web analytics
Guru Rukman, Legenda Persib Berkebiasaan Unik dan Selalu "Bebeakan"
Oleh Anggun Nindita Kenanga Putri, pada 03 May , 2018 | 18:41 WIB
Guru Rukman, Legenda Persib Berkebiasaan Unik dan Selalu
Legenda Persib Bandung, Rukman. (Anggun/ayobandung)

SUKAGALIH, AYOBANDUNG.COM—Usianya memang tak lagi muda. Kerutan sudah sangat jelas terlihat di wajahnya. Begitu pula dengan rambutnya yang berwarna putih.

Tapi ingatannya masih cukup tajam. Mata-mata masih memancarkan semangat, dengan nada suara yang sangat berapi-api saat menceritakan kejayaannya di masa muda.

“Saya masih ingat waktu pertama kali saya bermain di lapangan,” ujar sang legenda Persib Bandung, Rukman membuka perbincangan bersama ayobandung.com, Kamis (3/5/2018).

Tidak banyak yang tahu, bila pria berusia 81 tahun ini merupakan salah seorang legenda Maung Bandung di tahun 1960-an. Sedikit sekali informasi tentangnya bila mencari tahu di internet.

ayobandung.com diterima Rukman dengan sangat ramah di rumahnya yang mungil dan penuh tanaman, tepatnya di wilayah Bandung timur.

Saat memasuki ruang tamu di rumahnya, tampak banyak foto saat Rukman masih berseragam Maung Bandung. Mulai dari berjuang melawan Persija, saat Persib menang lawan Persebaya, hingga rombongan PSSI bertandang ke Shanghai untuk menghadiri suatu acara.

“Ini waktu Persib menang lawan PSM 4-1 sekitar tahun 60-an,” katanya.

Rukman memulai karier sepak bola saat usia 20 tahun. Sebelum resmi diterima di Persib senior, dia pernah membela tim Persib Junior selama satu tahun.

Masih sangat jelas diingatannya pertandingan pertama bersama Persib senior. Rukman yang masih remaja, saat itu baru pulang dari Garut. Tak disangka dia mendapatkan kabar mengejutkan karena berhasil dipanggil ke tim senior.

“Saya waktu itu enggak ada persiapan apa-apa. Cuma bawa satu ransel terus langsung disuruh datang ke kantor Persib yang ada di Jalan Gurame,” katanya.

Begitu sampai kantor Persib, Rukman diminta staf pelatih untuk langsung bersiap-siap turun ke lapangan. Rukman yang masih jadi anak bawang, rupanya langsung disuruh membela Persib dalam pertandingan persahabatan melawan tim dari luar negeri, yakni dari Taiwan.

Sebagai anak baru, Rukman sempat merasa dipandang sebelah mata oleh tim lawan. “Apalagi waktu itu badan saya sangat kurus. Mungkin ceuk tim lawan teh, ‘Ah ieu mah budak leutik keneh,’ eh ternyata saya bisa menghalangi permainan mereka,” ujarnya.

Tahun 1957 merupakan tahun pertama membela Persib. Setelah itu, dia bersama Maung Bandung mengarungi kompetisi dengan melawan tim besar lainnya, seperti Persija, PSM, dan Persebaya.

Rukman bermain di posisi kanan luar, begitu sebutannya saat dulu. Kalau sekarang posisi bek sayap. Dengan posturnya yang cukup tinggi ditunjang dengan pergerakannya yang lincah, tak heran dia menjadi pemain yang berbahaya pada masanya.

Si Kobra, begitulah julukan Rukman saat itu. Pergerakannya memang gesit dan berbahaya bak ular kobra. Musuh pun dibikin keok.

Tapi di balik kesuksesannya di lapangan, Rukman punya kebiasaan unik. Ketika merasa permainan Persib tidak berjalan dengan lancar, dia akan minta izin ke pelatih untuk sebentar menepi ke sisi lapangan. Bukan untuk turun minum, tapi untuk mengganti sepatunya.

Konon dengan mengganti sepatu, bisa membuatnya bisa bermain lebih baik dan kembali berlari kencang saat di lapangan.

“Kebiasaan saya itu adalah ganti sepatu ketika permainan sudah mulai butut. Tapi anehnya itu tuh kaya semacam kebiasaan yang baik. Udahnya kita bisa bermain bagus lagi,” ungkapnya.

Kenangan Melawan Persija

Rukman menjadi salah satu saksi bagaimana rivalitas antara kedua tim besar ini bisa terbentuk. Tahun 1960-an, aroma permusuhan dari Persib versus Persija sudah terjadi di lapangan.

Dengan pergerakannya yang sangat cepat dan gesit, tak heran “Si Kobra” ini menjadi salah satu incaran pemain yang harus “dimatikan” oleh tim Macan Kemayoran.

“Dulu itu Persib lawan Persija sekitar tahun 1964. Kala itu di Jakarta ada koran yang mengatakan kalau Persija ingin menang lawan Persib, lumpuhkan dulu Rukman,” kenangnya.

Rukman tak gentar, meskipun mendapat serangan mental lewat tulisan-tulisan yang beredar di media cetak saat itu.

Dia tetap bertekad untuk membawa pulang kemenangan bagi Persib. Sayang, ketika pertandingan baru berjalan tiga menit, salah seorang pemain Persija menekel kakinya sehingga Rukman mengalami cedera yang cukup parah.

Ketika itu dalam regulasi kompetisi belum ada kebijakan penggantian pemain, meski ada pemain yang cedera. Lantaran saat itu banyak pemain Persib yang cedera, tim Maung Bandung pun harus takluk 2-1 atas tuan rumah.

Sedih dan kecewa tentu sangat dirasakannya. Tak terasa saat wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, air matanya pun menetes lantaran tidak bisa membuat timnya pulang membawa kemenangan.

Sejak saat itu, dia bertekad bakal bermain habis-habisan saat tim Maung Bandung bertemu kembali dengan tim Macan Kemayoran.

“Makanya saya seumur hidup berjanji kalau lawan Persija, eta mah kudu bebeakan,” ungkapnya.

Perjuangannya pun tak sia-sia, karena Rukman pada beberapa pertandingan selanjutnya berhasil ciptakan gol, bahkan sampai Persib menang 5-2 atas Persija.

“Kenapa saya bebeakan? Soalnya saya main make manah,” tuturnya.

Kecintaan Rukman Terhadap Persib

Rukman resmi gantung sepatu pada tahun 1973. Tapi itu tidak menyurutkan kecintaannya kepada sepakbola. Dia sempat menjadi pelatih di SSB di dekat rumahnya, sambil meniti karier sebagai seorang aparatur sipil negara (ASN). Kini Rukman menghabiskan masa tuanya dengan berbisnis.

Meski tidak lagi aktif sebagai pemain sepak bola, Rukman masih menjalin komunikasi dengan rekan-rekan satu tim yang seangkatan dengannya, seperti Emen Suwarman dan Max Timisela.

“Kalau Guru Emen mah sobat saya pisan atuh eta mah. Saya masih sering ketemu dia,” ujarnya.

Bersama dengan Guru Emen, Rukman masih sering diundang oleh manajemen Persib saat ada acara-acara besar, seperti saat launching tim atau silaturahmi akbar.

Bobotoh pun banyak yang masih mengunjunginya. Atas dedikasinya di lapangan, bobotoh pun kini menyebutnya sebagai ‘Guru Rukman’.

“Saya kadang suka terharu, bobotoh masih suka inget ke saya. Beberapa suka ke sini dan ngobrol banyak soal Persib,” katanya.

Bahkan sekelas mantan pelatih Persib, yakni Djajang Nurdjaman pun saat masih di Bandung, sering meminta saran dari Rukman soal permainan Persib. Bukan cuma Djajang Nurdjaman, mantan pelatih Persib Dejan Antonic pun pernah bertemu dengannya.

Menurutnya, Dejan memiliki kebiasaan yang sama dengan dirinya, yakni mengganti sepatu pemain saat dirasa performa di lapangan sudah mulai menurun.

Sudah tidak lagi aktif di lapangan, bukan berarti Rukman sudah tidak lagi melihat perkembangan Persib. Malah dirinya bangga dengan melihat komposisi tim Persib pada saat ini.

“Persib yang sekarang pemainnya itu lebih hebat, seluruh Indonesia itu sudah tahu. Hanya tinggal penempatan karakter ya. Kalau menurut saya mah tetep pemain Persib itu yang terbaik di Indonesia. Hanya tinggal kepintaran pelatih. Pelatih itu harus bisa membedakan lawan Persebaya harus bagaimana, lawan Persija harus gimana. Karena kan karakternya pasti berbeda,” ungkapnya.

Rukman yakni dengan komposisi tim saat ini Persib bisa menjadi tim yang kembali ditakuti. Tim Maung Bandung bakal berprestasi, asal ada satu hal yang menurut Rukman harus dilakukan.

“Main pakai hati. Jadi sesama pemain, dari pelatih ke pemain dan semuanya tuh saling terikat pakai hati. Semua pasti berprestasi. Saya yakin,” ucapnya.

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600