web analytics
  

Ini Rumah Angklung Ala Mahasiswa ITB untuk Anak Jalanan

Kamis, 2 Juli 2015 12:20 WIB
Umum - Regional, Ini Rumah Angklung Ala Mahasiswa ITB untuk Anak Jalanan, itb, mahasiswa itb,kembangkan, rumah angklung, house of angklung

ALIKASI: Salah satu ang akan dikembangkan Lydia adalah aplikasi HoA.(itb.ac.id)

 

Bandung- Angkung yang merupakan milik Jawa Barat memang perlu terus di kembangkan dan dilestarikan, hal itulah yang akhirnya membuat dua mahasiswa dari ITB dan ITS ini menciptakan "House of Angklung Surabaya (HoA)".

Tapi jangan bayangkan jika di Rumah Agkung ini semuanya bersi angklung, namun rumah angkung yang dimaksud adalah rumah angklung untuk anak jalanan.

“HoA Surabaya ini adalah bentuk sanggar ekspansi dari komunitas angklung Surabaya yang didirikan pada 2013 lalu. Dengan mengusung tema "Spread the Culture, Leverage the Education" diharapkan HoA Surabaya bukan hanya dapat menyebarkan kesenian Jawa Barat di daerah lain,” ujar Lydia Ignacia pendiri HoA yang merupakan mahasiswa Teknik Kimia 2011, Kamis(2/7/2015).

Berawal dari rasa cinta terhadap alat musik tradisional Jawa Barat, yakni angklung, Lydia bersama temannya mulai menginisiasi HoA Surabaya. Dengan memberikan inspirasi untuk anak jalanan.

"Ini menjadi wadah bagi mereka yang mencintai angklung sekaligus memiliki niatan untuk berbagi kepada sesama, mengingat target utama dari angklung adalah anak jalanan yang putus sekolah untuk diajarkan supaya dapat bermain dan sekaligus menjadi pengajar angklung," jelas Lydia.

Lydia menerangkan bahwa sekarang ini sudah lebih dari 60 anak jalanan yang aktif dalam HoA Surabaya ini. "Baru-baru ini HoA Surabaya melangsungkan dua acara, yakni FTI Fun days ITS serta ASEAN Youth Collaboration Festival (AYCF) 2015 di Mojokerto," jelas Lydia.

Selain upah yang diterima dari pertunjukan yang ditampilkan di Universitas, anak-anak di HoA Surabaya juga dapat berinteraksi secara langsung dengan mahasiswa dan rektor dengan tujuan untuk menumbuhkan motivasi untuk terus melanjutkan studinya hingga tahap perguruan tinggi. Berbeda dengan luaran pada acara AYCF yang juga mengikutsertakan partisipan dari luar negeri, selain untuk empowering anak-anak, acara ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan angklung ke warga luar Indonesia.

"Dalam HoA Surabaya juga kami berusaha menerapkan aspek wirausaha dengan cara menjual angklung dalam bentuk alat musik maupun souvenir yang dihiasi dengan desain batik," tutur Lydia.

Keunikan lain dari HoA Surabaya dibandingkan rumah angklung lainnya adalah sekarang ini HoA Surabaya sedang  mengembangkan website serta aplikasi pada smartphone untuk memudahkan konsumen dalam membeli produk-produk yang diproduksi pada HoA Surabaya.

"Nantinya keuntungan yang diperoleh hasil manggung, proyek, dan penjualan akan digunakan untuk beasiswa anak-anak yang terlibat di HoA Surabaya ini supaya mereka dapat tetap mengenyam pendidikan yang layak sehingga walaupun kegiatan ini terbilang simpel namun tetap impactfull," jelas Lydia.

"Belajar mengembangkan diri, terbuka terhadap hal-hal baru, dan berkontribusi bagi sekitar memang merupakan sebagian dari target saya. Saya percaya bahwa kepuasaan dan kebahagiaan yang uta juga mengantarkan Lydia ke ajang internasional dan meraih penghargaan di ajang Social Venture Challenge (SVC) 2015 yang dilangsungkan di Goyang-City, Korea Selatan beberapa waktu lalu.

Kompetisi SVC yang digagas oleh sebuah Organisasi Non-Pemerintah di Amerika Serikat bernama Resolution Project merupakan bagian terintegrasi dari rangkaian acara Harvard World Model United Nations 2015 yang diikuti oleh 2400 mahasiswa dari ah Angk118 negara. Selain sebagai mahasiswa ITB, Lydia juga membawa nama Djarum Foundation sela sponsor dan mentor dalam kompetisi ini.(*/yatti)

 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Editor Ayobandung.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers