaitu dengan memberikan edukasi pada masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai bidang ilmu di Unpad. “Inginnya sih hasil penelitian kami bisa bermanfaat untuk masyarakat. Kita mau cari pola dan model prevensi yang paling efektif yang mana, pola pencegahan yang paling efektif yang mana. Kalau ini sudah ketemu dan bisa menurunkan angka hipertensi, kita sudah sangat senang,” harapnya.(*/yatti)

Editor: Editor Ayobandung

artikel terkait

dewanpers