web analytics
  

Buang Sial, Sepak Bola Kudu di Ruwat

Selasa, 2 Juni 2015 18:31 WIB
Persib - Maung Bandung, Buang Sial, Sepak Bola Kudu di Ruwat

RUATAN: Tiga seniman asal Bandung sedang melakukan ruatan untuk buang sial pesepakbolaan Indonesia. (Iqbal/ayobandung)

 

Bandung - Ruwatan atau salah satu upacara tradisional untuk meminta terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan supaya kedepannya bisa hidup lebih sejahtera dan bahagia, dilakukan oleh tiga seniman asal Bandung. Tisna Sanjaya, Mbah Enjum dan Mbah Nanu, adalah pelaku aksi ruwatan, ketiga seniman asli Bandung itu  melakukan ruatan di depan patung sepakbola, Jalan Tamblong, Kota Bandung, Selasa(2/6/2015).

 “Ruwatan ini dilakuan agar Indonesia lepas dari kesialan nasib buruk akibat kasus kisruh sepakbola Indonesia yang berujung sanksi yang dikeluarkan oleh FIFA,” ujar Mbah Nanu sebelum ritual ruatan.

 Mbah Nanu menyebut apa yang terjadi pada dunia sepakbola Indonesia merupakan dampak dari sikap penguasa terutama Menpora, Imam Nahrawi yang keras kepala dan tidak menggubris pendapa orang lain.

 Dengan dalih memperbaiki sepakbola, Menteri Imam telah mengorbankan banyak hal terutama sepakbola yang merupakan olahraga terpopuler di dunia ini.

 "Menpora itu keras kepala. Itu terbukti dengan dibekukannya sepakbola Indonesia. Dia tidak mepunyai perasaan, bagaimana nasib orang-orang yang mencari makan dari bola. Saya dengan di Jatim ada pemain bola yang jadi tukang es. Menyedihkan," tuturnya disela-sela aksi.

 Menurutnya seharusnya Menpora bisa bersikap bijak dan melakukan pembenahan bukan dengan cara pembekuan. "Ibarat anak nakal, orang tua memberikan nasehat bukan dimasukan ke bui kaya ini. Cari solusi yang baik. Kaya orang pinter hanya di meja saja bukan di lapangan," jelasnya.

 Sementara itu salah satu seniman lainnya, Tisna Sajaya menuturkan aksi ini merupakan salah satu bentuk protes kepada pemerintah yang tidak becus mengurusi sepakbola yan menjadi kegemaran kebanyakan masyarakat Indonesia.

 "Kawan-kawan disini peduli betul dengan berbagai konflik baik bencana, gembira, rasa syukur kepada Allah dengan berbagai cara. Untuk kali ini kita sedih dengan nasib sepakbola Indonesia yang kena banned oleh FIFA," bebernya.

 "Kita berdoa semoga bentuk solidaritas kita kepada masyarakat sepakbola Indonesia dengan kejadian pahit akan maju usai konflik ini selesai," ucap dosen ITB ini.(bal)

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Editor Ayobandung.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Yatti Chahyati
dewanpers