web analytics
  

Jatuh di Jerman, Dahlia Terpaksa Ujian SBMPTN di Ruang Dipabel

Selasa, 9 Juni 2015 12:00 WIB
Umum - Regional, Jatuh di Jerman, Dahlia Terpaksa Ujian SBMPTN di Ruang Dipabel, sbmptn, panlok bandung, dahlia,dipabel,itb

JATUH:Dahlia terpaksa mengikuti ujian di ruang khusus karena ia terjatuh di Jerman, ada 22 orang peserta SBMPTN dengan kebutuhan khusus di SBMPTN lokal Bandung.(yatti/ayobandung)

 

Bandung-  Dahlia Natalia 20 Tahun tak menyangka jika hari besarnya mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri(SBMPTN) harus dilalui dengan duduk di ruang khusus dipabel. Ruang khusus untuk para dipabel ini memang disediakan oleh Panitia SBMPTN Lokal Bandung untuk mempermudah mereka yang memiliki kebutuhan khusus dalam pelaskanaan ujian SBMPTN.

“Saya baru pulang dari Jerman, jatuh disana kaki jadi bengkak. Ini juga baru pulang kemarin, Senin(8/9) baru sampai Indonesia dari Jerman langsung ikut ujian SBMPTN, jadi minta tempat khusus saja soalnya engga kuat kalau nyari ruangan lagi,” ujar gadis asal Kalimantan ini yang ditemui disela istirahat ujian SBMPTN di Gedung Labtek V ITB, Jalan Ganesca, Selasa(9/6/2015).

 Ia mengatakan dirinya memang sudag dua tahun tinggal di Jerman, namun keinginan orang tuannya agar ia kembali ke Indonesia untuk mengikuti seleksi SBMPTN. “Saya di suruh pulang sama mama dan papa ke Indonesia, disuruh kuliah di Indonesia saja. Saya langsung dari Jerman belum sempat pulang ke Kalimantan dan bertemu orang tua,” ujar gadih berambut merah ini.

Karena kajadian itu Dahlia pun mereasa puas bisa mengikuti ujian dengan fasilitas khusus  yang disediakan panitia. “Ya sudah yang penting saya bisa ikut ujian,” tuturnya yang memilih jurusan Arsitektur ITB ini.

Sementara Evin Damayani 18 Tahun, alumni SMAN 1 Bandung ini mengaku sebetulnya ia tidak memerlukan pendamping dan ruangan khusus. Meski ia adalah tuna daksa, namun Evin sapaan akrabnya sangat sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri.

“Sebetulnya saya tidak perlu didampingi juga tidak apa-apa, tapi karena panitia disini meminta saya untuk mendapat pendampingan dan fasilitas khusus ya sudah . Saya di sekolah juga semua sudah dilakukan sendiri kok,” ujarnya yang ditemui ayobandung usai mengikuti ujian SBMPTN sambil tersenyum.

Evin sendiri memilih jurusan Psikologi Unpada dan Psikologi UPI karena ia sangat ingin mengenal karakteristik orang. “Saya memang ingin mengenal karakteristik semua orang seperti apa jadi saya memilih Psikologi,” paparnya.

SBMPTN Panlok Bandung sendiri diikuti oleh 22 peserta berkebutuuhan khusus yang terdiri dari 2 tuna wicara, 10 tuna netra, 8 tuna rungu, dua tuna daksa. (yatti)

 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Editor Ayobandung.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Yatti Chahyati

artikel terkait

dewanpers