web analytics
Minum Alkohol, Budaya atau Gaya Hidup?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 10 Apr , 2018 | 16:49 WIB
Minum Alkohol, Budaya atau Gaya Hidup?
Ilustrasi minuman beralkohol.(Pixabay)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Tidak kurang dari 41 bendera kuning pertanda duka berkibar di Kabupaten Bandung. Menyertakan catatan 100 pasien yang masih dirawat di tiga rumah sakit setempat. Penyebabnya hanya satu yakni minuman keras oplosan.

Fenomena miras oplosan memang tengah membuat Pemkab Bandung galau bukan kepalang. Bahkan Bupati Bandung Dadang Naser akan segera menetapkan status menjadi kejadian luar biasa. 

Pertanyaannya, kenapa miras oplosan begitu mudah beredar? Padahal pemerintah pusat telah memberlakukan pengawasan dan pengendalian terkait peredaran minuman beralkohol. Aturan dan sanki diberlakukan sistemik bagi setiap penyalahgunaan.

Jika ditelusuri lebih dalam, fenomena hadirnya miras oplosan bukan tanpa alasan. Tingginya harga minuman alkohol berlisensi tidak sepadan dengan tingkat konsumsi miras di Indonesia. 

Alhasil, lahir produsen minuman beralkohol skala rumahan yang memiliki harga jual terjangkau tapi dengan tingkat keamanan diragukan. Sementara bagi konsumen, kehadiran miras dengan harga murah tentu menjadi angin segar sehingga semakin mendorong minat tanpa pertimbangan mutu produk. 

"Sekarang ada bisnis baru dengan sebuah jaringan untuk membuat miras oplosan. Itu dinikmati bukan hanya oleh anak muda tapi juga semua lapisan masyarakat yang memiliki ruang nongkrong," ujar sosiolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sunyoto Usman kepada ayobandung.com, Selasa (10/4/2018).

Fenomena tersebut dapat terlihat dari hadirnya beragam produk miras lokal di setiap daerah yang menjadi citra kawasan setempat. Sebenarnya hal tersebut telah berlangsung sejak lama, tapi kekinian geliatnya semakin merajalela. 

"Bisa dilihat dari kehadiran produk miras khas lokal di setiap daerah. Itu merupakan indikasi dari adanya kebutuhan yang besar dari konsumsi minuman beralkohol semenjak lama," ujar Sunyoto.

Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol tidak hanya berbicara dalam ranah keinginan semata. Kehadirannya beralih menjadi gaya hidup urban yang mengandung unsur kebersamaan dalam aktivitas sosial. 

"Peminum alkohol tidak merasa bersalah. Soalnya miras telah menjadi gaya hidup. Itu berlangsung sudah sejak lama. Saya kira (penyebabnya) ada pada kurangnya kontrol terhadap miras. Sehingga keinginan dan peluang itu ada," ujar Sunyoto. 

Sejarah di Indonesia juga mencatat fenomena tersebut. Kerajaan Majapahit bahkan menggunakan minuman alkohol sebagai bagian dari perjamuan agung. Sementara Keraton Yogyakarta memiliki sarana khusus untuk minum bersama bernama Bangsal Sarangbaya.

Sedangkan untuk sebagian wilayah di Indonesia bagian timur, mengonsumsi minuman beralkohol telah menjadi budaya dalam ritual adat setempat. Ada yang menghidangkannya sebagai bagian dari ritual penyambut tamu hingga menjadikannya sebagai pengganti air mineral. 

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Nmax Socmed Ayo Bandung 160x600