web analytics
Ramadan, Kemana Perginya Para Clubbers?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 17 May , 2018 | 18:13 WIB
Ramadan, Kemana Perginya Para Clubbers?
Ilustrasi. (pixabay.com)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Layaknya kota tujuan wisata populer seperti Denpasar atau Yogyakarta, Bandung juga memiliki begitu banyak tempat hiburan malam yang eksotis. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mencatat setidaknya terdapat sekitar 280 tempat hiburan malam di Kota Bandung.

Namun, geliat para pemain malam Paris Van Java yang biasa memadati sekitar kawasan Tamansari, Setiabudi, Dago, dan Sudirman meski cuti sejenak. Alasannya karena Pemkot Bandung melarang seluruh tempat hiburan malam beroperasi selama bulan Ramadan. 

Larangan tersebut berlaku selama satu bulan, lebih tepatnya sejak tanggal 13 Mei hingga 18 Juni 2018 mendatang. Surat edaran terkait penutupan ruang usaha diberikan kepada pemilik bisnis klub malam, diskotik, pub atau bar, karaoke, spa hingga panti pijat dengan ketentuan tertentu. 

Pertanyaannya, kemana perginya para clubbers? Arena lantai dansa atau meja bar panjang yang biasa menjadi ruang eksistensi mereka harus beralih menjadi bangunan dengan pagar tertutup. 

Bar dan diskotik memang bukan tempat yang baik jika didatangi setiap hari, tapi beberapa pengunjung mengaku merasa kecanduan akan suasana eksotis serta kerasnya suara musik. 

ayobandung.com berkesempatan berbincang dengan beberapa pria yang mengaku sulit melepaskan kehidupan malamnya. Mario Putra adalah salah satunya. Pria kelahiran Bandung 31 tahun silam tersebut pergi ke salah satu bar di Jalan Sulanjana sebanyak tiga hingga empat kali dalam satu minggu.

"Kalau waktu Ramadan beberapa teman ada yang memilih 'insaf' dulu selama satu bulan. Bar juga tutup jadi mau ke mana. Tapi kalau saya lebih seneng bikin acara kecil privat yang penting tetep ngumpul," ujar Mario.

Mario menilai, sebagian besar temannya yang beragama Islam memilih untuk berhenti berkegiatan 'malam' selama bulan Ramadan. Ramadan mengubah banyak orang walau hanya sebulan.

"Ramadan memang sakti. Senakal-nakalnya orang biasanya jadi baik pas Ramadan. Apalagi di puasa hari pertama. Saya bukan Muslim tapi saya sangat menghormati Ramadan," ujar Mario.

Sementara Agus Muharam, bartender di salah satu bar yang berada di kawasan Jalan Dago mengaku begitu merindukan bulan Ramadan. Pasalnya, Agus dapat fokus beribadah selama satu bulan tanpa diganggu waktu bekerja. 

Lantaran penutupan tempat hiburan oleh pemerintah, maka sebagian bar di Bandung memilih meliburkan seluruh pegawainya. Namun, pihak pemilik tetap memberikan gaji penuh selama satu bulan, bahkan tunjangan hari raya.

"Aktivitas kerja berhenti satu bulan penuh. Sebenarnya saya bisa kerja sampingan lain. Tapi saya ingin diam istirahat dan beribadah sama keluarga. Itu momen yang langka buat saya," ujar Agus. 

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600