web analytics
Co-Working Space, Mak Comblang Para Pekerja Dinamis
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada 01 May , 2018 | 19:40 WIB
Co-Working Space, Mak Comblang Para Pekerja Dinamis
Suasana para pekerja di LO.KA.SI, Jalan Ir. H. Juanda, Bandung. (Eneng Reni/ayobandung)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Bekerja jarak jauh belakangan jadi tren anyar yang tumbuh di masyarakat. Utamanya, bagi mereka yang dekat dengan kehidupan kerja berbasis digital dan kreatif. Ini juga didorong oleh perkembangan teknologi dan munculnya konsep ruang kerja anyar yang disebut co-working space.

Co-working space sendiri merupakan sebuah tempat menyerupai kantor yang digunakan secara bersama-sama oleh pekerja dari lintas perusahaan. Ruang kerja bersama ini biasanya didukung oleh sejumlah fasilitas kerja seperti meja dan kursi, wifi dan lain-lain, persis seperti apa yang ada di kantor konvensional. Bedanya, kamu belum tentu bertemu dengan teman satu kantormu, tapi kamu akan berkenalan dengan pekerja-pekerja lain lintas perusahaan dan bidang.

Di Indonesia, fenomena ini mulai ramai beberapa tahun ke belakang. Sejumlah co-working space bermunculan di kota-kota besar, tak terkecuali di Bandung. Sebut saja CO&CO Space, Work@ Coworking Space, Ruangreka, Saklar dan sederet nama co-working space lainnya di Bandung.

Fenomena ini telah muncul sejak 10 tahun silam dan bermula di London, Inggris. Makin terbatasnya ruang kantor karena harga sewa yang mahal menjadi salah satu alasannya. Selain itu, perkembangan bisnis startup dan kreatif juga kelelahan banyak orang dengan pekerjaan yang mengikat juga menjadi penyebab.

Erdhy Suryadarman, pengelola LO.KA.SI, salah satu co-working space di Bandung, menyebut bahwa konsep ini tidak sesederhana pekerja datang, lalu membuka laptop, memakai headset dan menikmati internet kencang. Tempat ini sejatinya menjadi “ruang kerja” bersama banyak orang.

AYO BACA : Milenial Ubah Budaya Kerja dan Ruang Kantor Masa Kini

“Tidak sembarang orang bergabung dalam satu co-working space. Seseorang perlu punya pola pikir mau berkolaborasi. Sebab, hanya dengan itu konsep co-working space bisa berjalan,” kata Erdhy saat berbincang dengan ayobandung belum lama ini. “Itu yang saat ini coba ditawarkan bisnis co-working space. Bukan cuma masalah fasilitas saja.”

Co-working space, kata Erdhy, diharapkan menjadi titik temu para pekerja lepas atau pekerja kreatif yang bekerja secara remote untuk bisa memberikan manfaat positif. Maksudnya, kolaborasi bisa terbentuk di co-working space untuk kemudian memungkinkan adanya proses bertukar ide satu sama lain.

“Kalau saya menilai co-working space ini bukan seberapa fancy atau nyaman fasilitas kerjanya, tapi knowledge apa yang bisa didapat,” ujar Erdhy. Bisa jadi, jaringan yang didapat di masing-masing co-working space itu berbeda satu sama lain.

Ya, peluang relasi dan kesempatan berkolaborasi memang amat mungkin didapatkan di co-working space. Para pekerja dimungkinkan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Dari situ, diyakini akan banyak ide yang mengalir, yang tidak bisa ditemukan dengan hanya sekadar googling dari rumah atau kantor yang orangnya itu-itu saja.

Co-working space ini ibarat ‘mak comblang’. Banyak orang yang saling berkenalan di satu co-working space untuk kemudian melahirkan ide baru. “Saya harap LO.KA.SI bisa menjadi seperti itu,” kata Erdhy. Apalagi mengingat industri kreatif di Bandung yang bersifat individual. Adanya co-working space berimplikasi pada bangkitnya potensi-potensi kreatif yang ada di Kota Kembang.

AYO BACA : Pegawai Jangan Lupa Bahagia

“Meski budaya kerja anyar ini belum terbentuk 100%, tapi lambat laun Kota Bandung sedang mengarah ke sana,” kata Erdhy.

Eksistensi co-working space ini juga didukung oleh Rezki Ashriyana, seorang psikolog industri dan organisasi dari Universitas Padjadjaran, yang menyebut bahwa ruang kerja bersama bisa menjadi ‘sarang’ yang nyaman bagi pekerja industri kreatif.

“Konsep co-working memberikan ruang yang lebih bebas,” kata Rezki. Konsep ini jelas berbeda dengan kerja kantoran. Di kantor, pekerja bisa saja dengan mudah mendapat interupsi, baik itu dari atasan atau dari rekan kerja sendiri, Semakin banyak interupsi selama bekerja, produktivitas kerja seseorang akan semakin terbunuh.

Rezki menilai bahwa co-working space mengarah pada konsep work-life-balance. Budaya kerja santai yang ditemukan di co-working space, lanjutnya, bisa menjadi penyeimbang antara kesibukan pekerja zaman kiwari yang menggila dengan kebagiaan lahir batin.

Namun, Rezki menggarisbawahi bahwa konsep co-working space tentu tidak berlaku bagi semua jenis pekerjaan. Contohnya pegawai negeri sipil yang tidak mungkin bisa bekerja di co-working space. “PNS kalau kerja di sana bisa jadi enggak produktif,” katanya. Biasanya, konsep kerja serupa ini efekti bagi pekerja yang dinamis semisal entrepreneur, pekerja startup, pekerja kreatif dan lainnya.

Faktanya, meski budaya kerja kian dinamis mengikuti perkembangan zaman, tapi konsep kerja konvensional akan selalu eksis. Misalnya, perusahaan yang mewajibkan pegawainya datang ke kantor dari pagi hingga sore.

Kendati demikian, Rezki percaya bahwa kebebasan bekerja bisa datang dari mana saja. Dia memprediksi, konsep budaya kerja anyar ini akan menjadi sebuah tren besar dalam sepuluh tahun ke depan di Indonesia, saat teknologi semakin berevolusi.

“Saya selalu percaya kalau sumber ilmu bisa didapat dari mana saja, tak harus terkurung dalam ruangan berdinding. Dalam budaya kerja zaman sekarang dan ke depan, co-working space merupakan salah satu wadah yang ideal," pungkas Rezki.

AYO BACA : Godaan dan Nestapa Pekerja Kreatif

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Nmax Socmed Ayo Bandung 160x600