web analytics
Cara Membicarakan Topik Bunuh Diri dengan Penderita Gangguan Mental
pada 11 Jun , 2018 | 10:30 WIB
Cara Membicarakan Topik Bunuh Diri dengan Penderita Gangguan Mental
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Selama sepekan belakangan, dunia dikagetkan oleh kabar meninggalnya dua tokoh publik. Desainer fesyen Kate Spade dan koki Anthony Bourdain ditemukan tewas. Miris, keduanya tewas lantaran bunuh diri.

Kematian itu mengingatkan kita bahwa masalah kesehatan mental tak pernah pandang bulu. Ia bisa menyerang siapa saja, termasuk seorang jutawan yang hidup serba berkecukupan sekalipun.

Penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menemukan bahwa tingkat bunuh diri mengalami peningkatan. Angka bunuh diri meningkat lebih dari 25% sejak tahun 1999. Hal yang mengkhawatirkan, sebanyak 54% kematian akibat bunuh diri tak diketahui gangguan kesehatan mental apa yang melatarbelakanginya. Ini menjadi bukti bahwa kesehatan mental masih dianggap tabu dan belum sepenuhnya disadari oleh semua orang.

Diperlukan adanya pola dialog yang lebih efektif seputar kesehatan mental. Tak perlu susah-susah untuk berkonsultasi dengan dokter, seseorang dengan gangguan mental bisa berbicara tentang apapun yang dirasakannya pada orang lain, bisa teman, keluarga, atau pacar. Ini bisa membantu seseorang untuk terhindar dari ancaman bunuh diri.

Sejumlah ahli berbagi tentang cara membicarakan topik bunuh diri bersama seseorang dengan gangguan mental. Satu obrolan bisa menyelamatkan kehidupan. Apa saja? Berikut melansir Huffington Post.

 

Sadarilah bahwa tindakan menyakiti diri sendiri bisa terjadi pada seseorang yang Anda kenal

Banyak orang percaya bahwa bunuh diri merupakan topik yang menyedihkan dan tabu untuk dibicarakan. “Cara terbaik untuk berbicara tentang bunuh diri adalah terbuka dan jujur. Orang sering takut dengan kata itu (bunuh diri),” ujar Direktur Eksekutif Suicide Awareness Voices of Education, Dan Reidenberg.

Kenyataannya, tingkat percobaan bunuh diri dan tindakan menyakiti diri sendiri punya persentase lebih tinggi daripada kasus bunuh diri itu sendiri. Reidenberg mengingatkan bahwa bunuh diri bukan hanya masalah orang lain, tapi masalah kita semua.

Ketahuilah bahwa bicara tentang bunuh diri tidak akan memperburuk keadaan

Berbicara tentang bunuh diri akan membantu permasalahan, bukan memperburuknya. “Saran yang paling penting adalah memiliki percakapan yang penuh perhatian,” ujar Wakil Direktur Aliansi Aksi Nasional untuk Pencegahan Bunuh Diri, Colleen Carr.

“Sebaliknya, berbicara secara terbuka tentang pikiran dan perasaan ingin bunuh diri dapat meningkatkan harapan dan membantu seseorang menuju pemulihan,” ujar Carr.

Posisikan topik obrolan bunuh diri sama dengan topik kesehatan lainnya

Bicara tentang topik bunuh diri sama dengan obrolan mengenai kondisi kesehatan lainnya. Jika membicarakan masalah kesehatan lainnya tidak dirasa memalukan, maka topik bunuh diri juga harus diperlakukan dengan pertimbangan yang sama.

“Kita harus bisa berbicara tentang bunuh diri dengan cara yang sama seperti kita bicara soal diabetes,” kata Reidenberg.

Bersikap terbuka tentang pengalaman sulit yang seseorang alami

Bunuh diri adalah masalah kompleks dan bukan disebabkan oleh faktor tunggal. Banyak hal yang mendorong munculnya perasaan ingin mengakhiri hidup.

Jika Anda tahu bahwa seseorang sedang mengalami masa sulit, beri tahu mereka bahwa Anda sadar dan peduli. Obrolan bisa dilakukan dengan percakapan seperti “Apa yang kamu lakukan untuk melewati krisis ini?” atau “Kamu tak seperti biasanya, apa yang terjadi?”. Reidenberg memastikan bahwa percakapan-percakapan itu dapat sangat membantu seseorang terhindar dari ancaman bunuh diri.

Menjadi pendengar yang baik

Saat seseorang sudah mulai terbuka dan mau bercerita tentang masa krisisnya, maka penting bagi Anda untuk menjadi pendengar yang baik. “Ini sangat penting untuk menyampaikan kepedulian dan perhatian kepada mereka,” ujar Reidenberg. “Jika Anda benar-benar peduli, pastikan mereka tahu itu (kepedulian Anda).”

Tanyakan langsung soal keinginannya untuk bunuh diri

Victor Schwartz, seorang Kepala Petugas Medis The Jen Foundation, sebuah organisasi kesehatan mental, menyarakan untuk bertanya secara langsung soal keinginan bunuh diri seseorang. “Jika seseorang tampaknya berjuang melawan gangguan mental, tak apa-apa bertanya apakah mereka memiliki pikiran menyakiti diri sendiri,” katanya.

Tinggalkan bias moral

Perdebatan soal baik tidaknya bunuh diri tampaknya tak perlu lagi diperdebatkan. Semua bias harus ditinggalkan ketika berbicara soal topik hidup dan mati.

“Ketika berbicara tentang bunuh diri kepada seseorang yang ingin bunuh diri, tinggalkan bias dan keyakinan moral Anda di tempat lain,” kata Reidenberg. “Ini bukan saatnya untuk berkhotbah kepada seseorang yang tengah berjuang.”

Terima rasa tidak nyaman yang Anda dapatkan

Sedikit merasa tidak nyaman akan lebih baik daripada membiarkan seorang teman dekat tewas bunuh diri. “Terbuka untuk mendengarkan rasa sakit seseorang dan membantu mereka menemukan bantuan dapat menyelamatkan nyawanya,” ujar Schwartz. Tetaplah terbuka meski memang sangat tak mungkin untuk membuat percakapan tersebut berjalan normal.

Source: Huffington Post

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media

Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600