web analytics
Mengupas Asal Muasal Tugu Maung
Oleh Fathia Uqim, pada 22 May , 2018 | 05:23 WIB
Mengupas Asal Muasal Tugu Maung
Landmark anyar tugu maung yang berdiri di beberapa ruas jalan Kota Bandung. (Fathia Uqim/ayobandung).

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Munculnya landmark baru di Kota Bandung pada akhir 2017 telah menyita perhatian masyarakat. Apalagi kalau bukan soal gerbang kota bergaya artdeco di tiga ruas jalan utama dan berbagai tugu maung di beberapa pulau jalan.

Banyak orang yang cuek mengenai kehadiran patung ini. Namun, banyak pula yang mengkritik pemerintah soal bentuk maung yang tidak sepatutnya. Alasannya, tidak mirip maung, lebih mirip anjing laut.

Salah satunya Ai Nurhayati (56) warga Tegalega, Bandung. Dia mengaku sebagai masyarakat tidak tahu mengenai tujuan dibangunnya tugu maung tersebut.

“Mungkin sebagai simbol Kota Bandung yang punya ciri khas tertentu dan sebagai tanda pengenal sebuah jalan. Positifnya, di tugu tersebut jadi dibuat penerangan juga. Dampaknya jadi mengurangi kecelakaan,” katanya kepada ayobandung.com belum lama ini. 

Ai kecewa ketika tugu tersebut hadir di Tegalega. Lantaran maung tersebut justru seperti anjing laut. Maraknya warga yang protes mengenai bentuk maung berakhir dengan penggantian maung baru yang lebih baik pada bulan Januari 2018.

“Jadi akhirnya diganti dan ini lebih mirip daripada yang waktu itu,” kata Ai.

Kemudian Undang (63), salah satu warga Tegalega yang kerap mengamati pembangunan tugu maung, menilai tugu maung yang hadir di jalan Tegalega bermakna tim sepak bola kejayaan Bandung, yakni Persib. Lebih dari itu, sejak dulu Bandung baginya memiliki ciri khas maung.

“Saya cuma tahu satu aja,  intinya tugu tersebut adalah kenangan permainan Persib sebagai Maung Bandung,” ujarnya.

Sebelum tugu maung berdiri, pulau taman lebih dulu hadir di Tegalega. Beberapa bulan kemudian, tepat di bulan Oktober, pemerintah Kota Bandung mendirikan tugu maung di atasnya. Undang pun menilai sebelumnya maung tersebut tidak serupa dengan yang sesungguhnya. Setelah ada perbaikan, Undang masih mengkritik soal warna maung itu.

“Sebenarnya setelah diganti juga menurut saya seharusnya kuku maung diberi warna, kemudian lidah maung harusnya berwarna merah,” ungkapnya.

Kabid Pemanfaatan Dinas Tata Ruang Kota Bandung Angkat Bicara

Kepala Bidang Pemanfaatan Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bandung, Agus Hidayat mengatakan, pekerjaan seksi dekorasi kota di bawah bidang pemanfaatan ini penuh dengan pro dan kontra. Pasalnya, dekorasi adalah ranah yang menimbulkan subjektivitas.

“Kita membuat A, pasti tidak semua orang suka. Membuat B, dikritik juga. Sebab masyarakat  memandang secara subjektif,” katanya kepada ayobandung.com  saat ditemui di Distaru beberapa waktu lalu.

Seksi dekorasi kota yang dibentuk awal 2017 baru mengerjakan proyek pertamanya, yaitu pembuatan tugu maung dan gerbang kota. Agus mengatakan, Distaru telah membuat tiga tugu maung di pulau jalan, dan tiga gerbang kota di ruas jalan.

“Tugu maung di pulau jalan berada di Katamso, Tegalega, dan Cihampelas. Serta tiga gerbang kota yang berada di ruas jalan terletak di Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Riau, dan Jalan Jend. Sudirman wilayah Jamika,” katanya.

Maksud pembuatan tersebut adalah sebagai  simbol kawasan Bandung kota lama. Hal itu juga sebagai penanda bahwa tugu atau gerbang kota lama adalah wilayah Bandung kota lama.

Soal maung, Agus menilai bahwa Bandung memiliki ciri khas Maung Bandung. 

“Sama seperti yang menempel di lampu jalan, kan ada maungnya juga,” ungkapnya.

Pembuatan tugu maung sempat memiliki banyak persepsi yang berbeda. Landmark tersebut dianggap tidak spesifik seperti maung. Kemudian, Agus mendengar masukan masyarakat yang ramai di sosial media. Pada akhirnya, Distaru mengganti 12 maung yang ada di tiga pulau jalan menjadi lebih terlihat seperti maung.

Hal ini adalah titah Wali Kota Bandung nonaktif, Ridwan Kamil. Semua perencanaan dan gambar sudah melalui saran dan asistensi panjang antara Distaru dan wali kota. Malah, ada penambahan tugu maung yang dilakukan Kang Emil ke berbagai taman pulau.

“Itu bukan pekerjaan Distaru. Ada penambahan tugu maung sebanyak 8 buah yang dilimpahkan kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP),” ungkap Agus.

Agus menilai, penambahan yang dilakukan oleh Kang Emil ini dimaksudkan supaya batasan Bandung kota lama lebih jelas lagi.

Hingga saat ini, plakat peresmian tugu maung belum ditandatangani. Agus mengaku tidak ada sosialisasi terhadap tugu dan gerbang kota yang dibuat sejak Oktober sampai Desember 2017 itu.  

“Karena berbagai kesibukan serta Pak Wali, Wakil, dan Sekda sedang cuti, jadi belum diresmikan,” ujarnya.

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media

Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600