web analytics
  

Euforia KAA Dalam Bingkai Foto

Senin, 8 Juni 2015 17:28 WIB Editor Ayobandung
Bandung Raya - Bandung, Euforia KAA Dalam Bingkai Foto, pameran foto, kaa, bandung

KAA DALAM FOTO: Pameran foto tentang euforia KAA ini diselenggarakan di gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK).(danny/ayobandung)

 

Bandung- Ada yang menarik di sudut Jalan Naripan Bandung. Tepatnya di dalam Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Jajaran foto beraneka warna berjajar rapi.  Sebagian lagi tergantung di atas dinding putih. Semua hasil jepretan kamera yang menghiasi gedung tua itu, bercerita tentang Konferensi Asia Afrika.

Nuansa KAA langsung terasa ketika memasuki ruang depan Gedung YPK. Foto-foto dari rangkaian kegiatan 60 Tahun KAA pada awal April lalu langsung menyambut para tamu yang datang ke pameran.

Sebagian karya merupakan hasil jepretan para pewarta foto.  Kala mereka harus bertugas dan bertanggungjawab mengirimkan foto-foto rangkaian kegiatan KAA kepada medianya masing-masing, para pewarta ini juga menyisihkan sebagian hasil jepretannya untuk dipamerkan.

Nuansa modern terlihat dari jepretan gambar para pewarta foto ini. Warna yang muncul dari jajaran foto-foto itu tampak cerah. Objek yang mereka abadikan pun bukan kegiatan inti KAA, tetapi eouforia warga Bandung tengah menikmati suasana Jalan Asia Afrika, yang sudah dipermak total oleh sang Walikota.

Ada juga foto yang menggambarkan sosok Presiden RI ke tujuh, Joko Widodo selama gladiresik KAA hingga perayaan 60 Tahun KAA di Jalan Asia Afrika.

Sementara di bagian sudut kanan ruang depan Gedung YPK, terdapat sepuluh karya foto dengan nuansa klasik. Warna hitam dan putih mendominasi sudut itu. Objek yang ada dalam bingkai foto pun memperkuat nuansa KAA pada tahun 1955. Ada Soekarno yang sedang menyambut para istri delegasi India, para penerima tamu yang mengenakan kebaya lengkap dengan sanggulnya berpose kaku di depan Gedung Pakuan, hingga Seokarno yang tengah memperkenalkan Gunung Tangkuban Perahu, sebagai salah satu objek wisata di Bandung.

Foto-foto “jadul” itu adalah karya seorang pewarta foto senior, Inen Rusnan. Berdasarkan ceritanya, Inen mengabadikan moment KAA pertama itu dengan menggunakan tustel.

Inen bukan satu-satunya pewarta foto senior yang menyumbangkan karyanya untuk pameran yang digagas oleh Wartawan Foto Bandung (WFB).  Ada juga Paul Tedjasurya yang menyumbangkan lima karya yang diambil pada tahun 1955 itu.

Menurut salah satu pewarta foto asal Bandung, Dede Arif, kesepuluh foto karya Inen dan Paul sudah didigitalisasi. Hasil digital itulah yang kemudian diproses dan dicetak ke dalam ukuran 24R, seperti foto lainnya.

“Karena jaman dulu kan ngga ada kamera digital, fotonya juga masih memakai tustel. Makanya perlu digitalisasi,” katanya kepada Ayo Bandung.

Lewat pameran yang berlangsung selama seminggu sejak Minggu (7/6105), WFB berusaha mengolaborasikan momen KAA sejak tahun 1955.  Bukan itu saja, WFB juga seolah mengajak para tamu untuk mengembangkan imajinasi dengan membandingkan foto masa lalu dan masa kini.

Perayaan KAA ke-60 diarayakan dengan ingar bingar. Pesta dan sukacita terlihat dari ke-60 foto yang sudah melewati tahap kurasi. Kemewahan terlihat selama rangkaian kegiatan KAA yang menghabiskan waktu selam lebih dari dua hari.

Sementara foto perayaan KAA tahun 1955 terlihat lebih sederhana. Tidak ada ingar bingar dan kehebohan warga Bandung di sekitar Jalan Asia Afrika. Yang ada hanya foto sang Presiden pertama dan beberapa delegasi.

Meski menyajikan gambar-gambar menarik, sayangnya pameran yang digelar untuk menyambut 60 Tahun KAA ini tidak dilengkapi dengan keterangan yang menarik. Banyak keterangan yang dibuat seolah hanya sebagai salah syarat saja.(mega)

                                                                                                                            

 

Editor: Editor Ayobandung

artikel terkait

dewanpers