web analytics
Ilmuwan ITB Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 16 May , 2018 | 17:02 WIB
Ilmuwan ITB Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pandji Prawisudha yang tengah mengembangkan reaktor pirolisis. Sebuah alat yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. (Arfian Jamul/ayobandung).

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM--Indonesia tercatat menjadi negara kedua setelah Tiongkok sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Sebuah predikat yang tentu tidak membanggakan dan menyisakan beragam persoalan pelik dalam negeri.

Kemudian ragam kegiatan pencegahan berbentuk edukasi rajin digelorakan kepada masyarakat. Mulai dari seruan agar tidak membuang sampah di sembarang tempat hingga ajakan untuk mengurangi penggunaan plastik. 

Namun, perlu disadari bahwa perubahan budaya yang menyasar perilaku dan kebiasaan masyarakat senantiasa membutuhkan waktu  tidak sebentar. Solusi instan dibutuhkan seksama agar setidaknya dapat sedikit mengurangi persoalan dengan durasi cepat.

Adalah Pandji Prawisudha, seorang pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tengah mengembangkan sebuah alat bernama reaktor pirolisis. Dalam praktiknya, reaktor pirolisis dapat mengubah sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang menjadi bahan bakar minyak (BBM).

"Sebenarnya reaktor pirolisis merupakan alat yang sederhana dan banyak peneliti mengetahui tentang teorinya. Namun, kami memiliki masalah dengan sampah plastik. Jadi saya berpikir untuk mengembangkan teknologi yang tepat manfaat," ujar Pandji saat ditemui ayobandung.com di Laboratorium Thermodinamika ITB beberapa waktu lalu.

Definisi dari teknologi yang tepat manfaat adalah karena reaktor pirolisis memberikan solusi untuk dua permasalahan dalam satu proses pengerjaan. Solusi yang dimaksud adalah pemanfaatan sampah plastik dan ketersediaan BBM dengan harga terjangkau.

Sebenarnya plastik yang digunakan dapat berjenis apa saja selain dari Polivinil Khlorida karena memiliki risiko lebih tinggi jika dibakar. Sementara plastik berjenis polypropylene relatif lebih mudah dalam proses pengerjaan.

Pandji sendiri lebih memilih sampah plastik berbentuk bungkus mi instan, kopi atau teh saset, kemasan sampo, popok bayi serta lainnya karena dianggap tidak memiliki daya manfaat. 

Artinya, jika tidak dimanfaatkan maka ketiga jenis tersebut hanya akan berakhir sebagai sampah. Keterbatasan manfaat juga yang membuat jenis sampah tersebut tidak memiliki daya beli di pasaran.

"Saya menggunakan bungkus mi instan karena tidak ada harganya. Jadi tidak ada modal untuk bahan utama. Kami hanya menghitung biaya dari energi yang digunakan. Jadi harga minyak bakar yang dihasilkan dapat terjangkau," ujar Pandji.

Seperti diketahui harga minyak tanah berada di kisaran Rp13.000 untuk satu liter. Sementara minyak hasil proses reaktor pirolisis dapat dijual dengan kisaran hanya Rp5.000 per liter. Harga ekonomis dengan manfaat yang lebih besar.

Terlebih biaya untuk penelitian yang dilakukan Pandji terbilang sangat murah, yakni hanya berkisar di angka belasan juta rupiah. Padahal biasanya ITB perlu mengeluarkan anggaran hingga ratusan juta rupiah untuk setiap penelitian.

Adapun soal efektivitas penggunaan reaktor pirolisis berkisar di angka 60% hingga 70%. Pasalnya Pandji dapat menghasilkan sekitar 120 hingga 130 mililiter minyak bakar dari bahan dasar 200 gram bungkus mi instan. 

"Plastik memiliki idensitas rendah jadi tabung berukuran dua liter hanya dapat memuat 200 gram bungkus mi instan. Dari bahan tersebut dapat menghasilkan 120 sampai 130 mililiter minyak bakar dengan proses pemanasan selama dua jam," ujar Pandji.

Bentuk dari reaktor pirolisis terlihat begitu sederhana yang terdiri dari tabung, kondensor, pompa air akuarium, wadah plastik dan thermocouple. Semua elemen tersambung oleh pipa sebagai sarana pengalir gas hasil pemanasan.

Dalam prosesnya, sampah plastik akan mencair menjadi gas. Saat berada di dalam kondensor, gas akan mengalami pendinginan, sehingga berubah wujud menjadi minyak atau asap cair. 

Namun, sebelum semua proses tersebut berlangsung dalam reaktor pirolisis, sampah plastik lebih dulu dikecilkan menggunakan alat bernama hydrothermal. Layaknya reaktor pirolisis, hydrothermal juga memiliki bentuk yang sederhana.

"Reaktor pirolisis melengkapi fungsi hydrothermal yang membutuhkan panas. Jadi hydrothermal menggunakan hasil dari reaktor pirolisis. Secara teoritis itu lebih sustainable," ujar doktor lulusan Institut Teknologi Tokyo tersebut.

Pada dasarnya, Pandji hanya melakukan konversi plastik untuk kembali menjadi minyak. Dalam ilmu pengetahuan diajarkan bahwa plastik merupakan elemen yang berasal dari minyak bumi. 

Akan tetapi, plastik telah terkontaminasi dengan beragam zat lain. Hal tersebut dapat menghadirkan risiko tinggi jika minyak hasil reaktor pirolisis dijadikan bahan bakar kendaraan bermotor.

"Jadi minyak yang dihasilkan lebih ideal jadi pengganti minyak tanah ketimbang bensin untuk kendaraan bermotor. Kalau buat motor saya tidak berani dan sebaiknya jangan karena tidak sesederhana itu," ujar Pandji.

Kini status reaktor pirolisis masih dalam level laboratorium yang berarti berada di tingkat kesiapan teknologi (TKT) empat. Dinyatakan sudah siap digunakan oleh publik ketika berada di TKT enam.

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600