web analytics
Ini Inovasi Pertanian Ala Rindu
Oleh Mildan Abdalloh, pada 21 May , 2018 | 03:59 WIB
Ini Inovasi Pertanian Ala Rindu
Seorang warga berjalan di pematang sawah dengan latar belakang perumahan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis (5/4/2018). Maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri adalah salah satu penghambat swasembada pangan nasional. (Irfan Alfaritsi/ayobandung)
BUAHBATU, AYOBANDUNG.COM--Jawa Barat merupakan daerah penghasil pangan di Indonesia, bahkan ikon lumbung padi masih melekat sampai saat ini.
 
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 1, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, walaupun saat ini Jabar masih menjadi lumbung pangan, tapi jika tidak ada inovasi bukan hal tidak mungkin ke depan pangan akan menjadi masalah serius.
 
Jika pasangan Rindu (Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum) terpilih, Kang Uu mengatakan, pihaknya akan mengutamakan pembangunan dalam bidang pertanian.
 
"APBD untuk pertanian akan dijadikan prioritas ketiga setelah kesehatan dan pendidikan," tutur Kang Uu, Minggu (20/5/2018).
 
Dia menyebut dengan memprioritaskan anggaran bidang pertanian maka pertanian di Jabar akan terus meningkat.
 
"Sehebat apa pun pembangunan, kalau pangannya kurang, akan bahaya. Pemerintah harus menjaga jangan sampai masyarakat kosong perut, kosong iman, dan kosong dompet," ujarnya.
 
Anggaran untuk pertanian bisa dilakukan dalam pelbagai cara, seperti membangun SMK pertanian di daerah-daerah penghasil pangan.
 
Dalam hal ini Bupati Tasikmalaya dua periode tersebut memaparkan, ketika SMK pertanian dibangun di daerah sentra pangan, maka kualitas pertanian akan meningkat karena anak-anak sudah dikenalkan dengan dunia tani sejak usia sekolah, sehingga ketika sudah lulus akan menerapkan ilmunya secara langsung.
 
"Masalah yang terjadi hari ini adalah kurangnya anak muda yang mau meneruskan orang tuanya dalam bertani, makanya didorong dengan membangun SMK pertanian," imbuhnya.
 
Selain itu, petugas penyuluh pertanian akan dimaksimalkan untuk memberikan ilmu-ilmu bertani. Dia menjelaskan, saat ini pola pertanian di masyarakat masih menggunakan cara lama peninggalan leluhur yang secara teori kurang efisien.
 
Para penyuluh ditugaskan untuk melakukan moderenisasi pertanian di masyarakat, supaya lebih produktif dan efisien.
 
"Regulasi juga harus dibuat untuk melindungi sawah-sawah produktif," katanya.
 
Regulasi yang dimaksud menurut membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Sawah Abadi. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi sawah-sawah produktif dari laju pembangunan, seperti alih fungsi lahan menjadi industri atau perumahan yang saat ini masif terjadi di mana-mana.
 
Kang Uu melanjutkan intervensi anggaran juga dilakukan untuk pembangunan infrastruktur pertanian, baik itu membangun jalan ke sentra-sentra pertanian supaya biaya transportasi ringan, juga infrastruktur pendukung lainnya seperti pembangunan irigasi.
 
"Jangan sampai air dari hulu langsung masuk ke DAS (Daerah Aliran Sungai) besar dan langsung ke laut. Sebelum masuk ke sungai besar, harus dimanfaatkan untuk pertanian, makanya harus dibangun irigasi," ujarnya.
 
Dia melanjutkan masalah yang dihadapi saat ini adalah panjangnya rantai distribusi yang menyebabkan harga pasar tinggi, sementara petani tidak mempunyai untung besar. Dalam hal ini, memotong rantai distribusi bisa dilakukan dengan digitalisasi.
 
Jika terpilih, pihaknya akan membuat sebuah aplikasi yang memungkinkan petani bisa menjual langsung hasil pertaniannya ke konsumen. Dengan cara seperti itu, maka harga di pasar akan murah tapi petani juga bisa mendapat harga yang lebih layak dan menguntungkan.
Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media

Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600