web analytics
Usaha Mengembalikan Arsip Fotografi Tanah Air yang Tercecer
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 16 Apr , 2018 | 20:58 WIB
Usaha Mengembalikan Arsip Fotografi Tanah Air yang Tercecer
Karya-karya foto komersil Indonesia dekade 1980-1990an yang dipamerkan di Rumah IPA, Bandung. (Arfial Jamul/ayobandung)

BOJONG KONENG, AYOBANDUNG.COM--Waktu dan keterbukaan arsip merupakan dua elemen yang paling dapat disalahkan bila sebuah cerita di balik sejarah hilang. Bukti dan saksi sejarah memang penting, tapi tanpa penjelasan arsip, kehadirannya hanya akan berakhir sebagai wacana simpang siur.

Tidak terkecuali dalam dunia fotografi komersial. Rekam jejak yang tidak terorganisir membuat arsip fotografi komersial Indonesia tercecer di beberapa belahan dunia. Di antaranya di Leiden, Belanda, Kodak Museum di New York, Amerika Serikat, serta para kolektor foto di Australia. Alasan itu pula yang menuntun dua pria asal Kota Bandung, Wahyu Dian dan Andang Iskandar, mendirikan Indonesian Photography Archive (IPA) pada akhir 2017 lalu.

"Misi utama dari IPA adalah mengembalikan dan mengumpulkan arsip fotografi komersial Indonesia yang tercecer di luar negeri. Kami akan berangkat ke Leiden bulan depan untuk mencoba mengembalikan arsip yang ada di sana," ujar Wahyu kepada ayobandung, Senin (16/4/2018).

Namun, masalah hadir ketika arsip yang dicari berada di tangan kolektor. Alasannya, kolektor tidak akan bersedia memberikan foto tanpa ada imbalan uang sepadan. Cerita berbeda bila foto ditemukan di museum, karena dapat dipindahkan atas dasar kemanfaatan.

"Salah satu kekurangan fotografi Indonesia adalah soal arsip. Sementara di luar negeri, masyarakatnya sangat sadar dengan arsip," ujar Wahyu yang pernah menjadi dosen fotografi di Universitas Pasundan Bandung.

Bukan hanya fokus pada arsip, IPA juga menjadi pusat penelitian dan sarana belajar fotografi. Arsip fotografi akan diolah menjadi bahan riset serta materi pembelajaran baru. 

Riset yang dilakukan IPA bersifat independen tanpa bantuan dari pemerintah atau lembaga swasta. Kampanye dilakukan sistemik melalui IPA Society yang berupaya penyadaran masyarakat terkait pentingnya sebuah arsip. 

Tidak jarang masyarakat berinisiatif memberikan karya fotografi lawas untuk kemudian dirawat dan dikelola oleh IPA secara berkala melalui beragam kegiatan seperti pameran atau publikasi.  

"Intinya IPA adalah platform connect dari arsip fotografi di Indonesia. Arsip adalah bagian dari cerita dan sejarah. Arsip adalah warisan. Ketika tidak ada warisan, lalu akan bercerita tentang apa?" ujar Wahyu.

Tujuan utama dari IPA adalah untuk mendirikan museum pertama di Indonesia yang memamerkan karya fotografer Tanah Air. Dalam museum yang direncanakan berada di Rumah IPA, Jalan Bojong Koneng Atas Kavling 75 nomor 87, Bandung tersebut akan disediakan perpustakaan, ruang diskusi dan arena pameran. 

"Cita-cita kami adalah membangun museum fotografi Indonesia setelah arsip berhasil dikumpulkan. Kami memilih jalan mandiri terlebih dahulu tanpa bantuan pemerintah," tutup Wahyu.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Nmax Socmed Ayo Bandung 160x600